Jika Anak Terpapar Terorisme

Oleh : Patresia Kirnandita

Anak-anak cenderung lebih sulit mengentaskan problem emosional akibat paparan berita terorisme

Perlu strategi khusus untuk menjelaskan terorisme kepada anak-anak. Melimpahnya sumber informasi, kritisisme, dan kecemasan anak akan bahaya terorisme kian meningkat. Bagaimana orang-orang dewasa menyikapi hal ini?

Dalam sebulan terakhir, sejumlah laporan aksi teror di beberapa kota di Indonesia muncul di media-media massa. Di Poso, Sulawesi Tengah, pada Minggu (9/7) silam, dua aksi teror secara bersamaan terjadi: di depan Mapolres Poso dan di sekitar gedung SMA Kristen Poso. Sehari sebelumnya, di Buah Batu, Bandung, sebuah bom panci yang rencananya diledakkan di kawasan Braga meledak di rumah kontrakan terduga pelaku. Tanggal 30 Juni lalu, dua anggota polisi yang sedang melakukan salat Isya di Masjid Falatehan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ditusuk pelaku teror. Pelaku juga sempat mengancam jamaah lain yang ada di TKP seraya mengacungkan pisau. Sementara pada Hari Raya Idul Fitri kemarin, seorang polisi di Sumatera Utara meninggal setelah ditikam teroris saat berjaga di Polda Sumut sebelum salat Id diselenggarakan.

Berita-berita terorisme ini tidak hanya berdampak pada orang dewasa, tetapi juga anak-anak yang membaca atau melihatnya. Bukan tak mungkin muncul pertanyaan-pertanyaan di kepala mereka mengenai terorisme; sebuah konsep yang cukup kompleks untuk dicerna mereka yang di bawah umur. Dalam beberapa kasus, pelaku teror dengan sengaja menyasar anak-anak kecil dan remaja di area seperti sekolah atau tempat konser. Ketakutan pun menjalari mereka sebagai korban tak langsung dari aksi-aksi terorisme.

Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak cenderung lebih sulit mengentaskan problem emosional yang mungkin terjadi akibat paparan berita terorisme atau pengalaman berada di tempat terjadinya aksi tersebut. Rasa tak aman, putus asa, dan tak berdaya ditemukan pada anak-anak yang sering terpapar berita terorisme. Menurut Leiner et. al. (2016) yang meneliti tentang hal ini menyatakan bahwa masalah mental yang dialami anak terkait terorisme bersifat laten alias tak melulu muncul di permukaan. Kapan dan bagaimana gejala problem mental ini muncul tergantung ada tidaknya pemicu trauma atau emosi negatif di lingkungan sekitar tempat anak tinggal. Semakin muda usia si anak, semakin signifikan dampak paparan berita terorisme terhadapnya. Lebih lanjut, dalam penelitia Leiner et. al. disebutkan bahwa anak di bawah usia 10 yang menghadapi situasi perang atau mengonsumsi berita-beritanya lebih rentan mengalami gangguan jiwa saat beranjak dewasa.

Mengingat rentannya anak-anak terhadap paparan berita dan ancaman teror, maka diperlukan sebuah strategi untuk menjelaskannya. Namun, berbeda dengan sosialisasi atau kampanye yang menargetkan segmen dewasa, ada strategi khusus yang patut dijalani ketika menjelaskan kepada anak yang mulai bertanya, “Apa itu terorisme? Kenapa orang membuat teror?”

Saat anak mulai membicarakan tentang terorisme, orangtua perlu menanyakan apa saja yang sudah ia ketahui tentang konsep ini. Anastasia Satriyo, MPsi., psikolog anak dan co-founder TigaGenerasi, mengungkapkan, penting sekali untuk membicarakan berbagai isu kehidupan yang kompleks seperti terorisme dengan mengikuti level pemahaman anak. "Misalnya bisa diawali dengan, ‘Yang adik tahu kayak apa, sih?’, sehingga orangtua tidak menggunakan asumsi orang dewasa saat memaparkan informasi tersebut," jelasnya.

Ketika anak terpapar informasi tentang terorisme yang tidak sejalan dengan tingkat pemahamannya, bukan tidak mungkin mereka akan mengalami ketakutan terus menerus. Anak juga bisa mencemaskan keselamatan orang-orang yang ia sayangi setiap kali ia mengetahui orang-orang tersebut melintasi daerah-daerah yang pernah menjadi lokasi aksi terorisme.

Keterbatasan pemahaman anak mengenai situasi kompleks yang ditabrakkan dengan paparan berita terorisme berpotensi menciptakan secondary trauma, yakni keadaan trauma yang muncul akibat mendengar cerita dari orang lain tanpa mengalami langsung, demikian imbuh perempuan yang juga pernah merilis buku "Anti Panik Pengasuhan Bayi 0-3 Tahun" ini.

Meski pemahaman anak tak sepadan dengan orang dewasa, pembelajaran keberagaman dapat mulai disalurkan kepada mereka. “Sejak usia 3-4 tahun, anak bisa diajarkan tentang hal ini. Mulai dari mengenal orang-orang dengan ciri fisik berbeda hingga afiliasi agamanya. Orangtua tidak perlu sampai mengajarkan aspek filosofis dari agama-agama yang ia jelaskan, tetapi mereka bisa memperkenalkan kepada anak bahwa orang beragama tertentu akan pergi ke tempat-tempat ibadah yang berlainan satu sama lain. Pelajaran tentang menghormati dan menyayangi juga bisa disisipkan ketika orangtua mengajari tentang keberagaman,” kata Anastasia.

Lulusan Psikologi Klinis Anak, Universitas Indonesia, ini juga menjabarkan aneka gejala mental yang mungkin timbul jika anak telanjur terpapar berita-berita terorisme. “Anak yang mengalami secondary trauma bisa jadi lebih murung, mudah sedih, ketakutan, takut ke tempat-tempat ramai, terus menerus membicarakan kematian, mengalami gangguan konsentrasi, lebih mudah marah atau menangis, atau mimpi buruk hingga mengompol meski ia sebelumnya sudah tak lagi mengompol,” tambahnya.

Saat anak merasa takut atau marah setelah melihat berita terorisme, orangtua perlu memberikan ruang baginya untuk mengekspresikan atau mengomunikasikan perasaannya. Begitu mengetahui ketakutan-ketakutan anaknya,  orangtua mesti dengan hati-hati bereaksi supaya tidak menyinggung atau memperparah traumanya. Alih-alih melontarkan ujaran tak sensitif seperti, “Ngapain sih, gitu aja takut,”, orangtua bisa mencoba mengatakan, “Oh, kamu takut sama ini, ya?” Dengan pendampingan orangtua, anak dapat diyakinkan bahwa keamanannya diupayakan tetap terjaga oleh orang-orang terdekat.

Jika anak telah mengalami sendiri atau berada di lokasi aksi terorisme, mereka akan membutuhkan bantuan tenaga profesional untuk mengatasi masalahnya. Sangat besar kemungkinan anak mengalami post traumatic stress disorder (PTSD) yang akan mengganggu aktivitasnya saat tumbuh dewasa. Anastasia memaparkan, “Peristiwa yang meski tak lama berlangsung dapat begitu membekas dalam diri anak. Peristiwa tersebut secara neuropsikologis mengaktifkan bagian otak yang berperan dalam stress response dan mengirim sinyal untuk fight atau flight.”  

Bukan mustahil ketika menjelaskan mengenai terorisme, orangtua tergelincir pada kecenderungan memberi stigma atau stereotip kepada kelompok tertentu. Sebagai strategi menghindari hal ini,Anastasia memberikan ilustrasi film yang mengajarkan untuk tidak melabeli orang berdasarkan agamanya.

“Apa yang dilakukan di film My Name Is Khan oleh ibu Khan yang memiliki anak berkebutuhan khusus cukup relevan untuk dilakukan untuk anak-anak pada umumnya. Di India, konflik antar kelompok agama juga sering terjadi, lalu Khan bertanya apakah pelakunya orang Hindu atau orang Islam. Lalu ibu Khan menggambar orang yang memberikan permen dan orang yang memukul orang lain, lalu si Ibu bertanya kepada Khan ‘Bisakah kamu membedakan mana yang Muslim dan Hindu?’. Khan bilang tidak bisa. Lalu Ibunya menjelaskan kalau di dunia ini ada orang baik atau orang jahat, bukan karena agamanya. Pemeluk Hindu ada yang baik dan ada yang jahat, demikian juga pemeluk agama-agama lain. Karena itu, kita tidak bisa melihat orang hanya dari agama ataupun penampilan luarnya saja.”

Sumber : tirto.id

Thursday, July 13, 2017 - 10:30
Kategori Rubrik: