Janji Adhyaksa Dault Membangun Jakarta dengan Kapitalis Sekuler

Oleh : Opa Jappy

Hari ini berbagai media news online memuat janji Adhyaksa jika terpilih sebagai Gubernur DKI: 1.Menjadikan Jakarta kota Teguh Beriman, dan masyarakat yang nasionalis relijius.

2.Membangun Jakarta dengan kapitalis sekuler.

Mungkin saja ada penjelasan panjang lebar, namun media hanya menulis secara singkat; namun "penggalan" di atas sudah cukup untuk menjelaskan rencana besar Adhyaksa jika menjadi Gubernur DKI Jakarta. Rencana besar dalam rangka menata DKI Jakarta dengan segala kerumitan aspeknya, melalui tata kelola holistik serta kapasitas dan kualitas dirinya.

Kira-kira, apa yang ada dibalik janji Adhyaksa tersebut!? Saya mencoba menelusuri janji Adhyaksa, "Membangun Jakarta dengan kapitalis sekuler"

 Makna Politik

Secara sederhana, politik berarti seni pemerintah memerintah; ilmu memerintah; cara pengusaha menguasai. Makna politiknya semakin dikembangkan sesuai perkembangan peradaban dan meluasnya wawasan berpikir.

Politik tidak lagi terbatas pada seni memerintah agar terciptanya keteratuaran dan ketertiban dalam masyarakat polis; melainkan lebih dari itu.

Dengan demikian, politik adalah kegiatan (rencana, tindakan, kata-kata, perilaku, strategi) yang dilakukan oleh politisi untuk mempengaruhi, memerintah, dan menguasai orang lain ataupun kelompok, sehingga pada diri mereka (yang dikuasai) muncul atau terjadi ikatan, ketaatan dan loyalitas (walaupun, yang sering terjadi adalah ikatan semu; ketaatan semu; dan loyalitas semu).

Dalam/pada politik ada hubungan antar manusia yang memunculkan menguasai dan dikuasai; mempengaruhi dan dipengaruhi karena kesamaan kepentingan dan tujuan yang akan dicapai. Ada berbagai tujuan dan kepentingan pada dunia politik, dan sekaligus mempengaruhi perilaku politikus.

Menguasai DKI Jakarta Secara Politik

 Dengan makna politik seperti di atas, maka ada kepentingan politisi untuk berkuasa di DKI Jakarta, katakanlah menjadi Gubernur and Wagub. Alasannya, mudah ditebak, tertumpunya pusat kekuasaan, ekonomi, politik NKRI di DKI, maka menjadi Gubernur DKI, akan mempunyai nilai tambah; nilai tambah sebagai politisi, pejabat yang berhasil, dan disorot secara nasional serta internasional.

Karena alasan "sederhana" itu, maka sejak era lalu, tak sedikit Jenderal yang berlomba melakukan pendekatan ke berbagai pihak agar menjadi Gubernur DKI Jakarta. Belakangan, ketika Gubernur DKI dipilih secara langsung, para peminatnya beragam, Jenderal TNI, Profesor, PhD, hingga seniman, semuanya berlomba dihadapan rakyat agar memilih mereka sebagai DKI 1 dan 2.

Kini, DKI Jakarta menuju suksesi pada 2017, para kandidat pun bermunculan; dua mantan menteri juga masuk arena, salah satu kandidatnya adalah Adhyaksa Dault. Membangun Masyarakat Nasionalis Relijius dengan Kapitalis Sekuler Jika sedikit lakukan "permainan kata," maka janji Adhyaksa Dault seperti berikut,

Membangun Masyarakat Nasionalis Relijius dengan Kapitalis Sekuler;

Jika sedikit lakukan "permainan kata," maka janji Adhyaksa Dault seperti berikut, Membangun Masyarakat Nasionalis Relijius dengan Kapitalis Sekuler; terlihat wah dan hebat.

Tapi, nanti dulu.

Kapitalis selalu dihubungkan dengan gaya serta politik ekonomi modal besar, korporasi, dan negara-negara barat; kapitalis sering dihubungkan dengan peminggiran terhadap pelaku ekonomi dengan modal pas-pasan. Juga, kapitalis seringkali dihubungkan dengan sekelompok pemodal kuat ataupun konglomerat yang dekat pusat kekuasaan, mendapat porsi utama pada kegiatan ekonomi, politik, serta interaksi sosial. Sementara itu, sekuler, oleh para agamawan, selalu dihubungkan dengan "penerimaan" hal-hal yang tak sesuai ajaran Kitan Suci. Sekuler seringkali dihubungkan dengan membuat agama menjadi cambur baur sehingga kehilangan kemurniannya. Sehingga tak sedikit tokoh agama menolak paduan sekuler - liberal; bagi mereka, ajaran agama tak berubah, tetap sama sepanjang sejarah dan waktu; juga, tak ada tempat bagi relijius sekuler liberal.

Nah .....

 Bagaimana dengan "kapitalis religius" ala Adhyaksa!?

Mungkin saja Adhyaksa mau memadukan kapitalis dengan relijius sekuler!? Namun, jika mengingat bahwa Adhyaksa berulangkali menyatakan bahwa Basuki TP, Gub DKI Jakarta, harus menjadi atau masuk Islam, agar mendapat dukungan umat, maka bisa dipastikan ia datang dari kalangan yang bukan sekuler dan terbuka. Sebab, bagi Adhyaksa, seorang pemimpin di DKI Jakarta harus Muslim, bukan dari yang lain.

Dengan demikian, pemikiran dan konsep keagamaan Adhyaksa yang fundamentalis, bagaimana mungkin berubah jadi sekuler!? Bagaimana mungkin seseorang dengan gaya keagamaan yang khas dan tak terbuka, mau menerima kapitalis sekuler!?

Atau, memang Adhyaksa sementara siapkan diri untuk masuk ke/dalam model serta gaya keagamaan yang relijius sekuler, agar diterima, dan dipilih, oleh semua kalangan untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta. Tapi, jika itu yang terjadi, maka kalangan yang selama ini mendukung dirinya, bisa jadi akan menarik dukungannya.

Selain itu, menurut janji Adhyaksa, ia akan membangun masyarakat relijius di Jakarta. Timbul tanya, "relijius yang mana!?" Apakah semua agama dan umatnya diberi peran dan tempat yang sama!? Itu, idealnya.

Tapi, jika melihat ungkapan-ungkapan Adhyaksa di media news online dan pemberitaan, maka bisa dipastikan bahwa "tak ada tempat" bagi mereka yang beda iman dengan dirinya. Sebab, bagi Adhyaksa, masyarakat relijius hanya bisa terbentuk jika hanya satu warna, bukan warna-warni.

Berdasar semuanya itu, agaknya Adhyaksa Dault akan menghadapi dilema politik; ia terjepit di antara pendukung setianya serta para penolak dari kalangan moderat.

Oleh sebab itu, Adhyaksa perlu kerja keras untuk menjelaskan janji, misi, visi politiknya sehingga bisa diterima oleh semua kalangan.

Jadi, menurut saya, Adhyaks Dault masih mencari bentuk dan jubah politik yang tepat. ** (ak)

Sumber tulisan : www.kompasiana.com

Sumber foto:wikipedia.org

Tuesday, March 15, 2016 - 09:00
Kategori Rubrik: