Jika La Nyalla Bisa Bayar Mahar

Ilustrasi

Oleh : ABhumi

Lucu, mantan ketum PSSI yg kemungkinan gagal maju ini menyerukan kepada seluruh ulama dan Presidium Alumni 212 agar tak mau lagi dijadikan alat politik.

"Saya ingatkan ulama dan umat 212, jangan mau lagi ditumpang-tumpangi sama partai yang nggak jelas,"

Lagi??!?

Berarti dulu iya? Memang 212 adalah alat politik yg mengatas namakan agama? Berarti dulu 212 memang d tumpangi partai yg gak jelas?

Lagipula, ini cuma terjadi krn beliau gagal maju bukan? Kalau berhasil maju, mampu bayar mahar, apakah seruannya tetap sama? Atau menjadi sebaliknya?

"Saya ingatkan ulama dan umat 212, BOLEH DITUMPANG-TUMPANGI sama partai yang nggak jelas,"?

Bagaimanapun serunya pertikaian La Nyalla dengan Prabowo, menurutku ini omong kosong besar.

Kebetulan saja La Nyalla kere sehingga tdk d lirik Prabowo, kebetulan saja La Nyalla tak sanggup bayar mahar, maka semua ini bisa terjadi. Bila La Nyalla bermodal sebesar Sandiaga, bila La Nyalla mendapat diskon mahar, mungkin protes seperti ini tidak akan d ketahui publik. La Nyalla akan tetap maju d pilgub Jatim dengan d usung Gerindra.

Dan yg masih jelas dalam ingatan kita, tgl 2 Desember 2016 lalu, terjadi peristiwa besar d mana warga Indonesia dan para pemuka agama, membiarkan agama d tunggangi sebagai senjata politik perebutan kekuasaan dalam pilkada DKI Jakarta.

Agama sebagai senjata ini sukses besar. Bukan hanya dalam memperebutkan kekuasaan, tapi jg dalam menghancurkan masa depan seseorang. DKI hanya menjadi pelengkap penderita, yg tdk penting, tdk relevant, dan tdk perlu d perhatikan dalam perebutan kekuasaan ini.

Kesuksesan ini tidak pelak menimbulkan euforia. Angka 212 menjadi angka keramat, bahkan para peserta saat ini d panggil sebagai umat 212. Bukan nama agamanya lagi yg d pakai.

Angka 212 dengan sengaja d pelihara. D lestarikan. Dengan harapan kesuksesan sebelumnya dapat d ulang menggunakan cara yg sama. Dengan menunggangi agama yg sama. Lagi2 agama hanya sebagai senjata politik.

Tapi yg Maha Segalanya berkata lain.

Tidak ada musuh abadi, maupun kawan abadi dalam politik. Yg ada hanyalah kepentingan abadi. Jg tak ada kesetiaan, yg ada hanyalah modal.

La Nyalla berusaha menggunakan 212, sebagai diskon mahar dan legitimasi dalam mencari tiket pencalonan. Ketika gagal, La Nyalla pun menyuarakan 212 agar tidak lagi menjadi alat politik.

Bolehkah kusimpulkan, bila tiket berhasil d dapat, 212 boleh terus d jadikan alat politik?

Apakah nasib 212 d tentukan La Nyalla sendiri?

(kwek)

-----===** Source **===-----

https://m.detik.com/…/al-khaththath-pesan-habib-rizieq-copy…

https://news.detik.com/…/serang-prabowo-la-nyalla-umat-212-…

Sumber : Status Facebook Abhumi dengan judul asli Bagaimana Kalau Sanggup Bayar Mahar?

Friday, January 12, 2018 - 14:30
Kategori Rubrik: