Jebakan Isu Humanis

ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Salah satu kelebihan yang dimiliki NU adalah karakter Humanisnya. Dalam kehidupan sosial keagamaan, jarang sekali menampilkan "wajah seram". Hampir tak pernah melakukan sweeping apalagi persekusi. Bahkan sering membantu menjaga Rumah Ibadah Agama lain saat momen Hari Raya. Sikap Toleransi tinggi itulah yang menjadi karakternya.

Namun dalam perjalanannya, Jama'ah NU juga beberapa kali hampir terjebak oleh isu2 yang bersifat Humanis tersebut. Contohnya tentang wacana 'pembatasan' penggunaan TOA (pengeras suara) dengan semangat toleransi yang mencuat sekitar dua tahun lalu. Dan saya termasuk yang menentang usulan tersebut. NU sudah banyak "kehilangan" Masjid dengan ditandai pensiunnya Bedug. Jika penggunaan TOA dibatasi. Dan pengajian atau Majelis Ta'lim diisi oleh para Ustadz berpaham radikal. Kemudian materi dan indoktrinasi disampaikan dalam "senyap". Jangan kaget jika kita akan kehilangan negara. Alhamdulillah wacana pembatasan TOA akhirnya mereda.

Kini NU kembali menghadapi polemik yang bersifat Humanis (lagi). Dimana wacana pemerintah yang akan membuka kegiatan Pesantren secara bertahap. Kali ini pemerintah dianggap "membunuh" pesantren ditengah Pandemik. Benarkah demikian?

Jika bicara masalah keberpihakan Pemerintah Jokowi kepada Pesantren, setidaknya terdapat dua kontribusi rezim ini terhadap Pesantren. Pertama adalah ditetapkannya Hari Santri, sedangkan yang kedua adalah lahirnya UU Pesantren. Bahkan UU ini telah memberikan "privilege" kepada Pesantren bahwa Ijazahnya sudah diakui setara dengan sekolah Pendidikan Umum.

UU Pesantren juga telah menyelamatkan dari wacana dileburnya Pesantren ke dalam Kementerian Pendidikan dan tidak di bawah naungan Kemenag lagi. Padahal jika melebur dalam Kemendikbud, konsekwensi penerapan zonasi akan berlaku juga bagi Pesantren. Akibatnya, pesantren2 otentik milik NU khususnya yang di Jawa, tidak dapat menerima santri di luar zonasi. Disisi lain, terdapat kelompok yang akan menyiapkan pesantren2 berpaham radikal yang rencananya disebar jika zonasi nantinya diterapkan. Untung rencana ini digagalkan dengan disahkannya UU Pesantren.

Nah, jika kemudian wacana pembukaan kegiatan Pesantren secara bertahap dianggap sebagai "membunuh" Pesantren, bukankah justru Pesantren bisa dijadikan sebagai cluster 'Zona Hijau' yang aman dan terisolasi? Tinggal bagaimana teknis screening para santri dipastikan status 'hijau' dulu sebelum masuk Pondok. Dan jika nantinya Pondok Pesantren terbukti sebagai zona paling aman, trend dan minat pendidikan terhadap Pesantren juga akan lebih meningkat. Apalagi jika merujuk Kajian Falak NU bahwa Bintang Najm atau Tsurayya menjelang terbit sebagai penanda akan berakhirnya Wabah. Tentu anggapan "bunuh" Pesantren bukanlah pada tempatnya. Dan saya yakin tokoh2 NU jauh lebih peka akan hal ini.

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Sunday, May 31, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: