Jangan Lewat Jalan Tol, Itu Milik Jokowi

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Sekeluarga pemudik baru saja beristirahat di rest areal jalan Tol. Anaknya yang masih remaja hendak foto-foto di area itu. Jalanan mulus dan mobil pemudik melewati jalan tol yang baru saja dioperasikan. Tapi bapaknya marah.

"Hei, jangan foto-foto disini. Jalan tol ini buatan Jokowi. Ngapain kita ikut mempromosikan," hardik ayahnya dengan suara keras.

 

 
 

"Tapi ini bagus, pak. Tol baru. Kita gak lagi macet-macetan kayak dulu."

"Siapa bilang bagus. Ini jelek. Ini semua jelek. Kita gak boleh bilang hasil kerja Jokowi bagus. Kita ini PKS, gak boleh ngomong begitu."

Akhirnya anaknya tidak jadi mengambil gambar.

Lalu mereka melanjutkan perjalanan lagi. Mampir sebentar ke waduk yang baru saja dibangun. Sang bapak mengingatkan sekali lagi, "Ingat, jangan foto-foto disini. Waduk ini buatan Jokowi. Itu sama saja kita ikut mempromosikannya."

Mereka menikmati istirahat dan wisata di sana, tanpa mengambil gambar sedikipun.

Beberapa hari sebelum mudik, istrinya sempat berkata padanya. "Pak, aku seneng deh, kalau ke pasar sekarang. Biasanya kalau puasa apalagi menjelang lebaran begini semua harga pada naik. Lha, ini kok harga di pasar biasa aja. Ada yang naik sedikit, tapi rata-rata biasa saja. Beda banget sama lebaran yang dulu," ujar istrinya

"Hush. Kamu gak boleh cerita kayak gitu. Semua harga-harga itu naik, bu. Naik!"

"Lho, kan aku yang belanja. Gak naik, kok pak."

"Itukan katanya Pak Jokowi. Inflasi terkendali. Kalo kita sebagai simpatisan PKS, ya harga-harga di pasar itu naik."

"Tapi kenyataannya gak toh, pak."

"Iya, kenyataannya emang gak. Tapi kita gak boleh bicara kenyataan. Kita harus bicara harga-harga naik. Itu!"

"Meskipun sebetulnya gak naik?"

"Kenyataan gak penting. Yang penting konsistensi kita. Harga-harga naik. Titik!"

Pembicaraan kedua suami istri itu selesai.

Kita kembali ke suasana ketika mereka dalam perjalanan mudik. Sudah waktunya mengisi bahan bakar. Mereka mengisi Premium di SPBU dengan penuh. "Lihat harga bensin sudah gila-gilaan," kata bapaknya.

"Sekarang premium seliter Rp 6450, pak. Tahun 2013 malah Rp 6500. Jadi gak naik harganya," seru anaknya.

"Itu kan kata koran. Bagi kita kader PKS harga bensin itu naik gila-gilaan. Pokoknya naik!," ujar bapaknya lagi.

"Ya, terserah bapak..." jawab anak-anaknya kompak.

Di kampung mereka mendapati desanya lebih maju. Jalan kecil di kampungnya sudah tertata. Beberapa fasilitas umum lebih baik.."Ini berkat adanya dana desa, mas. Jadi kita bisa membangun kelebutuhan masyarakat. Pak Jokowi itu memang hebat. Bikin desa kita lebih maju," ujar seorang adik lelakinya yang masih menetap di kampung.

Mendengar info itu, lelaki tadi langsung naik pitam. "Dana desa itu bukan dari Jokowi. Itu rezeki dari Allah SWT, yang diturunkan ke desa ini."

"Tapi baru di zaman Pak Jokowi direalisasikan, mas. Kita kan harus berterimakasih juga sama Presiden."

"Semua kehendak Allah, bukan kehendak Jokowi. Berterimakasihlah pada Allah."

"Iya, mas," adeknya ngalah. Tapi dia meneruskan. "Pemilu nanti mas milih Presiden siapa ya?"

"Anies Baswedan," jawabnya mantap.

"Apa prestasinya, mas?"

"Dia menyegel bangunan di pulau reklamasi."

"Lho dijaman Ahok bangunan itu sudah disegel, juga kan, mas?"

"Itulah. Mana ada Gubernur yang menyegel lagi bangunan tersegel. Cuma Anies yang bisa. Kalau soal segel menyegel, Anies jagonya," katanya bangga.

"Jadi, nanti kita hanya boleh selfie-selfie di bangunan yang disegel ya, pak?" Anaknya tetiba ikut nimbrung obrolan.

(www.ekokuntadhi.com)

Sunday, June 10, 2018 - 00:30
Kategori Rubrik: