Jangan Malu Melakukan Kebaikan

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Dalam hal relasi sosial, juga bergotong-royong, masyarakat Yogyakarta bisa diandalkan. Pasti sebenarnya daerah lain pun mempunyai karakter tak jauh beda. Kalau pun saya menulis daerah saya, karena itu yang saya ketahui.

Maka akan lebih menyenangkan jika masing-masing teman sudi menuliskan kebaikan daerah masing-masing. Apalagi berkait pandemic Corona yang bukan hanya berefek sosial-ekonomi, melainkan juga budaya masyarakat.

 

Jangan takut jika dituding sok pinter, sok ilmiah, sok berbobot. Karena di Indonesia, kritikus kita masih berputar pada soal 'siapa' dan 'bagaimana'. Bukan 'apa' dan 'mengapa'. Siapa itu akan berkait kenal atau tidak. Ngetop atau tidak. Kalau relasi sendiri, atau tokoh pujaan, bagaimana ngomongnya diamini. Meski sebenarnya nggak mutu, apalagi caranya.

Kritikus medsos akan kritis mengamati apa saja yang kalian lakukan. Bukan soal 'apa' dalam konteks 'mengapa' disampaikan. Tapi karena siapa kamu. Pose kegenitan itu cerminan rendahnya tingkat literasi mereka (kritikus itu, maksud saya).

Di medsos, yang paling penting niatan. Kalau mengikuti kritikus medsos, tak ada yang benar dalam sikap kita. Tidak menulis pun, atau nulis lelucon garing, juga akan dicela. Karena yang terbaik hanyalah dirinya. Padal, dalam membangun karakter diri, bukan orang lain yang menentukan.

Sebagaimana waktu terjadi bencana 2006, masyarakat Yogya bergotong-royong. Cepat tanggap, dan dampak bencana teratasi cepat pula. Demikian juga menghadapi bencana Coronavirus ini. Pemda DIY memakai para ojol menjadi pengantar makanan matang untuk masyarakat yang membutuhkan. Para ojol tetap bisa bekerja, dan mendapatkan nafkah. Ini solusi khas Ngayogya. 

Juga ketika Sri Sultan Hamengku Buwana X tidak menolak warganya yang mau mudik. Wong mulih neng omahe dhewe kok ra entuk. Di Yogya, meski terlihat lebih sepi, kehidupan sosial terus berjalan. Tentu tetap jaga jarak, dan waspada.

Saya mendengar cerita tukang becak, ia bisa mendapatkan 5 nasi bungkus, dengan lauk-pauk di atas layak. Ada banyak pos layanan sosial masyarakat. Posko-posko karitasi sosial ini bukan hanya digerakkan pemerintah, namun banyak dilakukan kelompok masyarakat, komunitas sosial-budaya. Gampang ditemukan, di jalanan maupun via online, jika tak punya kemampuan mendatangi (karena nanti akan didatangi). Dan seterusnya.

Sebagaimana di lingkungan saya. Tetangga kami yang meninggal (dalam status PDP, tapi hasil lab belum keluar, meski dua hari setelah meninggalnya 31/3. Kami tak tahu apakah posistif corona atau negative), keluarga yang ditinggalkan, harus isolasi mandiri. Tak boleh keluar rumah selama 14 hari. Gimana kebutuhan hariannya? Kami para tetangga, bergiliran menyuplai kebutuhan pokoknya selama isolasi itu.

Tidak takut virus Corona? Takut, tapi tak bodo-bodo amat. Setidaknya setelah mencoba memahami berbagai informasi. Bagaimana cara virus menular, dan daya tolak apa yang diperlukan menangkalnya. 

Pembatasan sosial, tak berarti harus menjadi anti-sosial. Yang lebih penting adalah meningkatkan antibodi, daya tahan tubuh. Daya imunitas, juga daya nalar sehat. Agar tidak mengkonsumsi hoax, apalagi memproduksi dan ikut nge-share.

Semoga sudi menuliskan kebaikan wilayahmu. Kebaikan saudara dan temanmu di medsos. Apalagi berkait persoalan kita sekarang, mewabahnya coronavirus. Jangan pedulikan kritikus medsos, yang apapun langkahmu akan dicela. 

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Friday, April 3, 2020 - 20:00
Kategori Rubrik: