Jejak Kelam Ibu-Anak Allie, Intelijen TNI Kebobolan?

Oleh: Rudi S Kamri

Salahkah HADIATI BASJUNI ALLIE saat Pilpres 2019 menjadi pendukung militan Prabowo ? Tidak salah. Itu hak dia sebagai warga negara Indonesia yang dijamin UUD. Menjadi salah saat dia begitu kekeuh memuja berlebihan ideologi khilafah dan begitu kasar dalam level kampungan dia menghina dan mencaci Kepala Negara dengan ujaran kebencian yang luar biasa biadab.

Hadiati Basjuni Allie mungkin otaknya sudah menjadi kumuh terpapar virus khilafah saat dia melakoni perannya sebagai kader PKS. Artinya kalau dia pendukung fanatik PKS sudah bisa dipastikan dia pendukung ideologi khilafah garis Ikhwanul Muslimin bukan kelompok HTI. Meskipun madzab perjuangan kelompok mereka berbeda, tapi ideologi besar mereka sama-sama yaitu ideologi khilafah. Dan saya sangat haqul yaqin ideologi khilafah masih kuat mengental dalam darah Hadiati Basjuni Allie sampai saat ini. Dugaan saya terbukti dari postingan FB Hadiati di bulan Desember 2018 yang semangat mengelu-elukan ideologi khilafah.

 

Mari kita soroti ke anaknya ENZO ALLIE. Tunas muda berdarah Indo Perancis ini beberapa hari lalu menjadi spotlite media saat diajak ngobrol oleh Panglima TNI dengan menggunakan bahasa Perancis. Entah karena tertarik dengan Panglima TNI yang lagi pamer kefasihannya dalam bahasa Perancis atau karena Enzo Allie berwajah tampan, video itu menjadi viral. Dan keviralan video tersebut rupanya jalan Tuhan untuk menguak siapa sejatinya pemuda Enzo itu. Pemuda yang bangga mengibarkan bendera khilafah dan semangat menghujat Pemerintah.

Bagaimana mungkin anak muda yang gandrung dengan bendera khilafah dan anak dari seorang emak militan pejuang khilafah bisa lolos test masuk Akmil ?

Saya belum berani mengatakan Enzo Allie sudah terpapar virus khilafah. Mungkin hanya ikut- ikutan ibunya. Mungkin hanya sok gagah mengibarkan bendera khilafah sambil mencaci maki Pemerintah cq Presiden Jokowi. Tapi apapun madzab dan ideologi yang dianut oleh Enzo Allie, saya SANGAT MENYESALKAN kecerobohan filter seleksi dalam perekrutan taruna Akademi Militer Indonesia. Bagaimana mungkin anak dari pengikut khilafah bisa lolos jadi Tentara Penjaga Negeri ?

Menurut pengamat intelijen Indonesia yang intens mengamati perkembangan intelijen negara SUHENDRA HADIKUNTONO, kejadian ini menandakan fungsi intelijen TNI tidak bekerja dengan semestinya. Suhendra mengatakan hal ini seharusnya tidak perlu terjadi. Karena kalau benar ternyata ada upaya penyusupan kader pro khilafah ke dalam institusi TNI, hal ini akan membahayakan TNI dan negara. Menurut beliau, fungsi intelijen yang paling utama adalah mencegah dan menangkal bukan penindakan dan dengan kejadian ini menandakan fungsi cegah-tangkal dari intelijen TNI tidak bekerja dengan baik.

Sekali lagi ini pelajaran yang paling berharga dari kita semua. Dengan beruntunnya kasus yang menimpa negeri ini mulai tragedi Bank Mandiri, Blackout PLN dan peristiwa lainnya, harus dijadikan momentum bagi intelijen negara untuk mempertajam daya endusannya untuk memantau pergerakan kaum pro khilafah. Dengan kegagalan total mereka menunggangi Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019, saya meyakini mereka akan berupaya keras melakukan aksi infiltrasi ke segala lini vital di negeri ini. 

Mungkin saatnya perlu dipikirkan bahwa institusi intelijen negara tidak lagi dipegang oleh politisi, polisi atau militer. Tapi seperti negara-negara lain di dunia seperti CIA, KGB atau MI6 selayaknya institusi intelijen negara dipegang oleh orang sipil yang mumpuni di bidang intelijen agar daya tangkal dan daya endus intelijen negara kita lebih fokus dan tajam. Mudah-mudahan ini momentum emas bagi Presiden Jokowi untuk lebih jeli menentukan orang-orang yang tepat untuk membantu pekerjaan besar beliau untuk Indonesia.

Selanjutnya kita tunggu saja langkah kongkrit TNI untuk mengambil tindakan tegas dan nyata dalam kasus Enzo Allie.

Salam SATU Indonesia

 

(Sumber: Facebook Rudi S Kamri)

 
Thursday, August 8, 2019 - 22:15
Kategori Rubrik: