Jangan Melihat Isu Global Dari Lobang Sedotan

Ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Banyak pihak telah menghujat apa yang dilakukan oleh KH. Yahya C Staquf (Gus Yahya) tanpa melihat apa yang akan dan sudah beliau sampaikan. Kunjungannya ke Israel dianggap telah mengkhianati Perjuangan Kemerdekaan Palestina, mengkhianati UUD 1945 bahkan dianggap melanggar (lagi-lagi) QS Al Maidah. Padahal jika kita mau melihat isu Palestina-Israel dengan perspektif yang lebih luas dan komprehensif, justru kita akan berterima kasih atas apa yang telah dilakukan Gus Yahya.

Melalui fakta sejarah dan tertuang dalam dokumen Deklarasi Balfour 1917, sudah jelas bahwa pendirian Negara Yahudi adalah karena permintaan "Tuan Besar" Nathan Rothschild kepada Inggris dan pada akhirnya melahirkan Negara Israel. Permintaan yang didasari keinginan Rothschild dan kroninya untuk melebarkan sayapnya dalam penguasaan Sistem Keuangan dan Sumber Daya Alam Dunia. Cikal bakal Kapitalisme Global yang mereka konsep dalam pertemuan ultra rahasia di Jekyll, kediaman JP Morgan pada tahun 1910. Hadir pula JD Rockefeller yang menjadi penguasa minyak dunia. Dari pertemuan itulah yang dikemudian hari melahirkan gerakan Zionis sebagai "pemelihara konflik" di Jazirah Arab agar negara-negara Barat sebagai kepanjangan tangan Rothschild dkk hadir menawarkan solusi dengan membawa berbagai konsensus dibidang keuangan dan SDA bagi negara-negara Arab. Akhirnya, banyak pula negara Arab yang terseret dalam skenario ini dan bahkan dinina bobokan oleh bagi hasil eksplorasi minyak yang didesain oleh Rockefeller. Termasuk juga Kerajaan Saudi yang dilahirkan atas persekongkolan Inggris dan Bani Saud. Pada akhirnya, minyak menjadi "candu" bagi negara-negara Arab sehingga mampu melenakan dan abai atas penderitaan saudaranya di Palestina.

Pertanyaannya, kenapa konflik di Arab bisa "terpelihara" hingga puluhan tahun dan sedemikian lamanya? Karena para perancangnya mampu membungkusnya dengan Agama sehingga lahirlah Radikalisme Agama. Yang Yahudi, beranggapan bahwa Jerussalem adalah Tanah yang dijanjikan Tuhan, sementara yang Islam memahami secara tekstual dan menelan mentah bahwa diluar agama mereka adalah "musuh" Allah. Padahal, sebelum lahirnya Zionisme, antar umat beragama disana sudah hidup damai berdampingan dalam satu kota suci tanpa saling mengganggu.

Gus Dur, yang paham betul akar permasalahan diatas mencoba menjelaskan kepada para stake holders konflik berkepanjangan ini. Tujuannya agar segera tercipta perdamaian dunia. Lawatannya diberbagai negara dan wacana membuka hubungan diplomatik dengan Israel ditentang banyak pihak. Padahal ibaratnya, menentang Zionisme seperti melawan gangster yang tidak cukup hanya dengan mengutuk dan berteriak-teriak di pinggir jalan. Satu langkah berani sekaligus ekstrim adalah mendatangi "sarangnya"dan menundukkan "pentolannya". Bahkan Gus Dur juga pernah berpidato di hadapan para pemuka Yahudi dengan Bahasa Ibrani dan membuat para Rabi Yahudi menangis. Namun, melalui kaki tangan para politisi kotor dinegeri ini, langkah Gus Dur sebagai Presiden akhirnya terhenti karena dianggap akan mengganggu kepentingan para perancang penguasaan Sistem Keuangan dan SDA di dunia.

Tapi upaya Gus Dur tidak cukup berhenti disitu. Pada tahun 2006 beliau mampu "menundukkan dan menyadarkan" dua orang pentolan Yahudi yaitu George Soros dan kemudian disusul oleh David Rockefeller. Dalam pertemuan pada tanggal 6 Januari 2006 di Wahid Institute, Gus Dur mampu meyakinkan Soros betapa pentingnya Perdamaian Dunia dan bahayanya Radikalisme yang dapat mengancam perdamaian dan kemanusiaan. Akhirnya, Soros "membelot" dari kroni Rothschild. Dan dengan mengajak rekannya David Rockefeller, dia merintis Transparansi Keuangan Internasional dan Penggunaan Energi Terbarukan untuk mengurangi penggunaan minyak bumi sebagai salah pemicu konflik di dunia. Gus Dur kemudian wafat pada 2009 dan dikemudian hari, lahirlah Kesepakatan Iklim Paris 2015 dan Perjanjian Transparansi Keuangan Internasional 2017 sebagai bukti bahwa perjuangannya tak sia-sia. Sejak kedua perjanjian itu disepakati, satu persatu gerakan radikalisme mulai rontok karena semua serba transparan dan diawasi. Minyak bumi juga sudah tidak lagi menjadi komoditas utama. Ditambah lagi, David Rockefeller sebagai cucu terakhir JD Rockefeller si penguasa minyak meninggal pada 2017 lalu.

Kini, tinggal selangkah lagi upaya perdamaian dunia akan tercapai. Upaya pengganjalan yang dilakukan Amerika dengan mundurnya dari Kesepakatan Iklim Paris dan pengakuan atas Jerussalem sebagai ibukota Israel mendapatkan kecaman dari seluruh dunia. Bahkan Uni Eropa sudah memberikan sinyal akan meninggalkan Inggris dan Amerika sebagai mitra strategis. Indonesia juga harus berperan aktif menciptakan perdamaian dunia sebagaimana amanat UUD 1945. Apalagi sebagai penduduk Muslim terbesar di dunia, kita juga harus menjelaskan wajah Islam yang sesungguhnya. Islam yang Rahmatan lil 'alamin sebagaimana yang dipaparkan oleh Gus Yahya dalam forum AJC di Israel. Dan perlu kita ketahui bersama, bahwa salah satu "pentolan" AJC adalah Goerge Soros. Dia yang karena "perjuangannya", harus menerima label "teroris" dari negaranya (Amerika). Dan jika kita simak secara utuh dalam forum AJC tersebut, baik Yahudi maupun Islam telah menjelaskan bahwa Agama tidak menebarkan kebencian dan menjadi penyebab kekacauan. Sebagaimana arti Agama itu sendiri yaitu "Tidak Kacau". Dan khususnya kepada para penghujat Gus Yahya, janganlah melihat isu global melalui "lobang sedotan". Karena saya yakin, suatu saat kita akan berterima kasih atas apa yang beliau lakukan. Meneruskan apa yang sudah dicita-citakan oleh Pendiri Bangsa (Ir. Soekarno) dan apa yang telah diajarkan oleh Guru Bangsa (Gus Dur). Salah satunya adalah untuk Kemerdekaan Palestina. MERDEKA!

*FAZ*

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Thursday, June 14, 2018 - 22:30
Kategori Rubrik: