Jangan Belajar Agama dari Internet?

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Banyak sekali kalangan yang menyalahkan kalau ada yang mau belajar agama dari internet. Kenapa kok tidak boleh dan mengapa dilarang? Bukankah internet itu juga bisa berfungsi sebagai media pembelajaran yang efektif, murah, cepat dan praktis?

Jadi begini duduk masalahnya. Di internet itu informasi dengan spesifikasi apa saja bebas berkeliaran. Ada yang sangat valid karena sumbernya memang dari kalangan yang punya kapasitas dan otoritas.

Tapi ketimbang sumber-sumber yang valid dan bisa dipertanggung-jawabkan, kebanyakan memang yang keliru, salah, tidak valid.

Masalahnya kita masyarakat awam malah lebih sering terjebak ke sumber-sumber yang tidak valid itu.

Awalnya 20-an tahun yang lalu ketika belum lagi ada media sosial, sumber informasi di internet masih amat terbatas. Kita tidak akan membaca sebuah berita, kecuali hanya yang dirilis oleh kantor berita ternama yang punya nama, kualifikasi serta kapasitas sebagai bagian dari dunia jurnalistik.

Kantor-kantor berita itu resmi berdiri, punya izin dan juga punya profesionalitas dalam bekerja. Bahkan juga bisa disomasi atau dituntut redaksinya, kalau memang telah melanggar kode etik jurnalistik. Pendeknya semua bertanggung-jawab dan jelas alurnya.

Namun begitu masuk ke zaman media sosial sekarang ini, semua aturan tadi berubah 180 derajat.

Orang sudah tidak lagi membaca berita dari sebuah kantor berita yang profesional. Siapa saja bisa dengan mudah menulis berita, meski hanya berupa hasil mengarang bebas yang isinya melulu provokasi, agitasi bahkan juga ilusi.

Parahnya, yang membaca pun tidak bisa membedakan mana sumber yang bisa dipercaya dan mana sumber yang abal-abal, penuh sensasi dan hoaks stadium parah berat.

Sumber pertama yang sudah bermasalah ini kemudian menshare (istilah kerennya: memviralkan) konten yang tidak benar kepada 1000 temannya, lalu masing-masing teman itu menyebarkan kepada 1000 lagi teman yang berbeda, sehingga hanya dalam waktu beberapa menit, ada jutaan orang yang terpapar konten tidak benar.

Ilmu-ilmu Keislaman Terpapar Hoaks

Ketika virus hoaks dalam pemberitaan sudah sampai level yang teramat parah, kita juga bisa membayangkan bagaimana kejadian yang sama juga dialami dalam penyebaran informasi terkait ilmu-ilmu keislaman.

Rekaman ceramah di Youtube lebih banyak berisi nara sumber yang tidak kompeten, bukan ahlinya, tidak paham ilmunya, tidak mengerti duduk masalah.

Artis dan penyanyi yang baru saja insyaf kemarin sore, tidak jelas latar belakang ilmu agamanya, tiba-tiba ceramahnya viral sejagat.

Preman, rampok, tukang peres, tukang tipu dan mafia juga ikutan pada ikut trend insyaf, lho kok tiba-tiba juga jadi ustadz ceramah agama dan videonya viral sejagad.

Motivator yang lagi pada krisis orderan job pun juga latah ikut-ikutan pada beralih nongol di Youtube bicara tentang Islam hasil rekayasa dan ilusi, videonya viral sejagad.

Para mantan aktifis yang terlanjur jadi makelar demo pengerahan masa, yang juga pada kekurangan proyek demo, akhirnya bikin video viral ngutap-ngutip ayat, videonya viral sejagad.

Dan yang unik serta licik, muallaf yang plonga-plongo gak ngerti bahasa Arab, gak pernah belajar fiqih dan syariah, tiba-tiba ceramah dan viral teriak-teriak tentang syariah Islam. Padahal kita tidak yakin apakah dia tahu caranya mandi janabah. Videonya viral sejagad jadi ustadz.

Dulu setiap nonton TV ada Mamah Dedeh, saya ngebet banget ingin mencatat keselo lidah Beliau, khususnya yang terkait dengan hukum-hukum terkait syariah dan fiqih.

Tapi sekarang, ceramah Mamah Dedeh itu di mata saya sama sekali belum ada apa-apanya dibandingkan berbagai penyimpangan materi ceramah yang membanjiri dunia maya kita.

Mamah Dedeh dengan tawanya yang khas itu masih mending, Beliau ustadzah yang sudah lama jadi guru, kuliah di UIN entah fakultas apa. Dan meski tidak sampai jadi doktor dalam satu cabang ilmu keislaman, tapi lumayan lurus.

Sedangkan para badut, pelawak, artis, motivator dan muallaf kesiangan itu parah banget kasusnya. Sudah ilmunya keliru, ditambah keinsyafan mereka jatuh di tangan tokoh-tokoh yang salah, mereka pun gemar tebar tekanan dan provokasi menyalah-nyalahkan semua orang, wa bil khusus para ulama.

Sayangnya mereka tidak mau berhenti ceramah, sebab semua itu ternyata dimonetize dan jadi duit. Lalu umat Islam yang awam agama tapi doyan nonton artis, kebetulan dapat tontonan macam itu, lengkap lah sudah proses menyimpangkan ilmu-ilmu keislaman.

Sementara para ulama betulan yang ilmunya setinggi langit, nampaknya jarang-jarang turun gunung merilis rekaman ceramah atau tulisan. Saya tidak tahu apakah mereka tidak lihat bagaimana ilmu-ilmu agama Islam 'dilecehkan' di media sosial? Ataukah mereka tidak puna informasi semacam itu?

Atau mungkin tahu, tapi tidak tahu bagaimana cara mengantisipasinya. Tidak punya tim yang siap memback-up positngan video atau tulisan mereka, mungkin itu salah satu alasannya.

Almarhum Prof. Ali Musthafa Ya'qub pernah marah-marah di kelas sambil menggebrak meja,"Makanya jangan belajar agama sama Mbah Gugel".

Saya diam saja saat itu karena kaget, sudah separah itukah isi internet kita. Tadinya saya pikir, saya sudah banyak menebar ilmu di internet, tiap hari menulis sebagaima perintah Beliau : Jangan mati kecuali sudah jadi penulis.

Namun saya dan teman-teman sesama murid beliau jelas kalah jumlah, kalah populer sekaligus kalah ganteng. Sehingga kalau pun orang cari informasi terkait tema yang kami tulis, yang nongol di Gugel memang banyak yang KW, palsu, keliru dan sampah busuk.

Jadi akhirnya keluar statemen sesuai judul di atas : Jangan belajar agama dari internet. Tapi masih ada tambahannnya : kecuali dari sumber-sumber yang valid dan terpercaya serta punya otoritas dan kapasitas.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Sunday, April 5, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: