Jawaban Bakhtiar Nasir Ke Penyidik Yang Tersebar Di WA, Hoax

ilustrasi

Oleh : Munawar Khalil

Berikut jawaban UBN sa'at di tanya penyidik :

Penyidik : sebutkan berpa rumah dan tanah yang anda miliki ?

UBN : saya tidak punya rumah dan tanah, yang saya tempati milik mertua saya

Penyidik : berapa kendaraan anda ?

UBN : 1 buah kijang lama dan 2 motor supra

Penyidik : sebutkan harta lainnya ????

UBN ( melamun dan mata berkaca 2 )

Penyidik : kenapa anda menangis ???

UBN : saya teringat neraka , di dunia saja sudah demikian rinci di tanya tentang harta , apa lagi nanti di akhirat, semua pasti di minta pertanggung jawaban yang kita tidak akan bisa mengelak nya ...

Penyidik ( dengan wajah galau ) : waaahh ustadz ..saya jadi takuut ..!!

Copas *.

( ciri ciri org ingat akhirat tdk cinta dunia ).
Yaa Allah , rumah saja beliau tak punya , masak di tuduh money laundry ? Lindungilah BeLiau yaa Alloh dari keburukan apapun . Aamiin
_______________________________________

Inilah percakapan yang sedang masif beredar di WAG terutama di internal Persyarikatan yang kemudian diaminkan dengan aroma kesedihan yang mendalam sebagai tanda simpati oleh seluruh anggota.

Ini jelas sekali HOAX, karena sampai saat ini UBN sama sekali belum diperiksa, bahkan sudah panggilan ketiga yang bersangkutan tidak datang.

Orang atau kelompok yang membuat percakapan seolah pemeriksaan tersebut bertujuan ingin menggiring opini umat Islam, bahwa ulama dan tokoh ini adalah orang yang zuhud dengan dunia, tidak bersalah, dan tentu saja ia adalah ulama yang dikriminalisasi oleh rezim berkuasa sekarang untuk membungkam Islam dan tokoh agama yang berseberangan.

Perlu diketahui, untuk menjadikan seseorang sebagai tersangka itu membutuhkan dua alat bukti kuat yang didapatkan dari tahapan-tahapan penyelidikan. Apalagi sebelum UBN sendiri sudah terlebih dulu dijadikan tersangka dua orang, yaitu ketua yayasan dan mantan bankir yang membantu proses transaksi berjalan. Otomatis kedua orang inilah yang memberikan informasi detail yang kemudian menaikkan status UBN dari penyelidikan ke penyidikan.

Untuk kasus TPPU sumber informasinya pastilah berasal dari transaksi keuangan yang tidak wajar melalui perbankan. Dan ini ada lembaganya yang memantau yaitu PPATK. Sehingga traffic transaksi yang tidak wajar pasti membuat alarm mereka berbunyi.

Jadi penetapan diri seseorang dalam sebuah kasus hukum itu tidak ujug-ujug tanpa adanya alat bukti yang kuat.

Kasus di atas hanyalah salah satu contoh kecil diantara ribuan hoax yang dihembuskan untuk mendukung tujuan politik kelompok tertentu, karena mereka paham muslim memang mudah sekali tersulut.

Inilah yang terjadi massif saat ini. Betapa mudahnya muslim menerima kemudian menelan informasi menyesatkan tanpa melakukan tabayyun terlebih dahulu ketika sebuah kabar itu datang. Apalagi jika informasi tersebut menggugah rasa sensitifitas kita terhadap agama.

Kelemahan muslim inilah yang dimanfaatkan oleh pembuat-pembuat hoax tersebut untuk membakar rasa amarah yang ujung-ujungnya adalah menggerakkan mereka untuk anti dan mendelegitimasi kepercayaan terhadap pemerintahan yang sah agar muncul cap bahwa pemerintah anti Islam.

Sudah saatnya kita menatap kedepan dan berlepas dari hiruk pikuk perbedaan pilihan politik yang tajam. Terimalah setiap ketetapan yang keluar dari proses demokrasi yang sudah kita ikuti dan sepakati. Dan yang terpenting berhati-hati dengan setiap kader yang berlindung di Muhammadiyah tapi mempunyai misi tersendiri di luar kepentingan Muhammadiyah.

Yakini bahwa setiap tindakan hukum yang dilakukan seorang muslim adalah tanggung jawab pribadi muslim itu sendiri kepada Allah dan aturan hukum yang berlaku, tidak ada hubungannya dengan Persyarikatan, apalagi agama.

Dan jangan lupa, konsep Muhammadiyah bahwa negara Pancasila itu adalah 'Darul Ahdi Wa Syahadah' tidak akan pernah bergeser sedikitpun.

Sumber : Status Facebook Munawar Khalil

Monday, May 13, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: