Jemaah Tabligh : "Salafi" Van India

ilustrasi

Oleh : M Kholid Syeirazi

Kata ‘salafi’ sengaja dikasih tanda petik. Jamaah Tabligh (JT) meyakini keutamaan nilai-nilai salaf, terungkap dalam penampilan fisiknya laiknya kaum salafi: berjenggot, bercelana dan berjubah di atas mata kaki, berserban yang dililit di kepala, wanita-wanitanya bercadar. Mereka gemar makan dalam satu nampan. Namun, oleh kaum salafi-Wahabi, JT tidak diakui ber-manhaj salaf, karena itu dikeluarkan dari kelompok salafi.

Apakah JT radikal? Kalau definisi radikal adalah takfiri, mereka tidak! Kalau definisi radikal adalah mengancam negara dengan agenda politik Islam, mereka tidak! Kalau definisi radikal adalah puritan dengan agenda memerangi bid’ah, mereka tidak. Dari semua definisi, JT sama sekali tidak radikal. Tidak semua yang berjenggot, bercadar, dan bercelana cingkrang adalah radikal. JT buktinya!

Meski tampil laiknya kaum salafi, salafi-Wahabi menuding JT sesat dan ahlul bid’ah karena mengamalkan tarekat. Ada empat aliran tarekat yang diakui dan diajarkan di JT yaitu Jistiyah, Qadiriyah, Sahrawardiyah, dan Naqsabandiyah. Di Indonesia, Qadiriyah-Naqsabandiyah adalah aliran tarekat paling populer di kalangan NU. Dari segi penampilan, JT mirip dengan salafi-Wahabi. Namun, dari segi amaliah, mereka lebih dekat dengan NU. Ajarannya dibangun di atas ushūl al-sittah (enam pilar), pilar keenamnya adalah khurūj. Khurūj jadi ciri khas JT. Mereka keluar rumah untuk berdakwah, keliling dari satu kampung ke kampung, dari satu negara ke negara lain. Markasnya masjid. Setiap anggota JT wajib khurūj 3 hari dalam sebulan, 40 hari dalam setahun, dan 4 bulan sekali sepanjang hidup. Ciri khas ini membuat JT disebut sebagai kelompok jaulah (dakwah keliling).

JT didirikan oleh Syeikh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi (1887-1948) pada 1923. Beliau dari Kandahlah, sebuah desa di Uttar Pradesh, India. Markas JT di Nizamuddin, New Delhi. Selepasnya, kepemimpin diteruskan putranya, Syeikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi (1917-1965) sebagai Amir/Hadratji kedua. Amir/Hadratji ketiga adalah Syeikh In’amul Hasan (1918-1995), menantu Syeikh Muhammad Zakariya Al-Kandahlawi, keponakan Syeikh Ilyas. Ketika mulai uzur, Syeikh In’amul membentuk Syura dengan anggota 10 orang: lima dari India, empat dari Pakistan, satu dari Bangladesh.

Sepeninggal Syeikh In’amul, Syura gagal menunjuk satu Amir. Kepemimpinan diputuskan berlaku sistem kolegial dengan 3 Faisalat yaitu Syeikh Izharul Hasan, Syeikh Zubairul Hasan, dan Syeikh Saad plus Umar Palanpuri dan Miyaji Mehrab. Syeikh Izharul dan Syeikh Zubairul adalah putra Syeikh In’amul. Sementara Syeikh Saad adalah cucu Syeikh Yusuf, berarti cicit pendiri JT.

Pada 23 Agustus 2015, Syeikh Saad, secara sepihak, dianggap mengangkat dirinya sebagai Amir/Hadratji. Ini ditabalkan kembali pada Ijtimak Bophal November 2015. JT terbelah. Klaim ini dianggap cacat. Mereka yang protes, dipimpin H. Abdul Wahab dari Pakistan, membaharui Syura Alami dengan 11 orang dan menyatakan firaq dari Nizamuddin. Insiden fisik terjadi. Kelompok kontra Saad dipersekusi.

Konflik juga meluas ke Indonesia. Syura Indonesia, yang semula berjumlah 13 orang, terpecah dalam dua kubu: kubu Cecep Firadaus bermarkas di Masjid Jami’ Kebon Jeruk dan Kubu Muslihuddin Jafar bermarkas di Masjid Al-Muttaqien, Ancol. Kubu pertama pendukung Syeikh Saad. Kubu kedua pendukung Syura Alami. Kubu pertama didukung oleh PP Al-Fattah, Temboro, Karas, Magetan. Ini pondok pesantren JT terbesar dengan santri mencapai 18.000 orang. Pengasuhnya Kiai Uzairon Thoifur, salah seorang ahli Syura JT Indonesia. Penerusnya adiknya, Kiai Ubaidillah Ahror. Kubu kedua didukung PP Darul Mukhlasin Payaman Magelang dan PP Sirajul Mukhlasin, Krincing, Secang Magelang. Pengasuhnya Kiai Mukhlisun, salah seorang ahli Syura JT.

JT bisa diterima dan merekrut banyak kalangan dari berbagai lapisan karena non-politik dan menghindari khilâfiyah. Politik dan pemerintahan tabu dibicarakan. Berbeda dengan salafi-Wahabi, JT tidak pernah masuk ke ranah isu bid’ah. Konsen mereka adalah dakwah, dengan penekanan pada fadhâilul a’mal. Ini kebaikan sekaligus kerentanan. Karena minim wawasan kebangsaan, posisi JT tidak jelas dalam konteks relasi agama dan negara. JT tidak punya agenda mendirikan Negara Islam atau Khilafah Islamiyah. Itu sama sekali bukan fokusnya. Tetapi, JT juga tidak punya konsep tentang nasionalisme dan cinta tanah air. Seandainya Indonesia atau negara lain tempat JT berada terancam, JT mungkin memilih masuk gua atau i’tikaf di masjid. Mereka pilih menyelamatkan imannya, tanpa peduli keadaan negaranya.

JT punya konsep transnasionalisme Islam, tetapi bukan dalam konteks politik, melainkan dakwah. Seluruh bumi Allah adalah medan dakwah. Mereka khurūj hingga ke mancanegara, dengan bekal pribadi, demi dakwah. Pengikutnya dari kalangan artis hingga profesional. Gito Rollies, Sakti Sheila on 7, Derry Sulaiman Betrayer, Yukie Pas Band, dan Reza Noah adalah deretan artis pengikut JT. Anak-anakanya Pak Wiranto, termasuk yang meninggal di Afrika Selatan, Zainal Nurrizki, adalah pengikut JT. JT juga masuk ke jajaran perwira Polri. Mantan Kadiv Humas Polri, Komjen Pol (Purn) Anton Bachrul Alam, kini adalah seorang karkun, pegiat dakwah JT.

JT bukan kelompok radikal apalagi teroris. Jenggot, cadar, dan celana cingkrangnya bukan ancaman vertikal bagi negara. Dalam dakwah, JT dilarang membanding-bandingkan (taqabul), merendahkan (tanqish), mengkritik (tanqid), dan menolak (tardid) kelompok Islam lain. Karena itu, JT tidak terlalu menimbulkan gesekan horisontal.

Meski politik tabu dibicarakan, sejak klaim kepemimpinan Syeikh Saad yang bermasalah, JT terlibat dalam intrik politik internal yang rumit. Persekusi dan intimidasi terjadi di antara dua kubu. Syeikh Saad sendiri adalah figur kontroversial, dengan ‘bayan’ (statemen) yang seringkali menimbulkan polemik. JT Indonesia belakangan juga terpapar politik. Dalam kontestasi Pilpres tempo hari yang keras, PP Al-Fattah Temboro, pendukung markas Nizamuddin yang dikuasai Syeikh Saad, menerima Prabowo dan tokoh-tokoh pendukung 02. Artinya, JT yang non-politik rentan terseret ke dalam arus politik atas nama Islam.

Dalam konteks ke-Indonesiaan, meski JT bukan ancaman, kekurangannya yang menonjol adalah minimnya wawasan kebangsaan. Seandainya JT menambahkan konsep kebangsaan, dia akan menjadi gerakan Islam yang aktif, bukan sekadar pasif, dalam menopang pilar-pilar NKRI yaitu Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

*Sekretaris Umum PP ISNU

Sumber : Status Facebook M Kholid Syeirazi

Friday, November 22, 2019 - 14:00
Kategori Rubrik: