Jika Anies-Sandi Jadi Gubernur, Warga Jakarta Akan Dibuat Bahagia

 Jangan pesimis dulu dengan kemampuan Anies-Sandi dalam mengelola Ibukota Jakarta, walau keduanya belum pernah pengalaman jadi pejabat tinggi, paling tidak Anies sudah pernah duduk di birokrasi yang bergengsi.

Oleh : Stefanus Toni Aka Tante Paku

Jangan pesimis dulu dengan kemampuan Anies-Sandi dalam mengelola Ibukota Jakarta, walau keduanya belum pernah pengalaman jadi pejabat tinggi, paling tidak Anies sudah pernah duduk di birokrasi yang bergengsi.

Ketika Anies menjadi Rektor Universitas Paramadhina tanpa menjadi dosen dulu itu prestasi yang luar biasa lho, kalau tidak jurus silatnya tinggi mana mungkin ujug-ujug jadi Rektor, dan Universitas Paramadhina di tangan Anies tidak bergejolak, tetap tenang tanpa ada yang menonjol dan ditonjolkan, Anies berhasil membawa suasana sejuk di Universitas tersebut.

Saking kreatifnya Anies ia menjadi pencetus Indonesia Mengajar, karena Anies sebenarnya pengen mengajar, tapi tidak diberi kesempatan mengajar, justru ditunjuk langsung jadi REKTOR, itu namanya keberuntungan, KKN yang dihembuskan berhasil dengan sukses. Lalu bagaimana kabarnya Gerakan Indonesia Mengajar? Ya bergerak di tempat, karena Anies memang tidak ingin bergejolak dalam gerakan mengajarkan, diam-diam saja, yang penting bisa jadi MENTERI PENDIDIKAN.

Jadi Mendikbud pun Anies berhasil mengingatkan para orangtua untuk mengantarkan anaknya ke sekolah, pulangnya terserah. Tapi jangan bandingkan Anies dengan Menteri lainnya, seperti Ibu Susi Pudjiastuti, Ignatius Jonan, atau menteri lainnya. Sebab Anies sudah membenahi kementeriannya dengan management pemerintahan yang jos kotos-kotos, terutama tentang tata kelola, transparansi dan standar kinerja, hingga membuahkan prestasi di belakang alias Tut Wuri Handayani.

Jika Anies-Sandi jadi Gubernur Jakarta memangnya kantor Balaikota akan sepi?

Tidak! Tetap akan ramai, melebihi ramainya saat Gubernurnya Basuki Tjahaja Purnama, karena para ormas pendukungnya yang dianggap beraliran keras dan intoleran itu, pasti siap meramaikan Balaikota dengan penuh semangat jihadnya.

Para pendukung Anies dipastikan hilir mudik masuk Balai Kota untuk sekedar menagih Anies, mengajari Anies agar bisa menyedot dengan nikmatnya sumber-sumber pendapatan Pemda DKI. Apakah Anies akan berani mengatakan TIDAK terhadap para mafia, para makelar, para broker kakap di Jakarta?

Anies itu orangnya santun, sungkan, tidak suka kekerasan verbal, sementara Sandy pastinya sibuk dengan program OCOK-OCOK alias OC OK itu, dia pasti sibuk ngurusi produksi sepatu lokal binaannya di setiap kecamatan Jakarta, bisa jadi malah akan syuting jadi bintang iklan sepatu tersebut demi mensukseskan program OCOK OC OK itu.

Jakarta dipastikan makin dahsyat di tangan mereka, soal kompromi dengan lincah ditangani, semua warganya akan terus dimotivasi agar berbahagia setiap hari, perkara MACET itu hal biasa, biarkan saja nanti selesai dengan sendirinya ASAL warga terus berbahagia.

Agar semua terus berbahagia, pedagang musiman dibolehkan berdagang di badan jalan, karena menggusur itu tidak manusiawi. Infrastruktur MRT, jalan, jembatan, rusun, rumah sakit, biarkan saja mangkrak, karena itu tinggalan mantan Gubernur Ahok, biarkan rakyat Jakarta tahu kalau Ahok TIDAK BECUS menyelesaikan proyek-proyeknya yang bikin sumpek itu.

Kemudian anggaran untuk pembangunan itu akan dipakai membuat program training-training pengembangan SDM multi skill serta kursus-kursus pembahagiaan jiwa di setiap RT-RW. Intinya manusianya yang akan dibangun.

Sementara tradisi Gubernur bertemu warga di pagi hari di Balaikota ditiadakan, sebab Anies lebih tertarik untuk konsentrasi membuat Pelabuhan Sunda Kelapa bisa kembali penuh dengan NYIUR MELAMBAI. Dan tradisi bertemu ormas akan dijadwalkan setiap malam tertentu sambil doa bersama.

Bagaimana dengan proyek atau program tinggalan Ahok lainnya? Anies tidak perlu meneruskan dengan anggaran besar lagi, yang penting warga Jakarta bisa hidup bahagia tanpa membutuhkan fasilitas publik yang dibangun Ahok itu.Bagaimana pun juga buatan Ahok belum tentu bisa membahagiakan masyarakat Jakarta, terutama yang muslim.

Selain itu Anies pun membuat aturan masuk kantor (PNS) jangan terlalu ketat dengan jam masuk seperti Ahok, yang penting itu masuk kerja dengan perasaan bahagia, orang bahagia pasti kerjanya membahagiakan yang lainnya.

Lelang jabatan tidak perlu, yang penting mereka tahu sama tahu dengan Gubernurnya, urusan recruitmen atau kinerja bisa diatur yang penting Gubernunya harus bahagia.

Soal rumah tanpa DP akan tetap dijalankan, yang penting di depan rumahnya nanti tetap akan ditulisi prasasti RUMAH TANPA DP, soal teknisnya itu urusan mudah, yang penting rakyat bahagia menerima programnya, itu saja!

Monday, February 20, 2017 - 20:15
Kategori Rubrik: