Jamal Khashoggi Dibunuh Karena Minyak?

Ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Dari awal saya sudah agak curiga bahwa ada "sesuatu" di balik kasus pembunuhan Jamal Khashoggi. Bahkan seorang teman sempat bertanya kenapa saya tidak bersikap (menulis) atas tragedi yang menimpa seorang jurnalis kritis tersebut. Bukannya tidak berempati. Tapi saya melihat ada aroma lain dibalik drama sadis itu.

Sikap Amerika yang begitu reaktif dan bahkan akan memberikan sanksi terhadap Saudi sebenarnya menunjukkan gelagat aneh. Apalagi sekitar sepekan sebelum kejadian pembantaian itu, Donald Trump secara terang-terangan "melecehkan" Kerajaan Saudi bahwa Wan Salman takkan mampu bertahan hanya dalam waktu dua minggu tanpa Amerika dibelakangnya. Hal ini semakin melengkapi "drama sinetron" bahwa dua negara sohib sejati itu sudah gak harmonis lagi. Lantas apa sebenarnya tujuan dari drama ini?

Terbukti, pasca raibnya Khashoggi dan wacana sangsi dari Amerika, harga minyak dunia terus merangkak naik. Hal ini seolah menjadi reaksi pasar atas kekhawatiran terhadap keberlangsungan produksi minyak dari Saudi sebagai produsen minyak terbesar di dunia jika embargo dari Amerika benar-benar terjadi. Bingo! Amerika dan Saudi sebagai "pemain utama" meraup untung besar dari kenaikan harga ini. Pertanyaannya, jika ini memang sebuah drama, apa penyebabnya?

Seperti diketahui, bahwa dunia kini telah menyepakati untuk mengurangi pemakaian minyak yang dianggap sebagai pemicu naiknya temperatur iklim di bumi. Yaitu Kesepakatan Iklim Paris 2015, dimana Amerika malah menyatakan mundur dari perjanjian tersebut dan berbuah kecaman dari seluruh dunia. Bahkan beberapa saat sebelum berlangsungnya hajat perjanjian tersebut, Kota Paris sempat dilanda rentetan serangan teror. Entah siapa dalang dibelakangnya. Tapi yang jelas, perjanjian itu sangat merugikan Amerika yang kadung melakukan banyak kongsi di berbagai negara penghasil minyak (terutama Jazirah Arab) meskipun harus melalui jalan perang dan pemberontakan.

Kini, Aramco (BUMN Minyak) milik Saudi sudah mulai di privatisasi meski masih tarik ulur. Bahkan juga, perusahaan minyak terbesar milik Amerika, Philadelphia Energy Solution (PES) sudah jatuh bangkrut di awal 2018 lalu. Dan salah satu cara Amerika untuk "kejar setoran" adalah dengan menaikkan suku bunga untuk mendongkrak nilai tukar mata uangnya. Memang, pada akhirnya US$ menguat akibat kenaikan suku bunga dan harga minyak juga merangkak naik sebagai "Khashoggi effect".

Padahal dua langkah di atas juga bisa menjadi simalakama bagi Amerika. Yaitu serapan kredit dan konsumsi yang pada akhirnya menurun akibat suku bunga yang tinggi. Pun kenaikan harga minyak juga memicu percepatan produksi massal mobil listrik yang akan didominasi oleh China. Lagi-lagi ini akan menjadi perang dagang jilid 2. Anehnya, di Indonesia fenomena ini justru disikapi sebagian rakyatnya dengan menimpakan kesalahan kepada Presidennya. Padahal ini sebagai dampak dari pertarungan Ekonomi dan Politik Dunia. Bijimana coba? Maklum.., Kampret!

*FAZ*

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Sunday, October 21, 2018 - 12:00
Kategori Rubrik: