Jangan Jadi Penghalang Hijrahnya Saudaramu

Ilustrasi
Oleh : Fissilmi Hamida
 
Senang ya, lihat artis Fenita Arie memutuskan untuk berhijab. Tapi sedih lantaran beberapa ada yang menghujat  :( Ah, dengarkan ini. Sedikit goresan pengingat diri.
_________
 
Suatu hari di jagat maya... 
 
Seorang suami mengupload foto istrinya yang baru saja memutuskan untuk berhijab. Sebuah foto sosok yang dicintainya dengan celana jeans, baju atasan berwarna putih, dan pashmina berwarna biru muda yang dililitkan di lehernya.  lengkap dengan caption manis tanda dukungannya pada keputusan istri tercinta. Sebelumnya, sang istri selalu tampil seksi dalam kesehariannya. Berpakaian yang memperlihatkan belahan dada ada hal yang biasa baginya.
 
Beberapa orang ikut memberikan komentar dukungannya, juga doa agar ia istiqomah dengan hijabnya. Tapi... cukup banyak komentar yang membuat beberapa orang memicingkan mata :
 
"Hijrahnya tanggung banget, sih. Masih pake celana jeans ketat gitu. Mending lepas lagi aja tuh jilbabnya!"
 
"Yaelah, kalau cuma kain nempel di kepala doang sih semua orang juga bisa!"
 
Begitu kata beberapa. Mendadak ada sisi hati yang nyeri saat sang istri membacanya. Membuat pikiran untuk kembali membuka hijabnya muncul sekelebat di benaknya.
____________
 
Suatu senja di sebuah pengajian... 
 
Seorang wanita muda dengan penuh semangat melangkahkan kakinya untuk mengikuti sebuah kajian islam di masjid kampusnya. Ia berpakaian rapi, dengan celana coklat ketat membalut kaki jenjangnya, kemeja bodyfit warna merah muda yg membalut tubuhnya, juga jilbab segi empat warna senada yang menutup kepalanya. Aroma parfumnya-pun semerbak saat ia melintasi yang lainnya. 
 
"Assalamualaikum," sapanya pada yang lainnya.
 
Tapi, bukan sambutan hangat yang ia dapatkan. Melainkan wajah-wajah masam yang melirik melihat kehadirannya di tengah kajian.
 
"Mbak, kamu serius mau ikut kajian? Ini kajian keislaman, loh. Masa' mau ikut kajian tapi pakaiannya seperti orang telanjang," tegur salah satu orang, padahal gadis itu belum juga sempat mendudukkan dirinya.
 
Gadis itu terdiam. Belum hilang rasa kagetnya, ada lagi suara yang menyentilnya.
 
"Duh, Mbak. Kamu ini nggak akan bisa cium bau syurga loh. Ahli neraka kamu, Mbak.  Mau kajian kok parfumnya wangi banget gini."
 
Gadis itu masih terdiam, dengan pelupuk mata yang mendadak basah. Ia langsung keluar dari tempat kajian dengan menyimpan setumpuk kesedihan. Ia kecewa luar biasa. Ia datang dengan penuh semangat untuk memperbaiki dirinya, namun belum juga ia duduk, banyak orang yang menghakiminya. Hari-hari berikutnya, gadis itu tak pernah lagi menampakkan dirinya. 
__________
 
Suatu pagi di sebuah masjid yang cukup terkenal di Yogyakarta. 
 
Ini kali pertama bagi seorang wanita muda dan suaminya mengikuti kajian di masjid itu. Menurut beberapa orang, kajian disana bagus katanya. 
 
Sang istri yang tampak segar dengan gamis berwarna biru muda motif bunga bunga dan make up sederhana masuk dengan senyuman di wajahnya. Ia menyapa beberapa yang sudah dahulu disana dengan menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Sayang sapaan dan uluran tangannya bertepuk sebelah tangan. Beberapa yang hendak disalaminya justru menepis uluran tangannya. Sebabnya? Hanya karena ia satu-satunya yang berbusana warna biru muda motif bunga sedang yang lainnya semua berpakaian hitam dengan cadar menutupi wajah mereka. 
 
"Pakaianmu itu nggak nyar'i. Pakaian bermotif itu bisa menggoda!" komentar salah satu dari mereka dengan nada yang tidak ada ramah-ramahnya. 
 
Sepanjang kajian, ia hanya duduk di belakang. Sendirian. Tak ada yang mau duduk di sebelahnya lantaran pakaiannya. Sambil menahan tangisnya, ia mengirimkan pesan pada suaminya yang duduknya terpisah darinya. Rupanya, sang suami yang saat itu memakai celana jeans dan pakaian casual mengalami hal yang sama. 
 
Hari berikutnya, keduanya memutuskan tak akan pernah lagi datang kesana. Mereka lebih memilih ikut kajian di masjid-masjid yang jamaahnya lebih berwarna, yang tak dibedakan meski jamaahnya berbeda beda jenis pakaian dan coraknya.
_________
Suatu siang di sebuah kajian rutin yang diadakan oleh sebuah sebuah organisasi keislaman.. 
 
Seorang remaja melangkahkan kakinya kesana. Sudah lama sebetulnya ia ingin mengikuti kajian di sekolahnya. Ia merasa... ada yang berbeda dengan dirinya. Ia tahu ia berjenis kelamin pria. Tapi entah mengapa ia sangat suka dengan hal hal berbau wanita. Bahkan, ia suka mendadani wajahnya hingga tampak cantik jelita layaknya wanita. Ia merasa bahwa sesungguhnya jiwanya adalah wanita. Namun di satu sisi, ia merasa tak nyaman dengannya. Apalagi beberapa orang menjulukinya 'banci' lantaran pembawaannya yang lemah gemulai sekali. Hingga ia memutuskan untuk mengikuti kajian ini. 
 
Namun sayang, ia justru dihardik saat hendak melangkahkan kakinya. Katanya, 
 
"Dasar banci. Orang kayak kamu tu kotor. Nggak usah ikut disini lagi."
 
Kata yang lainnya, "Duh, jauh jauh deh dari kami. Kaum nabi Luth kayak kamu nanti bisa nularin kami."
 
Remaja itu tertegun. Ia sakit dan kecewa melihat beberapa justru menghardiknya. Padahal ia datang untuk mencari jawaban atas kegelisahan hatinya. 
 
Beberapa tahun kemudian, tersiar kabar bahwa ia betul betul menjelma menjadi wanita. Ia menghabiskan ratusan juga untuk mengoperasi kelaminnya di Thailand sana.
_________
 
Duhai, Sayang. Pernahkah kau bersikap demikian? 
 
Memberikan komentar-komentar menyakitkan pada seseorang yang baru saja memulai tangga hijrahnya? Menghardik mereka meski hanya lewat lirikan tak suka hanya karena mereka berpakaian berbeda? Padahal mereka datang dengan penuh semangat untuk memperbaiki diri mereka, namun semangat itu kau padamkan dengan lidah dan sikapmu yang merasa bahwa kau lebih baik dari mereka. Padahal, bisa jadi secara pakaian memang kau lebih sempurna. Tapi di hal lainnya, ternyata mereka jauh lebih baik dari yang kau duga.
 
Duhai, kawan. 
Berhentilah bersikap demikian. Hargai setiap perubahan yang ditunjukkan seseorang. Kita tak tahu bahwa bisa saja perjuangannya untuk menuju perubahan tersebut teramat berat. Mulai dari kehilangan pekerjaannya, teman-temannya, mungkin juga keluarganya. Tak sepertimu yang begitu mulus jalanmu untuk menuju syar'imu. 
 
Duhai teman. 
Bisa jadi komentar nyinyirmu, atau lirikan tanda tak sukamu menjadi penghalang hijrah saudaramu. Bisa jadi ia memilih untuk berhenti saja lantaran lidahmu yang begitu pedas menghakiminya. Padahal jalan untuk hijrahnya tinggal selangkah saja. 
 
Bagaimana kelak di akhirat kau akan menjawab ketika ada satu baris di buku catatan amalmu yang menyatakan bahwa lidahmu sering menjadi penghalang hijrahnya saudaramu? 
 
Jadi duhai sayang.
Mari sama sama hargai tiap perubahan. Tetaplah pula menebar kebaikan tanpa merasa engkaulah yang paling baik di antara semua orang.
___________
 
".... Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (Terjemahan Q.S. An-Nahl: 125)
Sumber : Group Whatsapp
Friday, February 2, 2018 - 10:00
Kategori Rubrik: