Jaman Berubah

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Dalam pemerintahan Jokowi, semoga perlahan mulai bisa dibangun perubahan-perubahan yang menjanjikan kebaikan. Sudah pasti, banyak kekurangan, apalagi dimata yang tidak menyukai Jokowi. Begitu juga bagi keluarga para mahasiswa Trisakti, keluarga Munir, keluarga dan simpatisan korban keganasan Orba atas nama G.30.S.

Maka bisa dimengerti, betapa tak mudah bagi Jokowi. Apalagi, ndilalahnya, Jokowi adalah anak bajang dalam dunia politik kita--yang begitu oligarkis tapi mata duitan.

 

 

Upaya memainkan simbol-simbol pun, bisa jadi ditanggapi negatif, bagi para oposan pembenci. Sehingga mereka tak bisa membaca nilai-nilai di balik simbol. Entah itu maraknya pakaian adat di Istana Merdeka, ataupun betapa ganjennya melihat JK memakai pakaian Jawa sementara Jokowi memakai adat Bugis.

Mereka yang sudah difrozen berfikir formal gaya orbaisme, tentu tak gampang menerima dekonstruksi Jokowi, termasuk sejarah Jokowi yang masih dianggap hitam. Apalagi melihat kekonyolan sepanjang prosesi hari kemerdekaan itu. Di mana Jokowi mendatangkan pakaian aneh-aneh para alumnus Jember Carnival, atau menghadiahi yang berpakaian aneh-aneh dengan sepeda tanpa menjawab kuis.

Apa kriteria memenangkan Yasona Laoli, Sapta Odang, isteri Tito, juga asisten ajudannya? Dalam kerangka pikir mereka: dipastikan kongkalikong, dan membiarkan rakyat miskin di luar pagar melongo. Bukankah mereka lebih butuh sepeda? Sementara di UBK, Prabowo yang mengikuti upacara 17-an bersama Rachmawati, Amien Rais, dan beberapa alumni 212, meminta pemerintah menegakkan keadilan. Di mana keadilan coba, kalau soal sepeda saja KKN?

Padahal pakaian adat Nusantara hanya aksesoris, karena toh pada kaum perempuannya, jilbab masih berjaya. Coba kalau konsisten sebagai pakaian adat, seperti yang dikenakan Pak Frans, kepala suku Arfak, Papua, yang mendapat sepeda dari Jokowi pada aubade sore. Atau pakaian adat Pak Jusak Rumambi dari Sulut, yang dipenuhi gantungan tengkorak kera!

Pemandangan di Istana Merdeka tadi, mengguncangkan iman banyak orang yang memegang nilai-nilai agama dengan teguh. Dan menilai Jokowi mulai menebar racun. Itu baru pakaian. Gimana kalau soal Munir, G30S, Trisakti, dan sejenisnya? The long and winding road!

Tidak mudah bukan? Apalagi justru ketika semangat dari politik identitas kembali ditiupkan, dan semakin dikukuhkan. Dan doa-doa politik halal asal untuk membully. Karena hanya dengan itu kemenangan diraih. Terbukti bagaimana Ahok bisa dipenjara.

Jika SBY dan AHY bisa terus bertindak simpatik, elegan, publik akan mengapresiasi. Nggak usah lagi celometan lebay-lebay. Menjadi antagonis, sebagaimana dipilih beberapa oposan, yang nyinyirnya sundul langit, entah dari parlemen atau ketum parpol, akan sangat kontra-produktif. Kalau mereka pinter, 7 tahun cukup waktu mengubah brand.

Ini era perubahan. Yang tak mau berubah, kata Bung Karno pas 17 Agustus 49 tahun lampau, akan ditelan sejarahnya sendiri.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Friday, August 18, 2017 - 08:15
Kategori Rubrik: