Jihad?

Oleh : Erizeli Jely Bandaro
Sebuah ruang sekitar 4 X 6 meter, yang seperti kamar yang kehilangan peminat. Warna-warnanya hambar. Cahaya pudar. Sawang tebal. Debu. Orang tak akan tahu dengan segera bahwa di sinilah nisan Sultan Saladin, pahlawan Islam dalam Perang Salib. Dari ruang makamnya yang kusam, mitos apa yang akan kita teruskan? Saladin adalah juga cerita tentang seorang yang pemberani dalam pertempuran, yang sebenarnya tak ingin menumpahkan darah. Tahun 1187 Saladin masuk Jarusalem dengan kemenangan. Dengan wajah sedih dia menatap altar gereja yang porak poranda. Saladin memperbaiki patung salip yang terjatuh di lantai untuk ditempatkan kembali di tempatnya. Inilah perang. Tidak seharusnya terjadi. Sebelum masuk gerbang kota jarusalem, Saladin berpesan kepada panglima perangnya agar jangan ada satupun tawanan dan penduduk yang dibunuh. Izinkan bagi penduduk yang ingin pergi meninggalkan jarusalem.Jangan jarah harta mereka. Lindungi mereka seperti kalian melindungi diri kalian sendiri. Kita tidak berperang dengan amarah atau dendam.Kita hanya ingin menegakkan keadilan.

Dalam hidupnya yang cuma 55 tahun, ikhtiar itulah yang tampaknya dilakukan Saladin. Meskipun tak selamanya ia tanpa cacat, meskipun ia tak jarang memerintahkan pembunuhan. Sejarah mencatat bagaimana Saladin bersikap baik kepada Raja Richard Berhati Singa yang datang dari Inggris untuk mengalahkannya. Ketika Richard sakit dalam pertempuran, Saladin mengiriminya buah pir yang segar dingin dalam salju, dan juga seorang dokter. Lalu perdamaian pun ditandatangani. Orang Eropa takjub bagaimana Islam mendidik orang sebaik itu. Kita sekarang juga mungkin takjub bagaimana masa lalu bisa melahirkan orang sebaik itu. Terutama ketika orang hanya mencoba menghidupkan kembali apa yang gagah berani dari abad ke- 12 tapi meredam apa yang sabar dan damai dari sebuah zaman yang penuh peperangan. Melihat Suriah yang penuh amis darah, saya merasa kita kehilangan nilai nilai agung dari seorang Saladin.Kita salah menilai sejarah. KIta hanya tahu perang karena perbedaan memang perlu dan ini Jihad.Padahal Jihad sesungguhnya adalah perang melawan hawa nafsu dan puncaknya adalah bisa menahan diri ketika menang untuk memaafkan musuh dan andaikan perdamaian itu sangat pahit maka itu lebih baik. Kesediaan menerima perdamaian adalah puncak ikhlas dalam istiqamah bahwa hidup memang ujian bagi orang beriman untuk bersabar agar sholat tegak...

"Anakku," konon begitulah pesan Sultan itu kepada anaknya,az-Zahir, menjelang wafat, "...Jangan tumpahkan darah... sebab darah yang terpercik tak akan tertidur." Mungkin karena itu Saladin melupakan bahwa dulu di tahun1099, ketika pasukan Perang Salib dari Eropa merebut Jerusalem, 70 ribu orang muslim kota itu dibantai dan sisa-sisa orang Yahudi digiring ke sinagog untuk dibakar. Saladin berperang demi akhlak mulia. Dendam yang menimbulkan amarah dan bau amis darah, tidak pernah di ajarkan oleh rasul. Saladin telah tiada. Kisah akhlak mulia Saladin seakan terkikis dari ingatan umat islam. Ketika PKI di kalahkan oleh gerakan Militer di bawah komando Soeharto tahun 1965 yang di kenal dengan G30 S PKI , tidak ada laku kemulian seorang Saladin. Aksi balas dendam atas peristiwa Madiun dimana PKI membunuh ulama NU di lakukan. Tidak tahu pasti berapa jumlah massa PKI dan tokoh PKI di bantai di depan regu tembak dan di sembelih oleh massa. Bau amis darah yang di lakukan oleh PKI di tahun 1948 atas nama komunisme, umat islam melakukan hal yang sama di tahun 1965. Lantas apa bedanya kita dengan komunisme ?

Era sekarang sebaiknya tidak perlu ada lagi perang karena alasan agama. Mengapa ? HAM international menjamin siapapun melaksanakan ibadahnya. Jadi tidak ada yang melarang kita beragama yang mengharuskan kita berperang. Hidup damai dalam perbedaan adalah cobaan bagi kita untuk tetap menebarkan cinta. Firman Allah selalu diawali dengan kalimat sifat pengasih penyayangNya. Kitapun dianjurkan untuk membaca Bismillah ir-Rahman ir-Rahim dalam mengawali setiap perbuatan agar setiap perbuatan kita adalah bagian dari cinta. Begitu agungnya ajaran Islam yang diteladankan secara sempurna oleh Rasul.

Anakku..Mencintai manusia Nak, adalah merasa jadi bagian dari orang lain , merasa terpaut dengan sebuah komunitas, merasa bahwa diri, identitas, nasib, terajut rapat, dengan tindakan memberi. Mencintai manusia , Nak adalah merasakan, mungkin menyadari, bahwa tak ada yang sempurna, tak ada yang abadi , selain Allah, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hati untuk hidup, bekerja dan terutama saling mengasihi. Mencintai manusia ,Nak adalah mencintai Allah itu sendiri. berlemah lembutlah, kepada mereka yang tidak sepaham denganmu agar nampak Indah, karena Nak, manakala kau mempunyai cinta, kau adalah makhluk terindah ciptaan Allah,menjadi syiar betapa Islam itu adalah rahmat bagi alam semesta. Camkanlah itu selalu. Paham ya sayang..** (ak)

Sumber : ramhatallah.blogspot.co.id
 
Friday, May 20, 2016 - 11:15
Kategori Rubrik: