Jangan Menyalip di Chicane

ilustrasi

Oleh : Yamin El Rust

Pembangunan sirkuit balap berstandar international di Mandalika ditujukan sebagai persiapan Indonesia sebagai penyelenggara balapan otomotif paling bergengsi, F1 dan MotoGP. Nantinya dari penyelenggaraan tsb antara lain diharapkan bertambahnya kunjungan wisatawan manca negara terutama ke daerah tujuan wisata baru di Indonesia. Ujungnya jelas, peningkatan kegiatan perekonomian di daerah dll dst dsb.

Sirkuit itu masih dalam proses pembangunan, eh tiba-tiba di DKI Jakarta ada usulan — entah dari mana — yg langsung disetujui pimpinan daerah yaitu menyelenggarakan balap formula E dgn ongkos nyaris 2 triliun rupiah.

Pernah dengar formula E? Tahu siapa juaranya? Percayalah itu bukan plesetan nama pasta gigi atau kependekan dari ‘ember’. E Itu kependekan dari electric, salah satu kasta dari ajang balap formula. Nah, karena benar-benar anyar maka untuk sosialisasi balapan formula E di DKI Jakarta dibutuhkan dana sekitar 600 miliar rupiah. Banyak ya

Kalau ditanya seberapa besar manfaat ekonomi yg akan diperoleh dari biaya keseluruhan yg nyaris 2 triliun rupiah untuk penyelenggaraan formula E ini, bisa dipastikan tidak ada jawaban jelas dan lugas. Akan banyak metafora dgn kalimat meliuk-liuk yg harus diterima dgn penuh kehati-hatian. Mirip dgn double chicane pada sirkuit balap, setiap liukan butuh konsentrasi penuh atau nyungsep.

Manfaat lainnya masih abstrak, misalnya mendorong penggunaan kendaraan listrik dibanding kendaraan BBM. FYI, kendaraan listrik yg minus polusi itu masih mahal, kalau ada yg memakainya di negeri ini bisa dipastikan lebih kepada modus “me too” dari kalangan tertentu saja. Hampir tidak terkait dgn pemahaman green energy. Lagipula penggunaan kendaraan pribadi — bahkan untuk kendaraan listrik — seharusnya dikurangi bukan dianjurkan. Sigh!

Ujung dari kontroversi ini bukan hanya menguras anggaran pemda DKI Jakarta yg sekarang sedang defisit dgn imbal balik sangat tidak setara, tapi bisa saja mengancam peluang Indonesia menjadi tuan rumah balapan F1 (juga MotoGP). Perlu diketahui bahwa penyelenggaraan balap F1 terkait dgn FIA sebagai badan resmi. FIA sendiri sedang memberikan sanksi bagi badan penyelenggara formula E. Bukan tidak mungkin lisensi untuk balapan F1 di Mandalika dipersulit karena didahului tindakan pembangkangan.

Dari alasan di atas, tidak berlebihan kalau ada yg berpikir bahwa ajang formula E ini ditujukan hanya untuk menyalip rencana besar dari Presiden Joko Widodo untuk menyelenggarakan balapan F1 di Mandalika. Kalau DKI Jakarta memang mau menjadi tuan rumah, kenapa tidak buat saja Jakarta MotoGP dan/atau Jakarta F1 di Sentul yg masih Jabodetabek. Jangan sampai beralasan akan menyaingi Singapore yg jadi sahibul bait balapan di jalan raya, karena Singapore juga hanya mencontoh Monaco yg mempunyai banyak kesamaan dan Singapore dikenal lebih dulu sebagai tuan rumah F1, baru formula E thn 2020 nanti. Kalau mau bersaing, bersainglah pada kasta tertinggi. Kalah pun masih terhormat, begitu kata, eh kata siapa ya

Hampir lupa. Konon kabarnya proyek naturalisasi kali/sungai di DKI Jakarta sedang terhenti karena defisit anggaran. Nah kalau memakai akal sehat, kan harusnya dana penyelengaraan formula E ini bisa didahulukan untuk proyek naturalisasi kali/sungai. Jadi nanti tidak ada lagi penghentian proyek yg ramai dijual pada masa kampanye. Bukankah pada kata pengantar yg indah untuk proyek naturalisasi kali/sungai dulu itu untuk menyaingi Singapore? Seandainya berjalan baik dan semua kali/sungai sudah bersih, bukan tidak mungkin nanti Singapore yg mencontoh lomba adu bantal di atas kali/sungai yg sangat populer di negeri ini. Tidak perlu salip-menyalip lagi, langsung saja gebuk-gebukan.

Sumber : Status facebook Yamin El Rust

Wednesday, November 13, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: