Jangkrik Boss : Jangan Menilai Orang Dari Tampilannya

Oleh : Robbi Gandamana

Risih juga lihat pidio di yutup, kaum ndlahom membully Kyai, ketika tahu putri sang Kyai tidak berjilbab. "Piye kuwi Kyai liberal, anake wadon kok ora dikon nganggo jilbab, edan ya'e," kurang lebih begitu ucap bocah gemblung yang diduga dari Boyolali.

Itu lah kita, gampang terseret ikutan membully. Mudah sinis, mudah menolak atau menerima segala hal yang datang. Kenapa nggak ambil saja sisi baiknya yang membuat diri lebih baik menjadi manusia.

No problem, kalau ilmu agama pas-pasan, minimal jadi manusia yang tidak melukai hati orang saja itu sudah lumayan. Daripada kamu Islam, tapi mempertahankan Islam dengan melukai sesama manusia.

Jarene simbah, Islam itu mengamankan semua orang, membuat semua orang merasa nyaman, maka namanya Islam, nama alatnya Iman, pelakunya Mukmin, doanya Amin.

Kalau ke orang lain, carilah baiknya walaupun dia bajingan. Kalau ke diri sendiri cari buruknya. Jangan sampai menuding orang lain dengan sebutan kafir, munafik dan sejenisnya. Nyawango raimu dewe, opo uripmu wis bener. Lebih baik kita kafirkan diri kita sendiri, dengan begitu kita jadi rendah hati.

Tuhan sudah ngasih yurisprudensi, bagaimana Nabi Nuh yang gagal mengajak putranya untuk beriman pada Tuhan. Nabi Luth dikhianati istrinya yang ternyata doyan sesama jenis. Rasulullah pun tidak mampu mengIslamkan pamannya yang mengasuh beliau sejak kecil.

Sekelas Nabi saja tidak sanggup membelokan keimanan anaknya sendiri, apalagi kita yang cuma manusia biasa.

Hidayah itu kuasa Tuhan. Hanya Dia yang mampu memberikan hidayah pada manusia. Tugas manusia cuman mengajak, mengajarkan kebaikan, tapi tidak memaksakan.

Apalagi anak itu hakikatnya bukan anak ortunya, seperti kata Kahlil Gibran :

"Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu. Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu. Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri. Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu............"

Boleh saja berjilbab karena takut sama bapakmu atau sungkan sama temanmu, iku urusanmu. Kadang perlu juga memaksakan diri sendiri untuk berhijab. Tapi sebenarnya kalau berjilbab karena alasan selain karena kesadaran pribadi, itu 'penipuan', bisa jadi malah munafik karena merekayasa kesan (agar terkesan alim). Nah lho..

Maka ambigu kalau ada Perda wajib jilbab. Berjilbab atau tidak itu urusan moral umat, urusan pribadi mereka dengan Tuhannya. Wah, jadi ingat Perda larangan perempuan duduk mengangkang saat dibonceng sepeda motor. Repot kalau semua ada Perdanya, aparat sudah banyak urusan, ngapain ngurusi urusan pribadi orang. Cwape dwech.

Ada juga orang alim yang konyol, saat lihat cewek sexy (nggak berjilbab) langsung melengos, "Cuih!". Itu karena dia melihat orang lain dengan memakai standar dirinya. Iman tidak bisa distandarisasi. Lagian lelaki mana sih yang tidak suka dengan keindahan wanita. Ulama yang paling alim pun kagum dengan keindahan wanita.

Tiap manusia berperang dengan dirinya. Dan ulama lebih bisa memenangkan perang yang ada di dalam hati. Bisa jaga diri, tidak seperti kita yang langsung melotot lihat paha mulus, "Bukak titik jossss!". Dan semakin tinggi tingkat spiritualitas seseorang, semakin memahami betapa cantiknya wanita.

Jadi, nggak usah sinis pada cewek tidak berjilbab, atau berjilbab tapi baju ketat (jilboob), bahkan pada yang berpakaian minim. Berprasangka baik saja, hormati mereka dalam menjalani proses imannya. Nggak ada manusia yang langsung alim 100%. Bahkan yang alim pun nggak bisa stabil imannya. Saiki alim sesuk bajingan.

Kita terbiasa berpikir tidak pada koordinat yang pas. Mengagung-agungkan Arab dengan sistem Kilafahnya. Kita ingin seperti mereka, memakai hukum syariah, memaksa perempuan pakai jilbab, padahal putri Arab, Deena Abdulaziz Al-Saud malah tidak berhijab. Bahkan hobinya pakai rok mini.

Asline bangsamu jauh lebih hebat sepuluh kali lipat dari Arab. Sebelum Nabi diturunkan di sana, Arab adalah negeri Barbar. Nabi diturunkan di sana karena akhlaknya tidak tertolong. Mubazir kalau diturunkan di Nusantara yang punya keluhuran budi luar biasa. Dan Islam datang ke Nusantara melegitimasi itu, keluhuran budi yang Islami.

Pengertian Islami itu bukan hanya untuk orang Islam. Islami itu perilaku yang berkarakter Islam : sopan, berbudi pekerti, murah senyum, ringan tangan dan seterusnya. Jadi jangan kaget kalau negara yang paling Islami itu bukan Arab.

Wah, koyoke bahasan sudah melebar-lebar. Pokoke nggak usah ngurusi uripe wong liyo. Ngurusi awake dewe gak beres, kok ngurusi wong liyo. Nggak masalah, kalau belum bisa memberantas kemungkaran, minimal tidak menambah kerusakan.

Ada 4 jurusan berbuat baik: berbuat baik setinggi-tingginya itu angkatan udara, sedalam-dalamnya itu angkatan laut, seluas-luasnya itu angkatan darat. Kalau kepolisian, sebanyak-banyaknya. Jangkrik bossss!

Wis ah...zuukk mariii.

*Kaum ndlahom = kumpulan manusia gemblung yang sok tahu (termasuk aku).

(c) Robbi Gandamana, 13 Januari 2017

#iboropini #RobbiGandamana**

Sumber : Facebook Robbi Gandamana

 

Wednesday, January 18, 2017 - 09:00
Kategori Rubrik: