Jendral Besar Abdul Haris Nasution

Oleh : Riza Iqbal

Maaf, saya hanya ingin meluruskan berita foto ini. Foto yg memperlihatkan Jendral Abdul Haris Nasution (Pak Nas), Danjen Koppasus Mayjen Prabowo Subianto dan Kas Kostrad Mayjen Kivlan Zen.

Ada narasi yg menyertai foto tersebut "Pak Nas digiring keluar oleh Paspampres dan Prabowo ketika beliau ingin melakukan shalat jenazah saat wafatnya Adam Malik".
Ini adalah narasi yg tidak benar untuk foto tersebut.

Mantan Wapres Adam Malik wafat pada tahun 1984, empat tahun setelah AH Nasution ikut menandatangani Petisi 50 bersama Letjen Marinir Ali Sadikin, Jend Polisi Hoegeng Imam Santoso, mantan Perdana Menteri Burhanuddin Harahap, Mohammad Natsir dan tokoh2 lainnya.

Oleh rezim Orde Baru, para penandatangan Petisi tersebut dilakukan isolasi sosial, baik larangan perjalanan ke luar negeri, membuat transaksi bisnis hingga melakukan pinjaman kredit ke bank. Tujuannya agar penandatangan petisi akan memiliki masa sulit dalam mencari nafkah.

Larangan lain yg diterima Pak Nas adalah tidak diperbolehkan hadir untuk memenuhi undangan keluarga pahlawan revolusi yang hendak mengadakan hajatan, menerima wawancara dari wartawan dalam dan luar negeri sampai memberikan ceramah baik di lembaga, kampus bahkan di masjid.

Pada awal tahun 1990-an, Soeharto mulai melakukan rekonsiliasi dengan beberapa tokoh yg dulu dimusuhinya, salah satunya adalah AH Nasution.

Setelah rekonsiliasi, isolasi terhadap Pak Nas mulai dibuka. Saat sakit beliau dirawat di RSPAD Gatot Subroto. Para petinggi militer dan pejabat negara bisa berkunjung menemui beliau seperti B.J. Habibie, yg saat itu menjabat Menteri Riset dan Teknologi. Bahkan Suharto sendiri ikut mengunjunginya.

Pada Juli 1993, Suharto mengundang Pak Nas ke Istana dan pada perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ke 48, Pak Nas kembali diundang ke Istana.

Puncak rekonsiliasi itu terjadi menjelang kejatuhan Suharto yaitu pada hari ABRI 5 Oktober 1997. Pak Nas menerima gelar kepangkatan Jendral Besar (bintang lima) bersama dengan Panglima Besar Sudirman dan tentu Presiden Suharto.

Jadi foto yg beredar tersebut adalah saat Pak Nas menerima gelar kehormatan Jendral Besar pada Oktober 1997, bukan saat melayat wafatnya Adam Malik tahun 1984.

Kita akui Suharto memang diktator tapi kita juga harus bijak menyampaikan berita.

 

Sumber : facebook Riza Iqbal

Tuesday, September 18, 2018 - 12:00
Kategori Rubrik: