Jejak Cak Nur Di Jerman

ilustrasi

Oleh : Suratno Muchoeri

Almarhum Nurcholish Majid (1939-2005) atau Cak Nur, sang pendiri Paramadina, ternyata juga punya jejak di Jerman. Pada 17 Juni 1969, bertempat di Bilal-Moschee/Masjid-Bilal kota Aachen Negara Bagian NRW/Nord-Rhein-Whestfalen Jerman, Cak Nur sebagai wakil HMI/Himpunan Mahasiswa Islam & beberapa utusan organisasi Mahasiswa Islam lainnya dari seluruh penjuru dunia mendirikan IIFSO (International Islamic Federation of Student Organization).

Masjid-Bilal sendiri merupakan masjid tertua-kelima di Jerman. Dibangun antara tahun 1964-1968 oleh para pekerja-Muslim Turki yang ada di kota itu. Lokasinya di Professor-Pirlet-Straße 20 Aachen, dikompleks RWTH (Rheinische Westphalishce Technishe Hochschule), kampusnya almarhum Pak Habibie, hehhe. Di awal berdirinya, Masjid Bilal hanya berkapasitas sekitar 200 orang, tapi sejak renovasi ditahun 1979 kapasitasnya jadi sekitar 700 orang termasuk ruangan untuk Perempuan sekitar 100 orang.

Setelah IIFSO terbentuk, Cak Nur menjadi wakil-sekertaris-jendral/wasekjend-nya. Anggota2nya dari beberapa organisasi Mahasiswa Islam seperti HMI, MSAA (Moslem Student Association of America-Canada), UFSE (Union of Function Student of Europe), Jam’iyyah Tholabah yang merupakan underbow Jamaat Islami-nya Al-Mawdudi, dan lain2nya.

Menurut M. Wahyuni-Nafis dalam bukunya “Cak Nur Sang Guru Bangsa (2014)“, Cak Nur dulu merasa kurang cocok dengan IIFSO karena mayoritas orang2 yang aktif & trlibat didalamnya berideologi Ikhwanul Muslimin (IM) & sedang dalam pengasingan.

Saya kira ini ada benarnya. Karena menurut Alison-Pargeter dalam bukunya ”The Muslim Brotherhood (2013)“ dijelaskan bahwa jika dulu Cabang Ikhwanul Muslimin-Mesir menjadikan Muenchen sebagai basis operasinya di Jerman, maka Aachen dipilih menjadi basis operasi oleh Cabang Ikhwanul Muslimin-Syiria. Masjid-Bilal di Aachen lalu menjadi seperti magnet bagi aktivis2 Islam, termasuk para Ikhwan dari Syiria yang kabur dari negaranya karena represi politik.

Selain itu, Jerman (Barat) dulu juga memang menjadi tempat penting para pengungsi selama perang Sovyet & Perang Dingin karena Jerman saat itu terbuka bagi para pengungsi dari negara2 Arab. Tokoh Ikhwan yang ngungsi ke Aachen antara lain Mohamed Hawari. Anak perempuan Hassan al-Huwaidi & keluarga-nya juga ngungsi ke Aachen, sehingga al-Huwaidi tokoh Ikhwan itu juga selalu menjadikan Aachen sebagai base-camp setiap kunjungannya ke Eropa.

Wah trnyt cerita Cak Nur dan jejaknya di Jerman jadi panjang dan nglantur kemana2, hehhe. Karena 29 Agustus 2020 akan bertepatan dgn haul ke-15 beliau, mari kita2 sama kirim doa untuk almarhum, lahul faatihah....

Danke schoen.

Sumber : Status Facebook Suratno Muchoeri

Sunday, August 2, 2020 - 13:30
Kategori Rubrik: