Jejak Pengalaman Indonesia Atasi Krisis

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Pada 16 Agustus 1945..., malam hari...; Soekarno dan Hatta, diundang ke kediaman Laksamana Maeda..., Jalan Imam Bonjol Nomor 1.

Rumah ini..., dipakai Soekarno untuk rapat menyusun naskah proklamasi.

Maklum ketika itu keamanan Jakarta sangat mencekam.

Tentara Jepang walau sudah kalah terhadap sekutu..., namun punya kewajiban menjaga wilayah Indonesia sampai terjadi handover ke sekutu.

Perwira Jepang itu..., mengijinkan lantai dua rumahnya digunakan tempat meeting.

Yang hadir dalam rapat itu..., adalah anggota PPKI..., para pemuda pejuang..., dan tokoh terpelajar.

Memilih rumah perwira Jepang untuk rapat adalah cara aman..., apalagi rapat menyusun naskah kemerdekaan.

Setelah naskah Proklamasi selesai dibuat..., Hatta minta agar semua yang hadir ikut menanda tangani naskah itu.

Suasana hening..., tidak ada satupun yang bersedia menandatanganinya.

Karena saat itu situasi sangat mencekam..., dan resiko dibedil Jepang juga besar..., serta situasi serba tidak pasti...; para perserta rapat PPKI itu meminta Soekarno dan Hatta saja yang menandatanganinya.

Padahal..., kalaulah semua anggota PPKI itu menandatangani naskah proklamasi..., belum tentu yang jadi presiden adalah Soekarno.

Andaikan Jepang sebagai pemenang perang terhadap sekutu.. , dan Jepang melaksanakan janjinya memerdekakan Indonesia..., mungkin para anggota PPKI itu berebut ingin tandatangan.

Kelak setelah itu..., revolusi pecah dan bau amis darah merebak di mana-mana..

Itu bukanlah karena peran anggota PPKI..., tetapi memang terjadi begitu saja akibat kemarahan rakyat yang lapar.

Sifat represif tentara Jepang terhadap gelombang aksi itu..., justru semakin memperbesar api revolusi...; sehingga tidak bisa lagi dipadamkan.

Hal demikian juga terjadi..., pada saat pilpres 2014.

Paska krisis jatuhnya Lehman tahun 2008..., dan kemudian terjadi gelombang krisis keuangan global..., yang puncaknya tahun 2013...; tahun 2014 Pemilu digelar di Indonesia.

Saat itu Kas Negara negatif..., tidak banyak elite yang berani tampil.

Maka munculah Jokowi..., yang bukan elite politik ke panggung politik.

Orang memilih Jokowi bukan karena ia PDIP..., tetapi orang muak dengan elite politik Orba yang masih eksis di era reformasi.

Andaikan tidak ada krisis..., dan ekonomi baik baik saja...; pasti Jokowi tidak akan tampil.

Setiap pemimpin lahir pada masanya...; bukan karena dia hebat..., tetapi karena tangan Tuhan.

Dan jatuhnya pemimpin..., juga karena Tuhan.

Hubungan sebab akibat..., terjadi secara spontan juga.

Dan mereka menjadi hikmah bagi semua orang.

Dalam bukunya..., Tan Malaka menuliskan...; bahwa revolusi lahir secara alami dan tidak bisa diciptakan oleh tokoh politik.

Sedang motor utamanya adalah rakyat yang tertindas..., atau yang disebut massa aksi.

Itulah sejarah..., kadang muncul suatu hal yang tak terduga.

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Thursday, July 16, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: