Janji Kita Itu Shirathal Mustaqiem

ilustrasi
Oleh : Harun Iskandar
(Cangkêm é Gak Kênèk Dicêkêl )
Nyonya saya baru dapat WA dari kenalannya. Sebenarnya bukan teman, wong cuma 'kenal' di instagram. Medsos tempat dia posting gambar2 produknya. Furniture unik.
Dari situ Nyonya pesen set meja makan dan dingklik kayu. Persis kayak yang di warung2. Cuma pakai potongan kayu tebal, berlubang, dan kasar. Seperti kayu bekas bantalan rel.
Tanpa tatap muka. Tanpa tahu alamat. Tanpa dengar suara. Komunikasi intens cuma via WA versi tulisan. Modal saling percaya saja. Barang jadi, kirim, lalu bayar . . .
Lancar semua. Barang dikirim ke alamat dengan selamat, dan sesuai spek. Bayaran masuk mulus ke rekening pembuat sekaligus penjual . . .
Di WA itu juga si penjual 'madul', laporan. Ada yang pesan kursi dengan kaki roda dokar. Selesai dibuat, calon pembeli ternyata batalkan pesanan sepihak. Liwat WA juga.
Tentu saja si teman blingsatan. Wong UMKM. Modal pas-pasan. Untung hari ini, mungkin sudah habis minggu depan. Kalau ndak buat makan, ya untuk kulakan.
Ditawarkan ke Nyonya saya. Tolong bantu dibeli. Sayangnya harga ndak murah, juga ndak butuh. Nanti ditaruh dimana . . . ?
Waktu masih kerja dulu, ada bekas rekan kerja yang minta pensiun dini, yang jualan buku. Buku2 agama. Sering mampir ke tempat kerja, terutama hari Jumat. Sekalian ikut Jumatan.
Oleh teman2 yang lain, sering dibagi juga jatah makan siang pabrik. Pikir sahabatnya, lumayan daripada makan di jalan. Toh menu 'pabrikan' ini cukup bergizi.
Sayang buku2, agama, yang dibawa ndak ada yang cocok. Jadi kalau beli ya 'terpaksa' saja. Pernah juga beli ke beliau mushaf AlQuran. Beberapa.
Satu hari ketemu dan ngobrol2, bareng juga yang lain. Madul pula. 'Pak itu' katanya, 'pesan terjemahan Al Quran tapi dibatalkan'. Sepihak juga. Yang beliau sebut pak 'Itu', sudah masuk jajaran 'bos'.
Padahal kitabnya sudah dibawa. Kok batal tiba2. Katanya, kata si bos, istrinya sudah punya . . .
Apa ndak ngênês si bapak penjual kitab tadi. Sudah terbayang untungnya, tapi gagal diraih tangan. Lebih parah lagi kalau si bapak sudah terlanjur keluar modal buat kulakan.
Sebenarnya ndak seberapa rupiahnya bagi si Bos. Tapi bagi si Bapak bisa 'perpanjang napas dan umur', karena untungnya mungkin setara dengsn harga beras satu dua kilo . . .
Karena nurut saya juga ndak seberapa, sekalian bisa buat koleksi, akhirnya saya yang beli . . .
Apa pesan moral dari kedua cerita diatas ?
Kedua calon pembeli itu, yang batalkan PO, Purchase Order, meski cuma lisan, ndak tau diri. Ndak ngerti harga diri, tepatnya. Mungkin ndak pernah dengar atau lupa pepatah, 'Ajining diri soko lathi'.
Kata orang2, mulutnya ndak bisa dipegang. Kata arek Suroboyo, 'Cangkêm e gak kênèk dicêkêl . . .'
Saya ingat ucapan 'guyon' seorang 'Kaji Nyentrik', yang tiap sore selalu jalan2 lewat depan rumah Buyut saya. Di daeran Undaan Surabaya.
"Sing jênêngè, yang disebut Shirothol Mustaqim, iku ya cangkêm, mulut kita ini," kata pak Kaji. Dan selalu di-ulang cerita oleh Ibu. Makanya saya sampek apal.
Shirathal Mustaqim itu, sebuah 'frase' dalam.surat Al Faatihah, yang secara harfiah punya arti 'Jalan yang Lurus'. Oleh sebagian orang Jawa Islam tradisional, dibayangkan sebagai sebuah jembatan, titian, menuju gerbang sorga. Konon lebih halus dari sehelai rambut dibelah jadi tujuh . . .
Tentu saja sangat susah melewatinya.
Jadi nurut almarhum pak Kaji tadi, orang yang 'cangkêm e gak iso dicêkêl', gampang ingkar janji, tentu akan kesulitan meniti 'titian rambut dibelah tujuh' tadi.
Jadi percuma saja klaim punya kunci sorga. Atau nuntun orang ke sorga. Wong jalan meniti sendiri saja susah kok !
Tabek . . .
Sumber : Status Facebook Harun Iskandar
Monday, February 22, 2021 - 16:00
Kategori Rubrik: