Jangan Bungkam Atas Bobroknya Pemerintahan DKI

Yg sering ku lihat, pendukung pakdhe yg sebagian mendukung Ahok jg, overestimate kekalahan Jakarta. Seolah2 itu kekuatan Eep semata, kelihaian Anies, kekuatan Prabowo, kekuatan SBY, atau kelihaian manuver licik pak tua yg suka menuntut bila namanya d sebut.

Anda mungkin berpikir, Ahok saja yg sebegitu kuatnya d Jakarta, dengan tingkat kepuasan tinggi, bisa d kalahkan. Bila begitu pikiran anda, maka anda overestimate tokoh Ahok.

Pandanganku lebih realistis.

Walaupun Ahok kuat d sisi kinerja, tetapi tetap saja pada dasarnya Ahok memiliki handicap cukup banyak. Bagiku, Ahok dari awal adalah tripple minority. Chinese, non Muslim, dan warga Bangka pula. Tidak mengalir darah Betawi d tubuhnya samasekali.

Sadly, tdk bisa d pungkiri bahwa masyarakat Indonesia masih cenderung mempertimbangkan ras dan agama ketika memilih pemimpin. Otomatis yg sesuai dengan ras mayoritas dan agama mayoritas memiliki advantage.

Dengan keadaan tripple minority seperti itu, Ahok tentu paling mudah d serang issue dari sisi ras dan agama. Pada awalnya, dengan segala handicapnya, Ahok tetap tokoh yg kuat d Jakarta. Tetapi Ahok menambah satu lagi handicapnya d Kepulauan Seribu. Ketika Ahok secara spesifik menyebutkan Al Maidah 51.

Walaupun aku tdk memandang itu sebagai sesuatu yg d tujukan untuk menistakan agama, tetapi aku jelas memandangnya sebagai dosa. Dosa politik.

Kubu lawan Ahok segera menggunakan momentum yg populer dari post Buni Yani untuk menyerang Ahok. Melalui ormas dan ummat Muslim secara keseluruhan. Dan berhasil menumbangkan dominasi Ahok.

Tapi semua itu tdk akan terjadi tampa kalimat Al Maidah 51 yg d ucapkan Ahok. Jakarta jatuh bukan krn kekuatan Anies. Jakarta jatuh lebih d karenakan Ahok tembak jempol kaki sendiri, dan maju ke arena pilgub dengan luka yg masih menganga.

Berbeda dengan kontestasi pilpres 2019. Petahananya tdk memiliki kelemahan dan handicap seperti Ahok. D tambah lagi, petahana amat sangat berhati2 dalam mengucapkan suatu hal. Hence, jeda bengong cukup panjang ketika petahana berbicara.

Sisi negative dari sifat pribadi petahana, seperti kurusnya, ndesonya, skarang justru lebih terasa bagaikan keuntungan dalam politik. Tdk memiliki dosa masa lalu jg membuatnya menjadi kandidat yg kuat dan sulit d serang. Di tambah lagi, mulai rampungnya proyek2 yg d kerjakan, membuatnya semakin kuat d panggung pilpres.

Sebagian capres tentu akan berusaha meraih dukungan ummat Islam, bahkan mungkin mencap petahana sebagai musuh Islam. Tetapi Islam itu isinya bukan hanya FPI dan HTI d Indonesia.

Membedakan kontestasi pilgub Jakarta dengan pilpres, jelas tidak Apple 2 Apple dalam banyak hal.

Jadi tidak banyak gunanya paranoid terhadap gerakan Eep, tindak tanduk Prabowo, dan tipu muslihat pak tua. We can do next to nothing about that (bila tetap ingin play by the rule). Lebih baik berbuat sesuatu yg positif. Merapatkan barisan, mempersiapkan diri dan lain2.

Yg jauh lebih patut d khawatirkan, dalam hal pilpres, daripada Jakarta terulang kembali adalah penyebaran hoax, fitnah, dan disinformasi yg PASTI akan menjadi sarana dalam pilpres 2019.

Jadi, bagi yg mau melototin dan fokus k Jakarta. Silahkan aja. Do it to ur heart content. Bagi yg mau fokus k skala nasional, have at it bro. Dua arah ini ga ada yg salah. Dua2nya memang hrs ada dan akan saling melengkapi pada ujungnya.

Toh Jakarta adalah miniature Indonesia. Seperti apa arah Jakarta d skala province, akan terjadi pada Indonesia bila berada d bawah management yg sama.

Tapi apalah aku ini. Hanya seekor anak bebek kecil sendirian yg tersesat dalam luasnya hamparan gurun Gobi tampa setetespun air. Tidak perlu baper dan ambil hati tulisan ini.

Sumber : Statis Facebook ABhumi

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *