Jangan Keras-Keras, Jangan Lembek-Lembek

ilustrasi

Oleh : M KHolid Syeirazi

Saya percaya betul prinsip dawuh Nabi: خير الامور اوسطها (Sebaik-baik perkara itu yang di tengahnya). Umat Islam disuruh jadi umat tengah (وكذالك جعلناكم امة وسطا / QS. Al-Baqarah/2: 143). Hanya dengan cara itu, kata Al-Qur’an, umat Islam bisa menjadi saksi bagi manusia (شهداء على الناس). Saksi apa? Saksi bahwa Islam adalah ajaran kebajikan paripurna: bajik kepada Allah, kepada diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungan. Dari dasar ini kemudian dibangun narasi Islam wasathy. Prinsipnya bernama tawassuth. Prinsip ini sapu jagat, berlaku untuk semua hal. Islam mengecam ekstremitas. هلك المتنطعون, itu kata Rasulullah. “Hancurlah orang-orang ekstrem.”

Jadi, kalau ada orang mengajarkan Islam ekstrem, kanan atau kiri, jangan diikuti. Ada orang yang hobinya nyari dalil-dalil keras. Ngajak berantem. Hobi nyari musuh. Kecam sana kecam sini. Demen nyesatin orang. Pede ngapling surga. Ngakunya dakwah tapi bikin orang takut. Tolong jangan didengerin. Itu orang ngajinya gak bener. Ayat-ayat lembut jauh lebih banyak. Rasulullah sendiri orang paling lembut.

Begitu pun kalau ada orang ngaku Islam, tetapi maunya pakai akalnya sendiri, kendor sekendornya terhadap ketentuan agama, merasa berdaulat terhadap diri sendiri padahal tiap hari membaca: ان صلاتى ونسكى ومحياى ومماتى لله رب العالمين, tolong juga jangan diikuti. Pada akhirnya yang begini bisa permissif, membolehkan semua hal asal cocok dengan kepentingan dan nafsunya.

Terus yang bener gimana? Kembali ke pasal awal, yang tengah-tengah saja. Jangan kenceng-kenceng karena nanti orang takut pada Islam. Jangan kendor-kendor karena nanti Islam gak ada artinya. Menentukan koordinat tengah juga gak gampang. Ini PR Islam moderat.

Suatu saat, Abdurrahman bin Auf diminta menyampaikan pesan para sahabat kepada Umar RA, yang saat itu menjadi Khalifah. Inti pesannya, Khalifah jangan kenceng-kenceng kepada umat. Umar terkenal berperangai keras. Jawaban Umar menarik:

والله، لقد لنت للناس حتى خشيت الله في اللين، ثم اشتددت عليهم حتى خشيت الله في الشدة، فأين المخرج؟ فقام عبد الرحمن يبكي، يجر رداءه يقول: أفٍ لهم بعدك، أفٍ لهم بعدك

“Demi Allah, aku telah berlaku lunak kepada orang hingga aku takut kepada Allah jadi lembek. Aku juga telah berlaku keras kepada orang hingga aku takut kepada Allah jadi terlalu keras. Terus bagaimana solusinya?” Abdurrahman bin Auf menangis sembari menyeret selendangnya, dan berkata: “Apes..apes.” (Husain Haikal, Al-Fârûq Umar, Cairo: Dâr al-Ma’ârif, h. 199).

Islam tengah itu aswaja, asal wajar-wajar saja. Jangan kenceng-kenceng, jangan lembek-lembek. Kenceng terus spanneng, darah tinggi terus stroke. Lembek terus letoy, tidak produktif. Kenceng dan lembek ada tempatnya. Hikmah dan kebajikan Islam ada di ruang tengah di antara itu, lentur tetapi dinamis.

MKS

Sumber : Status Facebook M Kholid Syeirazi
Wednesday, January 29, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: