Jalan (Terjal) Esemka

ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Tidak berlebihan Presiden Jokowi menyebut jalan Esemka tak akan mulus, sehingga membutuhkan dukungan penuh bangsa kalau ia ingin sukses.

Pasar otomotif Indonesia memang amat menggiurkan. Bagaimana tidak? Selevel gelaran MotoGP saja, kalimat "Satu Hati", "Selalu di Depan" itu bertengger di motor para juara.

Itu menunjukkan orang Indonesia tidak gentar dengan barang-barang otomotif meskipun sudah di-overpriced oleh ATPM secara gila-gilaan, tetap saja laris diborong. Bahkan meskipun kemarin KPPU memvonis pabrikan asal Jepang melakukan kartel, tetap saja masyarakat tidak peduli, berapa saja akan diborong.

Masuknya mobil Esemka dalam pasar kendaraan roda empat jelas akan menuai tantangan yang hebat. Tidak hanya ia akan bertempur di ekosistem red ocean yang sudah keras, namun ia juga menanggung beberapa beban lain, diantaranya:

1. Beban politik
Brand Esemka menarik perhatian publik ketika Pilgub DKI 2012, karena profil Jokowi sebagai kontestan, adalah pendukung Esemka. Sehingga ketika Jokowi menang Pilpres periode pertama, Esemka ini adalah senjata untuk mengolok Jokowi.

Mungkin bagi beberapa orang disebut sebagai senjata pamungkas, tidak peduli kalau Esemka ini bukan program pemerintahan Jokowi, tidak peduli betapa sulitnya membangun industri otomotif nasional, pokoknya cara paling gampang untuk meluapkan kemarahan kepada Jokowi, adalah dengan berteriak "Mana Esemka?". Bahkan ada yang dengan masabodonya menyebut Esemka adalah hoax-nya Jokowi, meski biasanya kalau diajak berdebat hoax dimana, ia tidak bisa menjelaskan dengan baik, atau ujungnya blokir.

Dengan beban politik seperti itu, memang tidak mudah untuk memasarkan produk Esemka ke masyarakat yang pilihan politiknya kontra dengan Jokowi.

Sulit membayangkan seorang Jonru, Wawat, FZ, Fahri, Amien Rais, menggunakan mobil Esemka ini dengan bangga.

2. Brand China
Tak bisa dielakkan lagi kalau produk Esemka dibangun dari platform mobil China, baik itu Foday maupun Changan. Sebenarnya tentu saja tidak haram membangun industri mobil dengan berkolaborasi dengan pabrikan lain yang sudah lebih dahulu jalan.

Beberapa pabrikan di China pun bekerjasama dengan pabrikan Jepang sehingga kemudian mereka bisa mandiri membuat produknya. Bahkan satu jenis mobil, bisa dijual dengan beberapa merk lain.

Baojun 530 yang diproduksi WULING-GM-SAIC, dijual di Indonesia dengan nama Wuling Almaz, dan di Amerika dengan nama Chevrolet Captiva. Ini salah satu produk yang cukup fenomenal, karena banyak teknologi canggih yang dibenamkan.

Namun tentu, pengalaman buruk bangsa kita yang dulu pernah berurusan dengan Motor China (Mocin) yang memang sangat bermasalah, mungkin membuat masih adanya persepsi buruk orang tentang brand otomotif dari China.

3. Mentalitas Jepang Minded

Orang +62 sudah sangat terbiasa dengan brand Jepang sejak lama. Memang brand Jepang terkenal menjaga kualitas dari sejak lama, sehingga mereka jarang mengecewakan masyarakat Indonesia. Produk motor Honda dari sejak jaman CB, Astrea, Win atau mobil Toyota Corolla atau Kijang, memang melayani kebutuhan masyarakat dengan menjaga tingkat kepercayaan dengan baik.

Sehingga ketika brand Jepang ini mengerek harganya gila-gilaan jauh diatas harga produksinya, masyarakat masih cenderung tetap memilihnya, padahal kalau dari sisi kualitas, perkembangan teknologi juga memungkinkan produk non Jepang untuk berkompetisi, namun beberapa tetap rontok melawan brand Jepang.

Ambil contoh, Bajaj. Di India, Bajaj adalah produsen teratas untuk motor laki. Produknya dikenal bandel, apalagi sejarahnya ia berkolaborasi dengan Kawasaki, sampai akhirnya ia sudah bisa mandiri. Produknya yang dijual di Indonesia pun memiliki kualitas yang bagus, bahkan sempat kolaborasi dengan Kawasaki untuk menjual Pulsar 200NS. Namun tak bisa bertahan lama, Bajaj pun harus angkat kaki dari Indonesia, karena tidak bisa mengejar ketertinggalan dari brand Jepang.

Terlebih kesan dari brand Jepang juga harga jual bekas yang tetap terjaga.

Itu tadi, menurut saya, adalah tiga tantangan terberat Esemka. Maka ada beberapa langkah penting yang perlu dilakukan supaya brand Esemka sukses:

1. Membangun jejaring dealer, service, spare part, dan komunitas.
Kekuatan brand Jepang adalah mereka punya jejaring dealer dan service yang kuat. Memastikan supply service part tersedia. Ini hal wajib yang harus dibuat, untuk menjamin rasa percaya publik.

Komunitas akan terbentuk dengan mudah, kalau produknya direview bagus, dan didukung oleh jejaring dealership yang baik pula.

2. Memastikan produk yang dilepas, mendapat review baik oleh para pengguna, dan influencer otomotif dan media.

Wuling termasuk brand China yang relatif sukses untuk ukurannya, karena produknya memang selalu membawa inovasi baru, dengan value yang baik. Bahkan beberapa kali, produknya seperti Confero, Cortez mampu meraih Car of The Year dari review yang dilakukan oleh dunia otomotif. Namun karena sebagai brand China, belum menjamin tingkat larisnya melawan brand Jepang yang sudah lebih dulu mengakar.

Esemka pun harus memastikan produknya berkualitas, karena review jelek di media dan media sosial, akan mampu meruntuhkan potensi penjualannya.

3. Belajar dari kesuksesan Proton di Malaysia, perlu adanya keberpihakan pemerintah untuk memprioritaskan produk merk lokal dalam pengadaan di instansi pemerintah. Namun jangan sampai di-abuse juga dengan hanya sekadar rebadge tanpa inovasi lanjutan.

Jadi selamat datang, Esemka, selamat berjuang di jalan terjal ini. Saya mendoakan semoga sukses, dan bisa menjadi rintisan pabrikan otomotif yang kelak bisa membanggakan bangsa.

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Sunday, September 8, 2019 - 14:00
Kategori Rubrik: