Jargon Latah Prabowo

Oleh : Guntur Wahyu N

Tanpa sungkan dan malu, Prabowo mengidentikkan dirinya dengan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat yang bigot, rasis dan doyan menyebar hoax. Amerika Serikat sedang menjemput takdir hitamnya sendiri dengan memberi karpet merah kepada Trump. Namun ada konsekuensi yang harus dibayar, berlangsung perang dagang yang masif dalam skala global, berimbas negatif pada perekonomian dunia akibat ulahnya yang kekanak-kanakan. Amerika Serikat sedang dihukum akibat kebijakan internasionalnya yang banyak menyengsarakan negara-negara yang berseberangan kepentingan dengannya. Trump adalah hukuman itu.

Dan kini dengan bangganya, Prabowo menduplikasi jargon Trump "Make America Great Again" menjadi "Make Indonesia Great Again". Boleh jadi Trump memimpikan Amerika Serikat sebagai negara adidaya sebagaimana jaman pemerintahan pemerintahan George W Bush (2001-2009) yang menunjukkan kedigdayaan militernya dengan menghancurleburkan Iraq secara unilateral tanpa mandat dari PBB. AS tampil penuh percaya diri sebagai kekuatan superior. Bukannya memandang ke depan, Trump memimpikan Amerika Serikat pada masa yang telah lampau.

Lalu, apa yang dimaksud oleh Prabowo ketika mengusung tagline "Make Indonesia Great Again" ? Kejayaan masa silam yang mana yang ingin dihadirkan kembali oleh Prabowo ? Kejayaan Kerajaan Sriwijaya, Majapahit ataukah kejayaan Pemerintahan Junta Militer Orde Baru ? Patut diduga kejayaan yang dimaksudkan ialah kejayaan di masa Mertuanya, Soeharto berkuasa. Bukankah itu impian orang yang sakit, yang menginginkan pemerintahan saat ini yg sudah dalam proses kebangkitan menjadi negara maju digantikan dengan pemerintahan anti-demokrasi yang tiranik ?

Dugaan itu layak untuk dikemukakan sebab faktanya saat ini publik menyaksikan kekuatan cendana dan sisa-sisa kekuatan Orde Baru sedang menggeliat dan mengonsolidasikan dirinya supaya dapat berperan secara lebih signifikan dalam kekuasaan ekonomi-politik pada 2019. Prabowo dilihat sebagai figur yang membuka jalan kepada kekuasaan. Berbeda dengan mimpi Jokowi yang visioner, Prabowo justru memimpikan masa silam yang kelam yang dianggap sebagai masa keemasan dan kejayaan bangsa Indonesia. Intinya, Prabowo menawarkan mimpi buruk kepada bangsa Indonesia. Dengan retorikanya ia mengajak bangsa Indonesia untuk menuju pada masa kegelapan yang paling kelam dalam sejarah Republik ini berdiri.

Dengan level kepedeannya yang tembus langit ketujuh, ia memilih narasi yang emosional untuk menulari rakyat Indonesia dengan ketakutan sampai prediksi Indonesia bubar pada 2030 apabila ia tidak diberi mandat oleh rakyat Indonesia pada 2019. Jargon yang telah dengan latah ia gembar-gemborkan sesungguhnya mengandung cacat historis yang parah. Prabowo buta sejarah dan dalam dirinya menampilkan representasi kebangkitan Orde Baru.

Ketika Orde Baru sebagai representasi pemerintahan pencipta dan pemelihara HOAX terbesar dijadikan sebagai contoh par excellent, kita dapat mengerti dan memahami betapa mudahnya orang-orang yang merapat ke barisannya cenderung tidak bermasalah dengan menggunakan segala cara untuk memastikan junjungannya berkuasa. Hoax, fitnah, kepalsuan, kebohongan, SARA dan ujaran kebencian menjadi senjata utama sekaligus code of evil yang mempersatukan barisannya.

Prabowo telah membawa masuk dunia pasca kebenaran ( Post Truth Era ) ke dalam kampanye, caranya hadir dan bertindak. Dunia yang mana kebenaran ditentukan oleh emosi dan keyakinan subyektif, dunia yang menolak data dan fakta dan menggantikannya dengan retorika, jargon tanpa makna serta relativisme nilai dan moral. Dan kembali demokrasi menghadapi tantangan yang serius yang apabila gagal, akan membawa Indonesia pada masa-masa kegelapan Orde Baru.

 

Sumber : facebook Guntur Wahyu N

Thursday, October 18, 2018 - 10:00
Kategori Rubrik: