Jessica Si Batu Karang

Oleh: Birgaldo Sinaga
 

Terhitung sejak peristiwa kematian Mirna, kasus kematian Mirna sudah memasuki bulan ke sembilan. Kasus ini sangat menyedot perhatian publik. Manyedot emosional, rasa ingin tahu dan sifat kita yang suka membicarakan hal sensasional dan fenomenal.

Tidak hanya di Indonesia, di belahan dunia lainnya kasus seperti Jessica juga ada. Kasus OJ Simpson di Amerika misalnya. Bahkan sampai saat ini masih banyak orang menuding OJ bersalah meskipun juri memutus OJ tidak bersalah. Saat OJ dituduh dan dijadikan tersangka, mayoritas publik AS percaya OJ pelakunya. Publik terbelah di tengah kegeraman publik atas pembunuhan brutal yang terjadi pada Nicole dan Goldman.

Kasus O. J. Simpson adalah kasus pembunuhan yang melibatkan aktor sekaligus mantan pesepak bola Amerika O. J. Simpson. Ia diadili karena didakwa membunuh mantan istri Nicole Brown Simpson dan Ronald Goldman (pacar mantan istri) pada 1994.

Kasus pidana ini mendapat sorotan luas dari media massa dan publik Amerika Serikat karena O.J. Simpson adalah mantan bintang sepak bola Amerika berkulit hitam. Setelah melalui pengadilan berkepanjangan, Simpson dinyatakan tak bersalah dan dibebaskan pada 3 Oktober 1995.

Kasus OJ di Amerika dan Jessica bisalah kita sebut kasus fenomenal yang mirip. Sama sama menyedot perhatian publik. Disiarkan langsung media televisi. Kasus Jessica semakin menguras emosi publik karena orang yang paling dekat dengan Mirna turut membantu naiknya tensi atmosfir kemarahan dan kebencian publik atas pelaku kejahatan.

Publik menjadi pemain ke lima dalam kasus Jessica setelah polisi, jaksa, hakim dan pengacara. Posisi publik ini awalnya bermula dari rasa ingin tahu semata. Ada seorang gadis muda bernama Mirna Salihin tewas di Cafe Olivier pada 6 Januari.

Mirna tewas karena menenggak kopi vietnam. Jessica dituduh sebagai pelakunya. Jessica tidak mengaku. Investigasi di mulai. Memakan waktu berlangsung hampir tiga bulan. Dalam masa penyelidikan yang belum rampung itu mata publik sudah terlihat sinis.

Dari rasa ingin tahu bermetamorfosis menjadi polisi, jaksa dan hakim sekaligus. Publik menjadi ketiga profesi itu. Jessica sudah divonis publik bersalah meski persidangan belum dimulai.

Maka mengalir deraslah meme meme sindiran baik halus maupun vulgar. Hujatan hujatan ringan sampai kasar. Makian halus hingga sarkastis. Opini telah terbentuk. Opini itu berhasil membantai Jessica. Membantai harkat martabat dirinya sebagai manusia yang berhak membela diri. Manusia yang berhak mencari keadilan. Bukankah orang mati juga berhak mendapatkan keadilan? Itu sebabnya negara mewakili membela diri orang mati itu. Nah, Apalagi orang yang masih bernafas, masih hidup.

Persidangan memasuki babak akhir. Beberapa hari mendekati putusan hakim arus suara publik yang dulu begitu massive mencerca, mengolok olok, menghakimi Jessica perlahan mengendur. Bahkan mereka yang dulu sedemikian keras menghujat Jessica tiba tiba pindah ke planet lain. Hilang entah kemana.

Saya beruntung diajarkan untuk melihat kasus kriminal secara utuh. Nalar logis. Dalam kasus Jessica seringkali saya berbeda pendapat dengan teman teman yang percaya dan yakin Jessicalah pembunuh Mirna. Padahal itu masih tahap awal penyelidikan. Masih tahap pemeriksaan di polisi.

Bagaimana mungkin bisa yakin dan percaya jika informasi masih sepihak? Ya wajar dong polisi membagi informasi yang menguntungkannya dan memberatkan Jessica. Misalnya soal garuk garuk paha.

Digiring opini Jessica garuk garuk paha karena celananya kena Sianida. Sianida akan membuat gatal kulit. Publik percaya atas informasi itu. Padahal setelah diperlihatkan CCTV di persidangan Jessica hanya sepersekian detik saja menyentuh pahanya seperti menarik celana. Bukan menggaruk yang berulang ulang dan lama.

Bangunan penggiringan opini ini memang sangat mengerikan. Bangunannya imajiner namun bisa mengepung Jessica terbantai tidak berkutik. Tiada seorangpun membela dirinya. Satu satunya yang bisa membela dirinya adalah keteguhan hatinya sendiri.

Ditengah badai dahsyat menerpa fisik, mental, psikis dan harapan, Jessica bak batu karang teguh di Samudra luas. Ia tetap berdiri kokoh. Tidak bergeming. Kukuh pada dirinya. Hanya itu miliknya. Keteguhan hati ini adalah senjata terkuat saat badai datang memporak porandakan akal sehat, nalar, kebatinan, emosi, harga diri, martabat dan relasi sosialnya.

Dalam kesendiriannya diruang pengap sempit dan bau, Jessica diam dan mematung. Diam dan mematung diri seperi batu karang dilaut ganas.
Kemarin malam, dimasa persidangan ke 30, Jessica bicara.

Di ruang sidang nan mulia itu Jessica bicara. Jessica bicara di tengah amukan badai hujatan publik yang sudah mereda. Jessica dalam kediamannya mampu membalikkan keadaan. Tanpa banyak bicara dan ekspresi meledak membela diri, Jessica mempermalukan orang orang yang dulu pernah mempermalukannya.

Kita tunggu saja episode terakhir dari drama misteri ini. Apapun keputusan majelis Hakim, banyak hal pelajaran baik kita peroleh dari Jessica.

Salam

(Sumber: Status Facebook Birgaldo Sinaga)

Thursday, September 29, 2016 - 12:00
Kategori Rubrik: