Jihad Dan Kekalahan Capres

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Kalau di sekitarmu desas-desus kemenangan terasa kuat, coba dicek dulu jangan kesusu menyuruh semua orang matikan tivi karena hasil perhitungan suara tidak sama menyenangkan dengan yang kau mau. Bisa jadi karena lingkaran pertemananmu memang diisi oleh orang-orang yang memiliki pemikiran dan prinsip yang sama denganmu, harapan yang sama seperti yang sering kau bincangkan atau mimpi tentang seorang pemimpin yang serupa.

Jangan lantas karena terlalu jauh bermimpi dan terlalu sakit jatuhnya, lantas kau membolehkan diri asal main tuduh bahwa terjadi kecurangan sementara pemilih di Indonesia itu datang dari cakupan wilayah yang sangaaattt luas. Bukan hanya kecamatan tempat kau tinggal, bukan cuma kota kelahiranmu doang, terlebih grup WAG keluarga dan teman sekolahmu.

Jangan gegabah bikin analisa dangkal yang ndak sepadan dengan tingkat ilmu yang kau punya. Seperti memang sengaja mempertaruhkan kredibilitas yang sudah kau bangun susah payah demi seseorang yang belum tentu berpikir dan hendak berkorban sedalam itu untukmu. Apalagi kalau kau sudah punya murid, atau kau seorang pemimpin. Jadi bahan pertanyaan bawahanmu nanti semua kelakuanmu. Moga-moga tidak jadi tertawaan.

Apalagi kayak ibu-ibu yang melintas barusan di linimasa saya, yang sampai berdoa semoga azab turun kepada mereka yang konon berbuat curang. Nggak kapok-kapoknya sosok Tuhan dipakai jadi tameng. Hak Tuhan untuk menghakimi selalu kepingin kita gantikan. Masih percaya diri selalu mengira diri suci dan yang lain selamanya hina. Thus kalau terbukti tidak ada yang curang dan prasangka kalian jatuh jadi fitnah, kalian sendiri sudah siap terima azabnya? Doa itu tidak selalu satu arah, ya. Kadang malah mantul, tergantung niatnya. Sekali lagi, tergantung niat yang disimpan di lubuk hati yang paling dalam, tersembunyi tapi sayangnya Tuhan tetap tahu.

Kubilang orang-orang ini macam anak kecil merajuk. Mau main tapi tidak mau kalah. Kalau kalah lempar mainan, gebrak meja, tuduh orang lain curang, menangis, lalu mengancam lapor Bapak atau Mamak. Belum tentu Bapak atau Mamak sudi membela, yang ada Bapak atau Mamak datang jewer kau punya telinga karena dianggap terlalu cengeng dan lebay. Bikin malu saja. Gagah sedikit, kenapa?

Bangun sudah! Terima kenyataan. Pulang kembali ke dunia nyata, pulang ke keluargamu, ke kehidupan yang kau bangun dengan ikhtiar dan harapan yang baik. Kerja baik-baik, ibadah yang benar, perbaiki hubungan dengan sesama manusia. Sujud di sajadah, tak usah berdoa di fesbuk apalagi ketiduran sampai mimpi yang sama 5 kali berturut-turut.

Jangan keliru menempatkan jihad-jihad kecilmu.

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Thursday, April 18, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: