Jangan Move On, Jangan Berhenti Mendukung

Ilustrasi

Oleh : Chitra Retna S

Berita ini mengklarifikasi bahwa “instruksi Trans Jakarta cari rute alternatif” kemarin, hanya untuk ruas2 yang macet karena ada proyek2 besar, dan sifatnya sementara. Good work pak Sandy.

Move on? Kenapa harus move on? Bukan-pendukung kandidat terpilih (pemilu apapun) justru gak boleh move on, harus lanjut dengan kritisi atau nyinyirannya (ini cuma beda cara penyampaian aja). Karena kelompok ini sudah menetapkan gak mendukung, sesuai preference mereka, dengan kacamata itu mereka akan - otomatis - bias melihat sisi-sisi yang gak pas (dari sisi preference mereka). Sebaliknya yang mendukung, juga punya satu set preference sendiri, dan dari sisi kacamata mereka, mereka akan cenderung melihat sisi-sisi yang pas (sesuai preference ybs). Move on itu artinya udah jangan ngomongin hasil perhitungan pemilu lagi, tapi posisi-posisi mendukung atau tidak mendukung secara alami akan berlanjut, dan perlu dilanjutkan. Keduanya elemen wajib dalam sistem demokrasi. Namanya check-and-balance.

Perkara bias, itu alami, given constraints yang tak terhindarkan. Karena keduanya (dan semua orang) inherently menderita “asymetric information”, informasi yang kita terima ya pasti sepotong-sepotong. Jadi ibarat cerita orang buta pegang-pegang gajah, ada yang pegang ekornya merasa gajah itu panjang, pegang telinganya merasa gajah itu lebar, dst. Its perfectly natural and unavoidable. Informasi cuma sepotong-sepotong ini lalu bercampur dengan satu set preference yang berbeda-beda yang dimiliki tiap orang. Ada yang standarnya pemimpin itu santun, ada yang standarnya pemimpin itu harus cak cek cak cek, ada yang standarnya pemimpin itu harus gagah berwibawa. Dan seterusnya. You cannot rule their preferences. Gak bisa dipaksakan dan disamakan.

Semakin cerewet pemilih, baik mendukung maupun nyinyir, semakin baik, karena ini memberi sinyal-sinyal buat pemimpin bahwa mereka dikontrol rakyat. Pelan-pelan membentuk semacam saringan melahirkan pemimpin. 40 tahun lalu, mana bisa kita nyinyirin sayembara pantofel-nya sandy, mulut comberannya ahok, manut-manut aja dapet pemimpin karut marut kayak apapun.

Cuma dalam jangka panjang, yang harus kita pantengin adalah infrastruktur sistem ini, seperti:

1. Asimetri informasi - Makin baik gak arus informasi? Semakin gak sepotong-sepotong yang nyampe ke masyarakat, logikanya akan makin baik kemampuan si masyarakat mengontrol.

2. Preference - semakin rasional*) gak masyarakat dalam menetapkan standarnya? Makin banyak gak peluang masyarakat saling mendiskusikan: eh harusnya gini lho kriteria pemimpin. Kalau makin banyak, makin terbuka, harusnya makin baik pemimpin yang dihasilkan.

Jadi sambil menikmati siapapun pemimpin yang lagi manggung, dalam jangka menengah-panjang kita kontribusikan saja apa yang kita bisa, untuk memastikan prasyarat2 diatas makin baik.

*) masalahnya apakah possible semua jadi rasional? Apa definisi rasional, dan apakah yang non-rasional juga bisa jadi sinyal yang baik? Ada debat panjang di sini.

Sumber : Status facebook Chitra Retna

Thursday, October 26, 2017 - 12:45
Kategori Rubrik: