Jejaring Sosial Lingkungan Terdekat

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Beberapa hari lalu, saya menonton acara berita di televisi. Di sebuah lingkungan RT (Rukun Tetangga), atau wilayah administrative terbawah. Menghadapi pandemi coronavirus, entah itu dengan lockdown, PSBB, social distancing, physical distancing dan sebagainya, Pak dan Bu RT kompak segera mendata warganya. Gimana status sosial dan kondisi ekonomi mereka sekarang.

Ada perubahan penting. Ada yang dulunya aman, kini kehilangan pekerjaan. Ada yang penghasilan menurun. Ada pedagang yang bangkrut. Ada yang kaya, ada yang punya tabungan. Ada yang pengangguran. Ada yang kreatif dan punya gagasan bagus untuk mengatasi masalah. Ada yang bisa ini-itu. Ada yang,... dan seterusnya.

 

Melalui WAG-RT, Pak RT menulis pengandaian; Jika semua warga dipangkas duit simpenannya 2,5% terus dikumpulin di satu titik, kemudian dibagi rata pada masyarakat di RT dengan aturan (1) Keluarga pantas bantu tetap tiap hari selama pandemi, (2) Pantas bantu tetap seminggu sekali, (3) Pantas tidak dibantu tapi pantas membantu (artinya selain beban rata-rata 2,5% tadi juga masih ditambah apalagi gitu).

Setelah sepakat, maka dijalankanlah program itu. Karena bagus, di RT lainnya, ternyata mengikuti jejak itu. Namun di RT yang kaya, tak ada yang pantas dibantu. Mereka putuskan membantu RT terdekat. Kalau terjauh, nanti dikira menghina tetangga terdekat nggak punya kepekaan dan kepedulian sosial. 

Kalau satu RT miskin semua? Nggak mungkinlah, kecuali pelit. Seinget saya, di desa pengemis di wilayah Gunung Kidul dulu (sekarang sudah enggak sih, nggak usah baper), ada pengemis yang kaya dan ada pengemis yang miskin. Tak pernah ada mengemis antarpengemis. Biasanya pengemis yang baik nolong pengemis yang lebih miskin. Misal meminta tolong mijitin, terus dibayar sesuai kesepakatan.

Karena rakyat tidak stress, tidak diasingkan di rumah aja, tapi diajari juga meningkatkan produksi antibodi, tubuh dan jiwa sehat, coronavirus pun bisa dihindari. Apalagi mereka juga makan-makanan sehat, karena adanya memang cuma itu. Kalau nyayur daun kelor kan sehat, bisa ditanem di rumah dan cepet tumbuh. Bukan yang keneh-keneh, tapi di sisi lain mengundang berbagai bibit virus. 

Lagian, himbauan di rumah saja tanpa solusi, tidak kecerdasan yang membuat aturan. Bayangkan, Mbokde Mul yang kuli gendong pasar Beringharjo, disuruh meningkatkan produktivitas dengan WFH. Mau pantomim ngangkut penderitaannya? Siapa yang gendeng coba? Emangnya sudah ngubungi Jemek Supardi, atau Eswe bikin tutorial latihan pantomime? 

Demikianlah kehidupan di RT yang saya ceritakan itu. Mereka menjalankan sesanti Bung Karno, bergotong royong. Hingga pandemi coronavirus bisa ditanggulangi dengan lancar jaya. 

Tapi itu bohong!

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Thursday, May 14, 2020 - 21:15
Kategori Rubrik: