Jika Vaksin Gagal & Memang Angka Keberhasilan Rendah

ilustrasi

Oleh : Brotosari Rahayu

#AntibodiVSVaksin

SARS-COV-19 BIKIN INFERTIL? JANG-JANGAN JUGA IMPOTEN
Semua tau ya kenapa paru menjadi organ pertama yang diserang covid-19?. Iyah, karena di paru banyak reseptor ACE2(Angiotensin converting enzymes 2), yaitu enzim(rantai asam amino) yang menempel pada permukaan membran sel paru tempat virus bisa nemplok, ikatan SARS-COV-2 pada reseptor ACE2 memfasilitasi virus masuk sel, jadi kayak pintu buat virus gitu, tros masuk sel paru & beranak pinak. Jadi sel-sel tubuh manusia yang mengandung kadar ACE2 tinggi menjadi target potensial virus untuk dirusak.

Ehmmm rupanya gak paru ajah yang punya ACE2, banyak organ tubuh mengandung kadar ACE2 tinggi, juga ada di sel-sel testis terutama di sel-sel duktus seminiferus, spermatogonia, sel-sel Leydig & Sertoli. Yang masih terus diteliti adalah apakah kerusakan testis disebabkan invasi virus langsung atau sekunder akibat respon immunologi & inflamasi. Nah kalau impoten hubungannya kemana, ya berhubungan lah, kan jadi pada stress seh karena infertil, jadi karena stress nya deh hehehehe. Balik ke judul yah, icebreaker ajah nih….

ANTIBODI PENETRAL
Immunologist sedang bekerja cepat untuk menemukan titer(kadar) antibodi penetral yang timbul sebagai reaksi infeksi COVID-19 & bisa bertahan berapa lama di dalam tubuh. George Kassiotis, immunologist dari The Francis Crick Institute London mengatakan kalau kadar antibodi penetral tinggi hanya untuk beberapa minggu & kemudian menghilang. Tapi para peneliti belum menemukan berapa kadar antibodi penetral yang dibutuhkan untuk melawan reinfeksi(serangan kedua dst) atau paling tidak menurunkan gejala-gejala pada serangan berikutnya dari SARS-COV-2.

Penelitian dengan jumlah sampel besar sedang dilakukan untuk mengetahui kadar antibodi, German melakukan survey dari sampling populasi, di Amerika Utara diambil 10.000 sample dari pemain & pegawai Major League Baseball, pada bulan April US National Institutes of Health mengambil 10.000 sampel dari COVID-19 Pandemic Serum Sampling Study.

Peneliti Clemens Wendtner di Schwabing Hospital di Munich German menemukan jika antibodi penetral hanya bertahan antara beberapa minggu sampai 3 bulan, serupa penelitian yang dilakukan di China pada 37 pasien asimptomatik & 37 pasien simptomatik yang hasilnya menunjukkan penurunan signifikan dari antibodi & mereka belum menemukan alasannya. Ini sangat berbeda dengan SARS-COV yang muncul tahun 2003 di China, dimana antibodi penetral bisa bertahan paling tidak selama 1 tahun.

Data penelitian vaksin, meskipun baru dalam jumlah kecil, vaksin COVID-19 memang cepat memicu pembentukan antibodi penetral sehingga dapat mencegah virus menginfeksi sel-sel. Tapi yang masih belum jelas apakah kadar antibodi yang terbentuk setelah divaksin cukup tinggi untuk menyetop re-infeksi atau sampai berapa lama antibodi bertahan.

Masalahnya ini berimplikasi pada pengembangan vaksin SARS-COV-2. Vaksin konvensional memakai versi virus yang dilemahkan/versi inaktif untuk menghasilkan respon immun & antibodi proteksi, sedangkan jenis baru dikenal sebagai vaksin DNA atau RNA, menggunakan informasi genetik virus.
Tapi jika antibodi natural akibat infeksi COVID-19 kadarnya menurun sangat cepat, berapa lama antibodi yang dihasilkan sebagai respon dari pemberian vaksin COVID-19 dapat bertahan? Memang penelitian ini baru pada kelompok kecil, diperlukan sampel besar, tapi gak enaknya penelitian pendahuluan ini menunjukkan tanda2 yang tidak menggembirakan alias bikin senep & mules.

KALAU TUBUH MENGHASILKAN ANTIBODI PASKA TERINFEKSI COVID-19, KENAPA MASIH PERLU VAKSIN?
Tau terapi plasma kan ya, kesulitan terapi plasma itu ada beberapa. Terutamanya memang mencari donor dari pasien yang sudah sembuh dari COVID-19, pada umumnya pasien-pasien ini cenderung menutup diri & ini bisa dimengerti. Tapi masalah lain adalah karena kadar antibodi di dalam tubuh pasien calon donor harus cukup untuk diambil. Karena tindakan terapi plasma ini juga justru diketahui kalau tidak semua pasien paska terinfeksi memiliki antibodi, artinya sudah menurun sampai menghilang dengan berjalannya waktu. Jadi susah cari donor plasma itu karena masalah antibodi ini.

Pemberian vaksin sebenernya sama dengan menyuntikkan virus, gunanya supaya sistem immun tubuh mengenali virus sehingga dapat membentuk antibodi, kalau mau baca apa itu vaksin bisa baca di http://www.trensehat.com/index.php…

Lalu apa bedanya antibodi yang terbentuk paska terinfeksi COVID-19 & paska injeksi vaksin COVID-19? Apakah antibodi yang terbentuk lebih banyak, lebih lama, sehingga melindungi tubuh dari paparan?. Yang jelas sih vaksin itu berisi virus yang sudah dilemahkan sedangkan virus menyerang dengan senjata lengkap wkwkwkk.

Begini lo, nyatanya penelitian tentang kadar antibodi akibat terinfeksi COVID-19 sedang berlangsung, begitu juga kadar antibodi setelah injeksi vaksin lewat uji klinik. Uji klinik fase 3 yang dilakukan banyak negara termasuk Indonesia mempunyai tujuan untuk mengetahui berapa kadar antibodi yang timbul paska injeksi vaksin sehingga nantinya dapat ditentukan berapa besar dosis yang dibutuhkan & berapa kali vaksin dalam setahun. Gampangnya begini, kalau antibodi penetral hanya bisa bertahan 3 bulan paska injeksi vaksin, berarti kita harus divaksin 4x dalam setahun, alamak janggg, ampooon.

KEMATIAN AKIBAT FLU TETAP TINGGI MESKIPUN VAKSINASI DILAKUKAN?
Ada 650.000 kematian/th akibat flu di dunia padahal vaksinasi flu rutin tiap tahun di negara2 4 musim terutama. Trus bagaimana kalau akhirnya COVID-19 berakhir seperti kasus2 ini? Ya, memang SARS-COV-2 akan jadi flu tahunan juga. Sepanjang sejarah timbulnya penyakit akibat virus atau bakteri, hanya penyakit cacar aja yang dapat dilenyapkan, sisanya masih tetap eksis. Dan bukan sekedar eksis tapi menyebabkan kematian dengan jumlah yang besar. Bahkan melihat kecenderungan bumi yang makin rusak, kok rasanya bakal banyak virus2 atau bakteri2 lain yang bakal muncul?.

Sumber:
Does COVID-19 affect male fertility? https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7171435/
What’s the nature of immunity & how long does it last? https://www.nature.com/articles/d41586-020-01989z
Antibodies, immunity low after COVID-19 recovery
https://www.dw.com/…/coronavirus-antibodies-immu…/a-54159332
Study raises questions over long-term COVID-19 immunity
https://www1.racgp.org.au/…/study-raises-questions-over-lon…
What happens if the COVID-19 vaccines fail their trials?
https://www.fastcompany.com/…/what-happens-if-the-covid-vac…

Sumber : Status Facebook Brotosari Rahayu

Monday, July 27, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: