Jangan Mudik Nyawa Keluargamu Bisa Terancam

Kenapa MUDIK tahun ini mesti dilarang?
Kalau tidak dilarang taruhannya nyawa, tidak hanya satu nyawa, bisa jadi seluruh keluargamu!

Perlu dipahami dulu bahwa perkembangan penyebaran virus Covid-19 masih terus terjadi bahkan terindikasi mulai meluas ke daerah. Hal tersebut terjadi akibat adanya pergerakan orang dari kota-kota pusat penyebaran virus Covid-19 ke kota-kota disekitarnya, ke keluarganya dan ke saudaranya di daerah.

Pergerakan orang antar provinsi tersebut terjadi seiring momentum menjelang ramadhan dan lebaran, selain faktor dampak ekonomi keadaan di kota sudah sulit akibat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Pergerakan orang tersebut sudah terjadi sejak akhir Maret lalu, gelombang mudik lebih awal sudah terjadi ke daerah sampai hari ini.

Pergerakan orang tersebut sangat berpotensi membuat sebaran virus Covid-19 meluas karena siapapun yang tinggal di kota pusat penyebaran virus Covid-19, maka rentan berpotensi menjadi carrier atau pembawa virus.

Kondisi demikian harus segera direspon pemerintah daerah, pemerintah daerah harus punya data warganya yang tinggal di kota pusat penyebaran virus Covid-19, data sangat diperlukan agar daerah bisa menyiapkan mekanismenya, antara lain :

1. Pemerintah daerah harus betul-betul dilengkapi dengan protokol dan SOP supaya daerah tidak menjadi potensi terpapar.

2. Pemerintah daerah harus betul-betul memastikan protokol dan SOP yang dibuat dilaksanakan sampai ke tingkat desa.

3. Pemerintah daerah yang harus benar-benar tanggap terhadap pemudik adalah yang warganya paling banyak merantau di DKI Jakarta.

Resiko sebaran virus Covid-19 dari Jakarta sebagai pusat sebaran virus harus benar-benar diwaspadai oleh provinsi-provinsi tersebut.
.
.

Survey Angkatan Kerja Nasional (sakernas) 2019, 2 dari 5 orang perantau di Jakarta berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat 490 ribu orang, Jawa Timur 240 ribu orang dan Banten 125 ribu orang.

Sinergi pemerintah provinsi DKI Jakarta dengan pemerintah provinsi yang warganya banyak merantau di Jakarta menjadi sangat penting untuk segera dilakukan.

Pemerintah provinsi DKI
/juga provinsi lainnya harus menyiapkan kompensasi stimulus BLT (Bantuan Langsung Tunai) kepada perantau/keluarga kategori miskin yang dilarang mudik. Agar LARANGAN MUDIK bisa ditaati. Mudik diganti waktu lain setelah wabah sudah reda.

Semua aspek harus benar-benar dipertimbangkan, semuanya mohon bersabar atas kesulitan ini, kalau masih bisa bertahan maka tetap disiplin ikuti imbauan pemerintah dan jaga kesehatan, lindungi diri, lindungi sesama.

Seandainya sudah tidak bisa bertahan karena tanpa penghasilan, berharap dikampung ada bantalan sosial karena ada saudara, tetangga bisa dimintai bantuan jika mengalami kesulitan.

YANG NEKAT MUDIK statusnya nanti menjadi Orang Dalam Pemantauan (ODP), lakukanlah karantina mandiri dirumah selama 14 hari, kalau ada gejala segera hubungi satgas desa atau petugas kesehatan desa.

Kalaupun tidak ada gejala, tetap disiplin diam dirumah, karena dalam beberapa kasus, banyak pasien tertular virus Corona yang tidak menunjukkan gejala sama sekali alias asimtomatis.

Jaga jarak aman interaksi dengan keluarga dirumah, tentu kalian sama sekali tidak ingin orang tua, saudara kandung, tetangga tertular kalau seandainya kalian ternyata menjadi carrier atau pembawa virus.

Jaga jarak aman interaksi bertujuan untuk menghindari droplet atau percikan batuk pilek mengenai pasangan atau anggota keluarga lain.

Kalau bisa, selama karantina mandiri di rumah, cobalah untuk tidak tidur sekamar dengan pasangan atau anggota keluarga lain, terapkan hal yang sama dalam menggunakan kamar mandi.

Semoga kita semua baik-baik saja dan pandemi Covid-19 segera berakhir, sama seperti China yang 19 Maret lalu sudah berhasil menangani dan mengakhiri pandemi Covid-19.

Terakhir, mengutip kalimat Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo

"Percayalah kita bangsa yang besar, kita bangsa petarung, bangsa pejuang, in sya Allah kita bisa, in sya Allah kita mampu dalam menghadapi tantangan global yang berat sekarang ini."

(TP)

Sunday, April 26, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: