Jangan-jangan Tuhan Menegur Umat Islam via Ahok

Oleh : Mohammad Monib

Saya curiga dengan hiruk pikuk pilkada DKI. Maksudnya? Tuhan sebetulnya sedang menegur umat Islam. Lha, emang kenapa?

Tapi umat Islam tak mampu memahami isyarat dari Tuhan. Saya agak ragu dengan kata isyarat. Sebab begitu gamblang. Tidak implisit lagi. Jelas, nablak dan terang teguran Tuhan pada umat Islam. Apanya? Ayo satu-satu saya tulis:

Sekian lama wajah moralitas publik, kualitas keagamaan, bisnis amoral, mafia hukum, politisi busuk & ayat-ayatnya diperjualbelikan untuk dapat harta, kuasa & tahta. Ada juga wanita. Tapi kita ngga sadar-sadar & tobat.

Bahkan kita tambah asyik & lupa diri. Urusan politik yang kita sendiri mengotori, tambah dikotori pada Pilgub DKI 2017 ini. Tuhan bikin skenario. Jokowi dikirim ke Jakarta. Jadi Gubernur DKI. Ia melangkah menuju Pilpres. Partai-partai pengasong agama & ormas keislaman jual hoax, mengemas Islam. Tetap Jokowi menjadi Presiden RI. Lurus, amanah & pekerja keras. Kalian tuduh PKI dsb. Ahok jadi Gubernur DKI.

Tambah hebat umat Islam mencaci & membencinya. Dia tetap kerja keras untuk warga & umat Islam DKI. Umat & warga dilayani. Perbaikan Jakarta dilakukan. Kalian tetap heboh. Puncaknya kalian mendzalimi. Diada-adakan. Pidato fakta sosial-politik diedit & dikemas dengan tuduhan menista Islam. Sang pekerja itu dikriminalisasi. Opini digalang & dana dikumpulkan. Aroma surga dari pojok-pojok Monas ditiupkan. Eeeeh… dikirim ke ISIS sebagian. Ada aroma tak bersih atas donasi itu.

Bagai air bah umat terpesona. Caci maki dan teror diteriakkan. Rencana makar dikembangkan. Kemana Tuhan berpihak? Makar umat berbalas sajian makar dari Tuhan kepada kalian.

Tuhan hadirkan Ahok agar kita mengambil inspirasi dari kinerja dan ikhtiar yang dia lakukan. Mengambil ide dan gagasan dari kreatif dan inovatif gubernur non-muslim. Tapi kalian rendah apresiasi & menghargai. Tak melirik amal-amalnya.

Tuhan-bagiku-tak terima. Bagi tafsirku, Tuhan berpihak pada Jokowi-Ahok. Kok segitunya membela keduanya? Cari harta ya? Dibayar berapa? Duh, sepeser pun saya tak berniat & ngejar duit. Saya membela keyakinan & pilihan saya. Persis yang kalian lakukan. Saya bukan ormas Islam yang bisa rental demo.

Masjid & majelis yang sejati suci jadi mimbar caci maki dan tebar benci. Doa dan takbir politik dimana mana. Tuhan sampai detik ini menolak pinta politik busuk kalian.

Bagi saya Tuhan sampai detik ini berpihak pada Jokowi-Ahok. Apa buktinya?

Satu, Tuhan membongkar wajah-wajah munafik yang pura-pura suci dan bersih di hadapan publik. Satu-satu dibuka topengnya. Sanusi yang pertama. Patrialis Akbar berikutnya. Chating sex sang imam besar menghantam kita.

Kedua, Tuhan membuka aib kita pada tuduhan penistaan Islam. Ahok tidak menista. Saksi-saksi palsu Tuhan singkap topengnya.

Ketiga, sekalipun dihantam fitnah, gelombang demo berjilid dan teror jiwa raga. Pilgub putaran pertama, Ahok masih dipercaya warga DKI. Dapat 42% suara. Mukjizat. Fitnah & hoax atas nama Islam Tuhan mentahkan. Tuhan berpihak pada korban atau yang didzalimi.

Sejatinya umat Islam sadar teguran Tuhan. Mestinya mencari paslon yang melampaui Ahok. Calon gubernur yang bekerja, melayani, bernyali melawan mafia-mafia birokrasi dan politisi busuk dan selesai dengan dirinya. Bukan yang pandai memasak kata & berkuah kuah kalimat.

Jakarta dan Indonesia butuh pelayan publik & pekerja untuk umat yang melampau Ahok. Bukan sebaliknya.

Saya sedang menunggu Pilgub putaran ke 2. Ke siapa Tuhan berpihak? Semoga masih berpihak padamu Ahok! **

Sumber : jakartaasoy

Friday, February 24, 2017 - 10:45
Kategori Rubrik: