Jawa Nanging Ora Jawa

ilustrasi

Oleh : Ajun Pujang Anom

Judul di atas, jika diterjemahkan secara text to text ke dalam Bahasa Indonesia menjadi "Jawa tapi tidak Jawa". Istilah ini dulu seringkali muncul, bila ada tindakan seseorang (masih muda) melakukan sesuatu yang kurang beretika. Dari sini bisa dilihat, bahwa orang Jawa selalu memandang nilai-nilai kedewasaan dan kebijaksanaan sebagai bagian dari dirinya. Makanya jika ada tindakan yang melanggar, akan dianggap bukan bagian dari mereka. Tentu cara pandang ini, mau tak mau bagi pihak lain, diduga sebagai bentuk kesombongan seorang manusia. Sebab bagaimana mungkin seorang manusia mampu selalu tampil sempurna. Secara normal, pastinya mustahil.

Dan inilah salah satu alasan yang memicu munculnya Javanologi. Ilmu yang mengulik tentang budaya Jawa. Ilmu ini mencoba menelusuri sejauhmana manusia Jawa memposisikan dirinya dalam kedudukan materialisme dan spiritualisme. Sebab kalau membaca konsep di paragraf awal, orang Jawa seakan menihilkan duniawi. Tentu jika hal ini diketemukan dengan di fakta lapangan, menjadi sangat kontras. Manusia Jawa tak jauh beda dengan manusia-manusia lainnya. Haus juga dengan keberlimpahan harta.

Sebenarnya kesalahpahaman ini dapat sedikit terobati, jika mau menengok Aksara Jawa. Sebelum mengulas lebih jauh, kita bahas sedikit tentang sejarahnya. Aksara Jawa ini biasa dikenal dengan sebutan Layang Hanacaraka atau cukup Hanacaraka saja. Sebelum dikenal dengan sebutan tadi, lebih sering teks-teks yang ada sebelum abad ini (sekitar abad 18-19), menyebutnya dengan Carakan. Mengapa bisa, dari Carakan berubah menjadi Hanacaraka? Besar dugaan saya, ini terjadi karena pengaruh kolonial pada waktu itu. Sebab aksara mereka disebut Alphabet yang merupakan huruf akronim dari dua huruf pertama dari aksara Yunani, alpha dan beta. Yang merupakan induk dari aksara modern sekarang ini. Dari sinilah kemungkinan huruf awal dari Carakan, yaitu Ha, Na, Ca, Ra, dan Ka, diambil menjadi nama aksara ini. Padahal aksara ini sesungguhnya mempunyai nama resmi sendiri yaitu Dentawyanjana. Yang bila diartikan menjadi Aksara Gigi.

Aksara Jawa ini dimitoskan dari kisah yang termaktub dalam Serat Ajisaka, yang menceritakan konflik antara Dora dan Sembada. Mereka berdua adalah abdi setia dari Ajisaka. Dan untuk memberikan pepeling (nasihat) atas perselisihan tadi. Maka Ajisaka mengabadikannya dalam wujud aksara berjumlah 20 buah. Dan inilah terjemahan dari keduapuluh aksara itu:
Ha Na Ca Ra Ka
(ada utusan)
Da Ta Sa Wa La
(mereka bertikai)
Pa Dha Ja Ya Nya
(Sama-sama kuat)
Ma Ga Ba Tha Nga
(akhirnya menemui ajal)

Dari terjemahan di atas (dan disertai dengan kisah lengkapnya di Serat Ajisaka), maka bisa dipetik pemahaman. Bahwa manusia selalu merasa benar, dan menunjukkan dengan mati-matian. Klaim sepihak ini tentunya berdampak, bahwa selain mereka adalah kaum yang salah. Padahal bukan itu, alasan mereka diciptakan. Berusaha bersama mencari kebenaran sejati. Inilah yang menurut orang Jawa dijadikan kompas bagi perjalanan hidupnya. Agar selalu di bawah payung kebenaran. Makanya bila ada yang melakukan kekeliruan, pasti akan ditegur. Dan hal ini, cenderung secara psikologis hanya untuk anak muda. Sebab mereka ini digolongkan, makhluk yang labil dan harus selalu dituntun. Dengan melihat makna yang ada ini, dimungkinkan akan sedikit mereduksi kesalahpahaman tadi. Sebab dapat dikatakan, manusia Jawa tetap sama seperti manusia lain. Meskipun memakai istilah Jawa dengan pengertian, yang benar, bijaksana, dewasa, dan sopan santun dalam segala hal. Baik dalam pikiran, perasaan dan perbuatan. Dan saya rasa hal ini semacam auto sugesti atau tagline-lah.

Sumber : Status Facebook Ujang Pujang Anom

Thursday, July 9, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: