Jika Perempuan Mandiri

ilustrasi

Oleh : Vika Klaretha Dyahsasanti

Baru semalam saya dan teman mengobrol tentang masa lalu, saat kami bekerja berat bagaikan kuda. Dan kami bersyukur sekaligus merasa perempuan perkasa. Saya baru saja kembali ke Solo saat itu. Berpisah dengan suami dan menghidupi sendiri kedua anak saya. Hari kerja kantor masih enam hari seminggu, hingga saya bisa pulang kerja cukup cepat, sekitar pukul 14.00. Sepulang kantor saya masih bekerja part time pada teman, mengerjakan audit ataupun laporan-laporan pajak. Masuk kerja tiga kali seminggu selepas pulang kantor. Otomatis saya baru tiba di rumah setelah jam 7 malam. Itu pun saya masih sering terpaksa lembur di rumah sampai larut malam. Saya beruntung ada Bapak, kakak dan kakak ipar saya, serta Yu Ok yang menjaga anak-anak di rumah dengan penuh cinta kasih.

Dari pekerjaan part time itu, saya mendapat penghasilan sekitar 2 juta sebulan. Jumlah yang sangat berarti waktu itu, sebab gaji PNS saya yang belum mencapai 3 juta itu sudah penuh potongan angsuran kredit. Uang tambahan itu saya pakai kredit motor, saya tak punya motor saat itu karena semua motor dibawa mantan.

Sisa uang yang ada tentu saja saya gunakan untuk sedikit bersenang-senang dengan anak di hari Minggu. Nonton film, bermain di Ti** Zo**, serta jajan. Itu membahagiakan sekali. Bertiga kami naik motor Scoopy itu, berkeliling kota dengan ceria, dari satu mall ke mall lain. Saya bahagia sekali bisa mengajarkan mereka cinta Harry Potter, Narnia Chronicle, suka Alvin and The Chipmunks, dan menyuka Raditya Dika. Sedikit lebih besar mereka menyuka Twilight Saga, meski menontonnya sambil menutup mata saat adegan sedikit hangat. Dan di atas semuanya, kami fans berat The Fast and Furious. Menangisi kematian Paul Walker seperti kehilangan keluarga sendiri. Saat pulang sedikit kemalaman, saya akan berusaha setengah mati agar mereka tidak mengantuk karena tertidur saat dibonceng akan berbahaya sekali. Saya akan bercerita apa saja, memaksa mereka tetap membuka mata sampai tiba di rumah.

Teman saya pun punya pengalaman serupa. Ia juga orang tua tunggal, dan sangat heran kenapa masa itu kami seakan tidak kenal capek. Padahal saya sering kali terpaksa menenggak minuman berenergi demi melawan kantuk sehingga bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan part time itu di malam hari. Ini masih ditambah pekerjaan inti saya yang sangat klerikal, membuat waktu saya di kantor begitu padat bergizi. Maksudnya, saya nyaris tak punya waktu untuk curi-curi waktu mengerjakan pekerjaan part time saya saat di kantor. Hebatnya kami sehat, dan bahagia…..

Rasa bahagia itu mungkin lebih karena merasa terlepas dari beban berat. Capek, tetapi hati tak lagi lelah karena terperangkap di pernikahan bermasalah. Saya teringat, saat pulang dan mendengar anak menyanyi lagu Cherrybelle dengan semangat meski vokalnya sedikit sulit untuk dipertanggungjawabkan sudah membuat saya yang capek menjadi bungah. Mendapati anak lanang tertawa ceria menonton Babe Cabita dalam Stand Up Comedy di Youtube, bagi saya seperti saya seorang Ibu super yang telah mengajarkan kebenaran dan menghantarkan anak masuk Harvard Law School. Maka saat senggang, saya akan menyanyikan lagu Thank You for The Music ala Amanda Seyfried dengan iringan keyboard seenak hati saya. Lagu yang saya kenal dari film musikal Mamma Mia. Film yang bercerita tentang orang tua tunggal juga. Donna Sheridan yang sendirian membesarkan anaknya, sekaligus setengah mati mempertahankan penginapan kecilnya dari kebangkrutan.

Pagi ini, saat saya berangkat ke kantor, dan mendapati audio mobil memutar lagu Coboy Jr, saya sedikit menitikkan air mata. Ini salah satu lagu yang sering dinyanyikan anak-anak di masa perjuangan itu. Dan ajaib sekali, lagu ini terputar saat saya semalam baru saja mengenang masa perjuangan itu dengan sahabat saya. Ada banyak sekali lagu MP3 di audio mobil saya. Agar lagu yang sama dapat saya dengar lagi mungkin perlu waktu berhari-hari. Entah kenapa lagu Coboy itu diputar di saat yang pas. Dalam salah satu pembicaraan kami semalam, yang menyenangkan dari masa berat itu tentu saja karena fisik yang capek menutup peluang untuk berpikir aneh-aneh. Sehingga setiap ada kesempatan, yang kami lakukan hanyalah tidur. Menutup peluang berpikir buruk penuh konspirasi dan berujung pada rasa tak bahagia. Karena semua penduduk bumi terasa jahat dan siap menerkam kita.

Dengan berlalunya waktu, kesejahteraan kami membaik. Saya ingat, saat masih bekerja di Klaten, seorang ibu-ibu sepuh telah berkata, “ Hidup itu yang penting sabar. Nanti pada akhirnya penghasilan menyesuaikan. Tidak perlu secapek sekarang lagi. Yakin itu…. Kuncinya sabar.”

Ibu itu benar. Menjelang 2015 saya lebih sering menulis artikel untuk menambah penghasilan daripada mengerjakan audit atau pajak. Lebih santai, dengan penghasilan yang tak jauh berbeda. Kemalasan mulai menghampiri saya, hingga akhirnya saya mendapat posisi lebih baik di kantor, yang berarti penghasilan yang lebih baik pula. Tambahan penghasilan tanpa saya harus repot mencari pekerjaan paruh waktu. Dan saya, semakin, semakin menjadi pemalas lagi. Apalagi pekerjaan kantor tidak begitu klerikal lagi kini. Mantan juga berubah lebih bertanggung jawab dan bisa diandalkan membiayai anak. Puji Tuhan.

Pemalas identik dengan waktu luang, dan tahu efek dari waktu luang? Tentu bisa positif bisa negatif. Negatif misalnya saya kini punya waktu berlebih untuk bergosip, iri, atau aneka kegiatan berenergi negatif lainnya. Saya punya waktu untuk berkhayal dan berpikir lebih serius juga. Saya dan teman tertawa-tawa mengingat hal ini. Kita punya waktu untuk merindu, katanya. ”Merindu yang dasyat…”

“Kita juga punya waktu untuk menggendut, kurang gerak,” tambah saya. Kami tergelak-gelak. Saya bercerita betapa kian hari perut saya kian tambun. Membuat luka vertikal bekas operasi sering sakit saat terkena ritsleting celana. Membuat saya belakangan ini lebih suka memakai rok atau dress.

“Kan malah jadi feminin... ” katanya.

Iya sih. “Tapi cucian jadi banyak juga. Mana bisa kita pakai rok lebih dari sehari. Beda dengan jeans. Stock baju juga mesti lebih banyak. Kan orang lebih gampang ingat dress dan rok daripada celana jeans. Pake aja jeans yang itu-itu mulu, nggak bakal ada yang tahu…”

Pembicaraan lalu beralih ke diet. Saya sedang tertarik diet keto, meski belum melakukannya. Karena saya sangat menghormati karbo, kata saya. Sebagai cucu petani, saya harus menghormati beras. Belum lagi karbo itu penyelamat di saat susah. Saya masih ingat, betapa saat tanggal tua dan uang pas-pasan, makan itu yang penting kenyang. Dan karbo menyelamatkan kita dari rasa lapar, tambah teman sembari menceritakan lezatnya sepiring nasi dan kerupuk di waktu lapar. Ia pun menambahkan.”Aku cinta donat…. Donat gula pasir…”

Saya pun bercerita apa yang membuat saya tertarik keto. Keto berusaha menjadikan manusia kembali ke awal evolusi homo sapiens. Masa berburu dan meramu. Saat manusia belum kenal biji-bijian, sereal, apalagi gula. Badan yang liat berotot tanpa lemak, karena semua lemak habis dibakar. "I know," kata teman.

Saya pun terus menguliahinya, “Harari bilang, masa itu meski hidup manusia benar-benar berada di jurang hidup mati, tapi mereka punya leisure time, waktu luang yang lebih banyak. Menyiapkan makanan hanya kegiatan sederhana, meski adu nyawa. Berbeda dengan era bertani….” Sembari saya membayangkan membajak sawah.

“Aha… ,” sergah teman. “Masa bertani itulah mulai ada domestikasi perempuan. Lahirnya budaya patriarki…” Saya mengangguk. “Di masa berburu, perempuan itu poliandri. Karena jumlah perempuan sedikit dan sangat penting untuk melanjutkan keturunan. Perempuan dimuliakan, dan tugas pengasuhan anak adalah tugas bersama kelompok, bukan eksklusif orang tua biologisnya. Mungkin masa itu perempuan Drupadi…”

Saya mengangguk, meski saya tak suka poliandri, pun poligami. Tapi ide perempuan dimuliakan itu menyenangkan saya. Bukan dimuliakan dalam konsep dia hanya dihidupi secara finansial, tapi tak punya kesempatan bersuara setara, bahkan tak dipedulikan hatinya terluka atau tidak. Dimuliakan dalam arti disetarakan.

Teman saya itu kemudian bercerita, gegara konsep domestikasi perempuan itu, lahir perempuan-perempuan tak mandiri lengkap dengan ekses negatifnya. “Ekses negative?” Tanya saya.

“Maksudnya, bagi banyak perempuan, survive, sukses, adalah bisa bersuami, atau yang lebih ekstrem, mendapat keuntungan materi dari pria. Dan untuk mencapai hal itu, mereka menggunakan segala intrik, menendang perempuan lain yang mengganggu…..dengan cara yang mungkin lebih liar dari pertempuran para gladiator. Dan mereka mengatakan itu cinta. Konsep cinta yang bias…” kata teman berapi-api. “Padahal peradaban sudah berubah. Perempuan sudah punya kesempatan mandiri. Tak perlu mengemis minta dikawini…”

Beberapa menit kemudian kami tertawa bersama. Karena kami berdua sama-sama di luar sistem itu. Kita bucin yang mencari pembenaran, kata saya. “Kita orang-orang tolol yang menganggap cinta bisa berarti segalanya…” Tapi keto asyik juga dilakukan, pikir kami. Siapa tahu bisa mengembalikan perempuan pada posisi setara…

Halu ah!

#vkd

Sumber : Status Facebook Vika Klaretha Dyahsasanti

Thursday, August 6, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: