Jangan Kau Musuhi Habib Bahar Bin Smith, Kuwalat

Ilustrasi

Oleh : Tamara Zavieka Abdullah

Bukan kaum Aswaja jika tidak mencintai keluarga Nabi saw. Bahkan disejarahkan, kalangan ulama Nusantara dan seluruh santri-santrinya sejak zaman awal mula berdirinya NU hingga detik ini, sangat menghormati bahkan memuliakan para keluarga Nabi saw. Para kabilah pecinta keluarga Nabi saw di Indonesia, disebut sebagai muhibin.

Menukil sabda Nabi saw:

عن أبي سَعِيْد الخُذْرِي قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إنَّنِيْ تَارِكٌ فِيْكُمُ الثَّقَلَيْنِ كِتَابَ اللهِ وَعِتْرَتِي أهْلُ بَيْتِيْ. رواه الترمذي

Dari Abi Said al-Khudri ia berkata, Rasululla SAW bersabda, ”Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian dua wasiat, Kitabullah Al-Qur’an dan keluargaku.” (HR at-Tirmidzi)

Al-allamah Yusuf bin Ismail al-Nabhany dalam bukunya Riyadhul Jannah mengatakan :
"Kaum Sayyid Baalawi oleh umat Muhammad saw sepanjang zaman dan di semua negeri telah diakui bulat sebagai ahlul-bait nubuwah yang sah, baik ditilik dari sudut keturunan maupun kekerabatan, dan mereka itu adalah orang-orang yang paling tinggi ilmu pengetahuan agamanya, paling banyak keutamaannya dan paling tinggi budi pekertinya."

Keluarga Nabi saw yang ada dan masih hidup sampai saat ini dikenal sebagai syarif, sayid dan habib. Mereka dari tanah asalnya Hadramaut, para keturunan Nabi saw itu memiliki ratusan marga yang hidup tersebar diseluruh dunia.

Pada masa kerajaan Majapahit dan Pajajaran, abad ke 14-15 masehi, para keluarga Nabi saw yang bergelar syarif, sayyid dan habib itu masuk ke wilayah Nusantara untuk menyebarkan ajaran Islam. Mereka para keluarga Nabi saw kemudian hari dikenal sebagai wali sanga. Leluhur mereka pun disejarahkan dari Hadramaut, hijrah ke india lalu mengadakan perjalanan dakwah ke Asia Tenggara, dan kemudian singgah di Nusantara. Keturunan dari Abdullah bin Malik bin Alwi Hadramaut.

Barulah 4 abad kemudian, tepatnya abad ke 18 masehi, kabilah-kabilah para keturunan Nabi saw dari Hadramaut yang kental dengan wajah Arab itu langsung datang ke Nusantara. Para syarif, sayid dan habib itu hidup tersebar secara berkelompok, dibeberapa tempat strategis di Jawa yakni di Jayakarta (Jakarta), Bogor, Pekalongan, Solo, Surabaya, hingga di Madura.

Ringkasnya kedatangan mereka para syarif, sayid dan habib abad ke 18 masehi itu ada yang memang ingin bersaudagar dan ada pula yang melanjutkan misi dakwah penghulunya (Nabi saw.) Mereka datang sebagai tamu di Nusantara dengan tata cara yang baik. Walau ada rumor sebagian dari mereka dulunya di Jawa tatkala bersaudagar ter-rekam sejarah mengadakan kerjasama dengan penjajah. Namanya juga perdagangan, itu biasa.

Sampailah Nusantara dari masa-masa kerajaan yang bertahta di Abad ke 18 masehi hingga menjadi negara Indonesia, para syarif, sayid dan habib itu tetap tinggal di negeri kita sebagaimana pribumi asli Nusantara lainnya. Kami tidak terusik dan sama sekali tidak punya niat mengusik.

Karena sabda Nabi saw yang mewasiatkan keluarganya setelah kitab suci Al-Qur'an. Tentunya sejak zaman keturunan Nabi saw di era wali sanga abad 14-15 masehi sampai hadirnya para keturunan Nabi saw abad ke 18 yang identik dengan wajah Arab itu, kami para pemeluk Islam Aswaja berkomitmen menjunjung tinggi akan wasiat tersebut. Yakni mencintai, memuliakan dan mematuhi mereka bagi kami adalah suatu keharusan. Malah sebagian dari kami ada yang berkeyakinan kuwalat jika memusuhi beliau-beliau itu.

Lantas bagaimana mensikapi dakwah beberapa syarif, sayid dan habib yang keyakinannya berseberangan dengan ajaran Islam Aswaja? Atau bagaimana menghadapi para syarif, sayid dan habib yang keyakinannya sama-sama Islam Aswaja tapi sikapnya, perbuatannya, perkataannya bahkan seruannya sangat bertolak belakang dengan tata krama anak turun asli pribumi Nusantara?

Seperti contoh dakwah yang dicerminkan Habib Bahar Smith! Yang asal njeplak dan ngawur bicaranya! Suka berkata kasar dan bahkan kadang ada kalimat yang menurutku tidak pantas didengar oleh remaja hingga anak kecil! KUWALAT-kah jika dilawan???

Aaah, ini bumi Nusantara brooo! Ini Indonesia gaessss! Wasiat Nabi saw soal keluarganya tetap harus di yakini hingga yaumil akhir. Tapi soal perilaku, perbuatan dan adabnya yang tidak sesuai dengan tata krama pribumi Nusantara dan tata cara dakwah dia yang suka mencemooh para Kiyai yang sebagian besar bila dirunut adalah keturunan wali sanga, dalam hal ini menurutku wajib ditumbangkan atau kalo perlu dibungkam.

Dan INGAT! Yang ditumbangkan sifat kejinya. Yang dibungkam mulut kotornya. Yang dimusuhi adalah cara dakwahnya yang suka menghina dan berkata kasar tersebut.

Urusan dia keluarga Nabi saw, itu urusan darah yang tidak akan kita ingkari. Kita mengingkari keburukan demi keburukan yang dia sebarkan di atas tanah leluhur kami. Justru dia yang akan kuwalat dengan Nabi saw, karena akhlaknya telah mencemari keluarga Nabi saw yang lainnya.

Siapapun yang bangga dengan nazabnya sebagai keluarga Nabi saw, yang petantang petenteng, seenaknya nginjak harga diri kita, cukup satu kata: HAJAR!

Toh buktinya keluarga Nabi saw seperti Abah Habib Luthfi Yahya Pekalongan tetap kita cintai dan bahkan kita memuliakannya, itu sebab Habib Luthfi dakwahnya santun, penuh tata krama dan bijaksana.

Nah DIA si Habib yang kalo ngaji urat lehernya pada bengkak karena teriak-teriak ini gimana urusannya? Hai brooo, bab nasab dia yang bersambung pada Nabi saw tidak perlu dipersoalkan, yang perlu dicamkan adalah sifatnya, adabnya, kekejiannya, ucapannya dan hinaannya, TITIK!

Kalo ada yang ngomong kuwalat karena memusuhi Habib Bahar Smith sebagai keluarga Nabi saw. Itu orang otaknya terbuat dari bahan kardus, gitu aja repottt! Masa' sih bro, berjuang menegakkan kebaikan Islam Aswaja kok diganjar kuwalat, eh elo yang kuwalat kampret, eh kardus!

Lacak tuh keluarga Habib Bahar bin Smith, pernah tidak memberikan kontribusi buat negara ini? Ada tidak dia dan keluarganya memiliki catatan sejarah dari abad ke 15 masehi hingga abad inj telah memiliki jasa besar terhadap bangsa inj?

Ingatlah para syarif, sayid dan habib yang suka koar-koar melecehkan Ulama kami! Kalian jangan curang, kalian jangan pula ngandalin nasab doang, jangan sok jagoan apalagi nginjak-nginjak harga diri kami! Eh ingat tidak siapa DN AIDIT?!!! Pernahkah dari kami menjelekkan kalian karena soal DN AIDIT?

Dan perlu dicatat, Jangan doktrin kami tentang KUWALAT, tentu para Ulama Islam Aswaja udah pada kuwalat karena pernah menentang, menyerang, menumbangkan dan membungkam seorang anak yang terlahir sebagai marga AIDIT. Catettt gaesss....

OMONG KOSONG!!!! Tuh yang kuwalat kagak balik ke Indonesia karena ngatain guru besar kami Gus Dur buta matanya, buta hatinya. Somplak!!!

Sumber : Status Facebook Tamara Zavieka Abdullah
#Cyberfatserintelegenci

 

Monday, November 19, 2018 - 14:15
Kategori Rubrik: