Jika Presidennya Prabowo

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Bong,

coba kamu bayangkan kalau semua itu dilakukan oleh Prabowo.

Dan resapi sejenak bayanganmu itu.

Apakah sekonyong-konyong kamu merasakan perbedaan ?

Prabowo menggandeng ulama MUI penyebab Ahok berstigma penista agama sebagai cawapres.

Prabowo membebaskan Abu Bakar Baasyir dari penjara, mengganjar SP3 terhadap semua status tersangka Rizieg.

Intoleransi meningkat pada rezim Prabowo.

Rezim Prabowo tak berdaya, hampir semua produk tani diimpor.

Kamu tiba-tiba paham bahwa hal-hal yang terjadi di atas itu adalah keburukan.

Kamu tak lagi optimis melainkan mulai dirundung pesimisme dan khawatir dengan keadaan bangsa ?

Karena Prabowo yang melakukan, tiba-tiba kamu tak sudi lagi memakluminya, bahkan dengan alasan yang kamu biasa pakai untuk Jokowi, "semua manusia ada kekurangannya" ?

Tapi, mengapa perasaanmu harus berbeda jika Jokowi yang melakukannya ??

Semua hal di atas itu dilakukan oleh Jokowi, bukan Prabowo. Tiba-tiba kamu punya seribu alasan rasionalisasi, memaklumi, bahkan seolah menjadi manusia yang paling optimis.

Aah Bong, saya tahu persis kamu tetap takkan bisa memahami apa yang terjadi dengan bangsa ini, karena pertama-tama kamu tak memahami apa yang sedang terjadi dengan dirimu !

Paradigmamu menyempit menjadi syahwat politik maha besar, sama seperti yang dimiliki oleh politisi2 di barisanmu: Jokowi harus menang sekali lagi !

Kamu cuma tahu itu.

Bong, sebagai Golput (pilpres), kami bahkan tak perlu memintamu untuk membenci keadaan dan khawatir dengan Prabowo sebagaimana keinginanmu ke kami untuk melakukannya. ("Gara2 golput, Prabowo bisa menang!")

Tak perlu. Karena kami hanya ingin kamu melakukan ini: jadilah kritis.

Bagi kami, Prabowo bukan momok. Momok sesungguhnya adalah kehilangan nalar kritis hanya karena mati2an mendukung seorang politisi jadi presiden. Entah Jokowi, entah Prabowo.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Wednesday, January 23, 2019 - 12:00
Kategori Rubrik: