Jare Lungo Mung Sedelo

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

(Katanya Pergi Hanya Sebentar)

Kehidupan dunia fana ini memang seperti pergi yang hanya sebentar. Seperti pada lagu Stasiun Balapan. Sang Seniman telah menulis lirik lagu itu, yang mengawali sekaligus mengakhiri kepergiannya menghadap Sang Khaliq. Solo adalah latar pertama sebelum sang seniman ngambah ke seribu kota dan kemarin menjadi kota terakhir.

Seniman hidupnya dari panggung ke panggung, jadi capek. Didi Kempot seperti juga Mamiek Prakoso abangnya almarhum yang pelawak, meninggalkan pesan kuat tentang konsistensi. Bertahan pada jalur yang telah dipilihnya. Mamiek sebagai pelawak dengan model rambutnya yang khas, Didi dengan lagu berbahasa jawa dengan tema patah hati. Buah konsistensi ini telah mendudukan keduanya sebagai seniman yang terbilang di pentas seniman Indonesia.

Kepergiannya kemarin menorehkan luka yang mendalam bagi Sobat Ambyar. Fans-nya yang selalu memadati konser Didi dimanapun berada. Ada bahasa jiwa yang kadang histeris antara sosok Didi dan lagunya dengan penggemarnya. Seperti ada hubungan yang mempersatukan antara keluh kesah masyarakat yang hendak ditumpahkan dalam lagu-lagu Didi.

Lagu Pamer Bojo misalnya. Bagi penggemar awam mempersepsi bojo sebagai makna isteri. Namun dalam makna mazazi atau metafor adalah segala bentuk kemewahan kaum hedon Indoneaia yang menyakiti hati saudaranya yang susah. Negara menjadi alat orang berkuasa menghegemoni rakyatnya sendiri. Sebuah kekuasaan yang keluar dari makna falsafahnya yang disepakati sejak negara ini berdiri. Kenestapaan dan perasaan merana rakyat Indonesia ini ditampung dalam karya-karya sang seniman. Didi menggoreskannya dalam syair-syair sederhana yang akrab dengan rakyat. Tapi Didi tak mengajak memberontak, ia mengajak sumeleh. Sabar merindukan perjumpaan dengan kekasih.

Realitas proses bernegara hanya menimbulkan sakit hati bagi rakyat kecil. Dulu negara ini didirikan atas motif adanya Amanat Penderitaan Rakyat. Yang terjadi malah sebaliknya rakyat disakiti tiada henti, karena pembesar negeri berkiblat ke gaya Amerika.

Lagu Stasiun Solo Balapan adalah menggambarkan awal perjalanannya di pangggung seni musik. Dan ia berjanji tak akan lama pergi. Dia tak lama pergi, kemarin ia pulang di tengah namanya melambung di pentas musik nasional dikala seni musik sedang mengalami era disrufsi digital.

Sewu Kuto, adalah perjalanannya mengambah kota-kota mengukuhkan pencarian jatidiri sebagai sang seniman sejati. Tak mungkin seorang seniman akan besar tanpa diterima oleh kota-kota seperti Amsterdam Belanda dan Paramaribo Suriname. Lagu Didi dianggap yang bisa menghubungkan antara rantau dan udik.

Suket Teki, Cidro dan Ambyar dalam lagu-lagu ini Didi menangkap hati rakyat yang dikhianati oleh mungkin yang dinamakan "pulitik'. Negara yang didirikan untuk menopang amanat penderitaan rakyat. Jebule penguasa yang menindas. Negara Pancasila telah dibajak ditengah jalan oleh segerombolan oligarky yang sok moralis. Tiap lima tahun diberi janji omong-kosong, tapi apa balasannya ? Suket Teki, rumput yang ternak pun tidak mau makan. Rakyat yang penuh luka batin karena janji yang teringkari. Jadilah orang Indonesia sekarang hidup nyaris seperti orang Bule, hidup sendiri-sendir, individualis. Ambyar. Didik, - dengan kedalaman huduri kesenimanannya menangkap ini. Karenanya lagunya tak jauh dari hati rakyat. Walau semua itu ia kemas dengan sangat sederhana.
Selamat jalan Sang Seniman.

Angkringan Filsafat Pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Friday, May 8, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: