Jangan Takut Ayahmu Nak

ilustrasi

Oleh : Johan Wahyudi

Adzan isya berkumandang. Hujan lebat masih mengguyur. Cuaca begitu dingin. Kulit terasa kaku seperti es batu.

Lelaki itu gelisah. Dilihatnya angka yang selalu muncul di layar hape. Terus berubah. Menunjuk angka lebih besar. Berarti makin malam. Dan gelap.

Lelaki itu beranjak berdiri. Berangkat ke masjid. Pasrah kepada Sang Pemberi Keselamatan. Bermunajad penuh hikmat agar tidak terjadi apa-apa.

Sepulang dari masjid, ia menerawang langit yang kian menghitam. Alamat hujan takkan mungkin berhenti. Dan ia pun bersandar di kursi teras. Menatap hampa perkebunan tetangga yang gelap gulita.

"Yah, ayo tidur" tiba-tiba terdengar teriakan si bungsu dari dalam rumah. Wajar saja, karena anaknya itu biasa tidur jam 8. Ini sudah jam 9, tapi ayahnya malah duduk sendirian di teras.

"Dik Syafa tidur sama ibu. Ayah nunggu kakak" balasnya singkat. Semenit kemudian, lampu dalam mati. Tak lagi terdengar suara apapun. Kecuali suara guyuran air di halaman rumah.

Lelaki itu kian gelisah. Ada apa dengan anak sulungnya. Ditelpon tak diangkat. Dikirimi pesan tak juga dibaca. Dan lelah itu mengundang rasa ngantuk. Terlelap juga akhirnya lelaki itu di sandaran kursi.

Tiba-tiba terdengar suara motor masuk ke pekarangan rumah. Sontak lelaki itu terbangun. Matanya langsung menatap ke anak muda yang basah kuyup di depannya. Alhamdulillah, ucapnya dalam hati.

Usai memasukkan motor ke garasi, anak muda itu menghampiri lelaki itu. Duduk sambil berusaha mengelap air hujan yang membasahi sekujur tubuhnya.

"Mas Ghifar ganti baju dulu. Bikin susu hangat sana. Kalau sudah tenang, nanti ke sini lagi" tutur lelaki itu kepada anak muda di depannya.

Lelaki itu ingin marah. Ingin menjewer telinga anaknya. Ingin bikin anaknya menangis. Biar kapok. Karena pergi tanpa pamit.

"Maaf saya terlambat pulang, Yah. Tadi diajak dolan teman ke Tawangmangu" ucap anaknya itu sambil tertunduk.

"Nggak apa-apa. Alhamdulillah Mas Ghifar sudah tiba di rumah dengan selamat. Ayah seneng sekali" balasnya pelan.

"Maafkan saya, Yah. Karena bikin ayah menunggu dan gelisah" ucap sulung itu penuh rasa salah. Terlihat buliran bening keluar dari sudut matanya.

"Ayah nggak apa-apa. Mas Ghifar nggak usah takut sama ayah. Tapi takutlah sama Mas Ghifar sendiri. Takut kehilangan masa depan karena bepergian jauh tanpa sepengetahuan orang tua. Ayah tidak bisa memantau kemana pun perginya Mas Ghifar. Kemana dan sama siapa. Andai ayah dibohongi pun, ayah nggak bakalan tahu. Hanya Allah dan Mas Ghifar yang tahu. Cuma, apakah Mas Ghifar tega bikin orang gelisah memikirkan anaknya yang seharian tidak pulang? Takutlah pada dirimu sendiri. Jangan takut kepada ayahmu. Karena justru ayahmu sangat mencintaimu. Sangat takut kehilanganmu. Sangat khawatir akan keselamatanmu. Sekarang sudah malam. Segera tidur. Dan biarkan ayahmu duduk di sini" tutur lirih sang ayah.

Anak muda itu menghampiri ayahnya. Dipeluknya sang ayah. Kuat. Dan dua lelaki itu beradu air mata. Di kegelapan malam. Di tengah hujan.

Ketika anak muda itu berlalu, lelaki yang mulai menua dan beruban kembali bersandar ke kursi. Menatap langit-langit. Mengajak cicak untuk mengaminkan doanya. Agar Tuhan mewujudkan impian anaknya. Cita-citanya.

Sumber : Status Facebook Johan Wahyudi

Saturday, February 22, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: