Jamaah Kemakan Hoaks

ilustrasi

Oleh : Ainur Rofiq Al Amin

Baca judul di atas pasti masih belum dipahami, maka lebih baik tidak berhenti hanya baca judul saja.. hehe maaf....

Saat acara halal bihalal di UINSA tadi, saya duduk di bersama seorang dosen yang kebetulan putranya mau dipondokkan di Tambakberas. Selesai diskusi tentang pondok, dilanjutkan diskusi lain.

Sebagai gambaran umum, sang dosen ini bernama Ustadz H. Saifuddin. orangnya kalem dan setahu saya, beliau tidak ikut bersuara saat pilpres.

Saat akhir Ramadhan seperti biasa, Ustadz Saifuddin mempunyai jadwal menjadi imam dan kultum tarawih di suatu masjid di seputaran Sidoarjo.

Tema pokoknya adalah tentang "doa". Kultum diakhiri dengan ajakan, "Mari para jamaah kita doakan Indonesia ini agar aman dan damai. Karena bila tidak aman dan tidak damai, anak cucu kita nanti yang akan merasakan akibatnya."

Sambil menyeru dengan kalimat di atas, Ustadz Saifuddin memperhatikan pemuda usia sekitar 35 tahun agak bereaksi aneh.

Reaksi aneh ini tambah nampak saat selesai berdoa yang dilanjutkkan acara jabat tangan secara berbaris. Si pemuda saat sampai di depan Ustadz Saifuddin. malah agak menjauh. Saat sang Ustadz sedikit bergeser menuju si pemuda, si pemuda menghindar dan berjalan menuju arah jamaah di sebelah Ustadz Saifuddin untuk jabat tangan. Walhasil, Ustadz Saifuddin tidak berhasil jabat tangan.

Ustadz Saifuddin sampai heran dan berkata kepada saya, "Mungkin ini akibat pemilu dibawa ke ranah agama, maka mendoakan yang sifatnya netral pun dianggap pemihakan pada calon tertentu selanjutnya yang berdoa dianggap melawan "perjuangan dan jihad" mereka dalam politik.

Maka saya jawab, "Itulah dampak hoaks yang dibungkus agama. Doa kedamaianpun dimaknai politis."

Semoga efek buruk pemilu cepat berakhir.
*****

Sumber : Status Facebook Ainur Rofiq Al Amin

 

Tags: 
Wednesday, June 12, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: