Jejak "Sukses" Aher Selama 10 Tahun

Oleh : Rudi S Kamri

Kalau ditanya apa jejak sukses seorang Ahmad Heryawan alias Kang Aher selama berkuasa di Gedung Sate selama 2 periode ? Pasti hampir semua kompak menjawab BUKAN di jejak sukses pembangunan di Jawa Barat. Mereka termasuk saya punya pandangan yang sama bahwa Aher telah "sukses" memPeKaeSkan Jawa barat. Semua lini kehidupan di Jawa Barat hampir rata-rata dicuci otak ala PKS. 

Di sekolah-sekolah Rohis gencar merekrut dan mem-brainwash para anggotanya. Di kampus- kampus cuci otak yang dilakukan Lembaga Dakwah Kampus merangsek sampai ke otak primitif para mahasiswa. Di pemukiman dan perkampungan gencar semarak perkasa pengajian model halaqoh/liqo dan pengajian umum majelis taklim aroma PKS menyusup deras ke otak para ibu-ibu dan Bapak-bapak. Melalui para ustadz dan ustadzah yang sudah bersertifikat Anti NKRI dan Pancasila mereka gencar menyerang kewarasan sebagian masyarakat Jawa Barat. Pada saat croc-brain mereka terlindas, akal sehat mereka jadi lumer tidak berbentuk. 

 

Mengapa masyarakat Jawa Barat begitu mudah terpapar paham nyeleneh seperti ini ? Akar masyarakat yang religius tapi anti kemapanan mulai jaman DI/TII Kartosuwiryo dan NII sampai sekarang membuat sebagian masyarakat Jawa Barat begitu rentan terhadap gerakan cuci otak yang dikemas dengan bungkus agama. Ketaatan yang berpola "cultish behavior" yang tinggi kepada pendakwah agama juga membuat sebagian masyarakat Jawa Barat begitu mudah pasrah berserah ditekuk akal sehatnya.

Kondisi ini yang membuat cuci otak ala PKS bersambut dengan sukses di Jawa Barat. Pada saat otak primitif mereka sudah terpapar, begitu ada HOAX bahwa Jokowi PKI dan hoax lainnya langsung diserap sebagai sebuah kebenaran oleh sebagian besar masyarakat Jawa Barat. Cara berpikir ala POST TRUTH pun menjadi ciri khas sebagian masyarakat di Jawa Barat 10 tahun terakhir ini. Kebenaran dianggap kebohongan dan kebohongan mereka sembah- sembah sebagai suatu kebenaran. Berpikir logika terbalik ini terjadi pada sebagian besar orang di Jawa Barat. Karena itu tidak aneh ujaran kebencian dan HOAX paling laku keras dijual di daerah ini pada Pilpres 2019 lalu. Dan kondisi seperti ini semakin tambah mengkristal saat dikapitalisasi pada Pilgub Jabar 2018 lalu. 

Gencarnya pemberitaan media sosial yang berisi HOAX, gencarnya pasukan darat PKS dan kelompok pro khilafah mencuci otak sebagian masyarakat selama hampir 10 tahun dan ditambah melempemnya Tim Kampanye Daerah dan Nasional Jokowi, amat sangat masuk akal kalau Jokowi kembali tak berdaya di wilayah ini. 

Saya bisa katakan sebagian besar dari 60% orang pemilih Paslon 02 pada Pilpres 2019, mereka mempunyai PERSEPSI YANG SALAH tentang Jokowi. Mereka sudah termakan HOAX dan ujaran kebencian yang marak selama bertahun-tahun tentang Jokowi. Dan itu tidak mudah dihapuskan dengan pencerahan yang hanya berlangsung beberapa bulan. 

Inilah warisan "kesuksesan" Kang Aher selama berkuasa di Jawa Barat. Dan kondisi seperti ini tidak mudah dirubah dengan cara-cara instan. Dengan performa TKD yang ogah- ogahan turun ke bawah dan tipikal pemimpin yang populis seperti Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi memang sudah diprediksi Jokowi akan sulit menambah jumlah suara di Jawa Barat. Sedangkan dari partai koalisi hanya PDIP yang terlihat lumayan gigih turun ke masyarakat, partai lainnya ? Cari aman masing-masing. 

Laju kekalahan Jokowi lumayan tertahan karena gerakan militan dari relawan pendukung Jokowi yang tak kenal lelah menyusup ke kantong-kantong masyarakat yang selama ini dikuasai kubu sebelah. Tanpa dukungan dari para relawan intelektual dan relawan organik rasanya kekalahan Jokowi di Jawa Barat akan semakin besar. 

Ini PR besar buat Ridwan Kamil ke depan. Apakah dia berhasil "menormalkan" kembali arah pemikiran warga Jawa Barat menjadi NKRI'ers atau tetap membiarkan Jawa Barat menjadi provinsi beraroma syar'iah ? Apakah dia mampu mempengaruhi masyarakatnya untuk lebih banyak mengibarkan bendera merah putih daripada bendera hitam ? Atau dia tetap menikmati dan mempertahankan gaya pencitraan di media sosial seperti selama ini ? Kita tunggu saja kiprahnya 5 tahun ke depan.

Yang jelas kekalahan Jokowi di lumbung suara terbesar di Indonesia ini harus menjadi bahan evaluasi yang serius bagi Timses resmi Jokowi-MA.

Ini hanya analisa yang tidak banyak gunanya. Hanya sekedar untuk bahan cerita ke anak cucu saya. Biar mereka tetap gigih menjaga NKRI dan Pancasila seperti Bapak atau kakeknya. Semoga....

Salam SATU Indonesia

 

(Sumber: facebook Rudi S kamri)

Monday, May 13, 2019 - 00:00
Kategori Rubrik: