Jangan Takut Ribut Di Medsos

ilustrasi
Oleh : Ahmad Sarwat
 
Ribut Kok di FB, Delete Aja
 
Itu prinsip saya pribadi. Terserah, mau suka atau nggak suka. 
 
Meski pun dia teman, saudara, famili bahkan murid sekalipun, kalau saya ajak diskusi kok gak nyambung, sementara statusnya saya gak suka, ya delete saja. Tidak usah ragu-ragu dan yakin ini jalan paling baik.
 
Wah, bukannya itu memutus silaturrahi?
 
Memutusnya iya, tapi bukan silaturrahmi yang diputus. Tapi yang diputus adalah pertengkaran,  fitnah, perseteruan, pergunjingan, lomba hoaks, ngibul dan dodol. Yang diputus adalah jalan setan untuk mengadu-domba sesama.
 
Ibarat kakak beradik punya rumah samping-sampingan. Tiap hari ada aja yang jadi bahan keributan. Masing-masing ngadu ke saya sambil melaporkan keburukan saudaranya.
 
Sering banget dicurhatin gitu, lama-lama sebel juga saya. Akhirnya keluar nasehat kontroversial versi saya. Ente kakak beradik kok ribut melulu, sudah sana pada pindah aja rumahnya.
 
Kelamaan numpang di rumah mertua itu tidak baik. Pasti terjadi pergesekan dan perbedaan kepentingan. Kadang mertua ikut campur urusan politik dalam negeri. Kalau mau sehat, pisah lah dari mertua, ngontrak rumah sendiri. Solusinya memang kudu pindah.  
 
Pindah? Apa nggak memutus silaturrahim?
 
Nggak putus, cuma putuskan potensi konflik. Pindahnya kalau bisa sekalian ke luar kota yang jauh, atau ke luar negeri. Biar nanti pas ketemu lebaran, suasana jadi akrab. Temu kangen saudara lama. 
 
Dua anak saya tiap hari bertengkar. Awalnya becanda, lama-lama jadi beneran. Kalau belum ada yang nangis, belum berhenti. Kalau sudah mulai teriak-teriak, ya dipisahkan saja. Lama-lama jadi kangen, saling mencari. 
Kalau cuma di media sosial macam FB atau group WA, putus pertemanan itu halal 100%. Tidak akan ditanya diakhirat oleh malaikat. Kalau ditanya, jawabannya udah punya, yaitu sadduz-dzrai'. Mencegah hal-hal yang dikhawatirkan lebih buruk.
 
So, kita cukup jadi pembenci atau pengagum jarak jauh saja. Jauh itu indah lho. Puncak gunung itu kalau ngeliat agak jauh kan jadi cantik. Coba naik ke puncak gunung, malah tidak nyaman, oksigen tipis, dingin membeku, cuaca ekstrim berubah dalam hitungan detik.
 
Rembulan itu hanya indah apabila dipandang dari bumi sini. Kalau kita terbang ke bulan dan mendarat di permukaannya malah gersang, tandus, gravitasi rendah ektrim, banyak meteor berjatuhan dan mematikan.
 
So, jauh itu seringkali lebih indah. Percaya deh
 
Ahmad Sarwat, Lc.MA
Sunday, June 2, 2019 - 14:00
Kategori Rubrik: