Jalan Pedang Kaum Wadam (Memori Perjaka di Sarang Perjakun)

Oleh: Arham Kendari

Sebenarnya rada malas ngomongin LGBT, mengingat sudah over ekspos dibahas dari berbagai sudut pandang. Tadinya cukuplah cari aman, melipir dengan dalih fardhu kifayah. Tapi makin ke sini, rupanya topik ini makin menguat. Menguatirkan maksudnya. Apalagi sudah bawa-bawa nama gue segala. LGBT adalah HAM katanya. Enak aja nuduh sembarangan.. Bergaul dengan kaum LGBT pernah gue lakoni belasan tahun lalu.

Gue boleh dibilang cukup akrab, bahkan makan dan tidur bareng mereka waktu itu. Salah satu tolak ukur gimana dekatnya, gue sampe sempat ngerti bahasa persatuan yang mereka gunakan hingga ke grammar-grammar-nya. Sisi positifnya? Ada juga sih. Ya setidaknya gue bisa siaga kalo kemungkinan terburuk terjadi konspirasi antar mereka yang mengancam keselamatan ataupun keperjakaan gue. Tapi biarpun begitu, gue alhamdulillah tetap gak kepengaruh orientasi mereka. Bukankah ikan air asin tetap terasa tawar meski larut dalam lautan air asin?

Hufft… Sumpah ini susah banget gue cari analoginya biar kesannya keren. Xixixi…. LGBT itu bisa menular? Boleh jadi. Karena gue saksinya. Teman sekelas gue di SMA yang terlahir sebagai lelaki tulen dan jago manjat pohon kelapa, memilih jalan pedang ini. Jalan pedang yang akhirnya nyari sesama pedang. Mending kalo light saber, kan kerenan dikit, bisa glow in the dark lagi. Pernah juga ada teman gue di komunitas seni kampus yang tiba-tiba ngirimin gue surat cinta.

Buset, udah kayak Zainuddin dan Hayati aja. Padahal otot bisepnya lebih gede dari gue. Karena kesal, panik, dan malu kalo ketahuan teman lain, suratnya gue sobek-sobek. Dia nangis. Gue ajak ketemu dan nasehatin, dia nurut dan janji mau berubah. Seminggu gue lihat ada perubahan, tapi ternyata gak lama balik lagi jadi melambai kayak nyiur di pantai. Gak putus asa, gue nasehatin kembali. Dia ngaku mau berubah lagi. Gue udah mulai pasrah. Terserah aja kali ini dia mau berubah jadi apa. Dari transgender mau jadi transformer juga silakan, pokoknya berubah. Dan ternyata keraguan gue terbukti. Gak lama berubah ia balik lagi.

Gue coba nasehatin lagi, berubah, balik lagi. Ya udin, gitu aja terus sampe Haddad Alwi bikin album metal. Sekian lama gak ketemu, terakhir dia invite di BBM, gue pikir waktu yang panjang sudah mengubahnya. Eeh ternyata seperti kata pantun: Makan kedondong di atas atep. Dulu bencong sekarang tetep. Yah, kalo udah gini mau gimana lagi. Satu-satunya harapan tinggal hidayah. Semoga suatu saat ia dapatkan, sebelum jadi model cover majalah Hidayah. Btw, pada dasarnya kaum LGBT ini care dan ramah.

Selama lo baikin niscaya dia ramah. Lo akrabin dia tambah ramah. Asal jangan lengah kalo lo gak mau dijamah. Ini serius. Saking care-nya, bagi LGBT laki-laki mereka akan inisiatif tanpa disuruh membetulkan letak organ kejantananmu jika mereka anggap melenceng saat pemiliknya lagi tidur. Hal terakhir ini jugalah yang membuat gue nyaris refleks menstarter rahang seseorang di antara mereka pake kaki. Tapi walaupun banyak yang begitu, gak semua juga seperti itu.

Ada beberapa LGBT gue kenal yang baik dari segi sikap dan konsisten menjaga kepercayaan dalam berteman. Kalo sudah curhat bisa sampe khusyuk banget, kalah deh jamaah Mamah Dedeh. Wajah boleh sianida, hati tetap krim soda. Tinggal ditawari bahu buat bersandar. Bahu jalan maksudnya. Eh iya, ada satu lagi perilaku dominan yang gue ingat, mereka cemburunya melebihi wanita. Catet. Lain LGBT lain pula SSA (Same Sex Attraction).

Kalo SSA kesannya lebih soft. Maksudnya kayak abis berendam di softener Soklin gitu? Oh, bukan. Lebih soft itu maksudnya mereka memang rada melambai tapi punya rasa malu juga. SSA ini sepertinya paham kodrat, tau kalo ini penyimpangan, ada kemauan berubah, tapi kadang susah melawannya. Artis yang kemarin kesandung kasus pelecehan terhadap calon artis kalo gue lihat sih bukan LGBT, tapi SSA. Buktinya ia menikah, sayang istri, dan bisa punya anak juga. CMIIW. Ini penilaian subyektif. Nah, menurut teori yang pernah gue baca bedanya LGBT dengan SSA itu kalo LGBT justru menganggap kelainan ini sebagai anugerah.

Karena dianggap anugerah, anunya pun jadi gerah. Gak cuma pasrah, mereka juga enggan berubah. Gak mau berobat apalagi bertobat, padahal setidaknya ke psikiater lah kalo memang gak menganggap itu sebagai penyakit. Jadi kesimpulannya gak usah berharap banyak mereka ini akan menegakkan kebenaran, sementara berupaya untuk menegakkan barang sendiri saja mereka udah malas. Kalo LGBT ama banci? Nah, ini beda lagi.

Gak semua banci itu LGBT. Banci itu bisa berupa laki-laki yang pada wanita gak segan memukul, laki-laki yang menghamili trus kabur, dan laki-laki yang membiarkan istrinya ngos-ngosan cari duit sementara dia cuma asik tidur. Eeh, sorry.. ini di luar konteks. Apa pun itu, menolak LGBT bukan berarti membenci pelakunya. Tetap berlaku adil dan memanusiakan manusia saja. Gue bilang begini bukan berarti permisif terhadap apa yang mereka lakukan.

Oh no way.. Sebagai orangtua yang punya anak, sampai kapan pun gue tetap menolak demi masa depan generasi. Apa lagi coba yang dicari? Ditungguin sampe kiamat kubro pun spermatozoid gak akan pernah sudi membuahi amandel, apalagi usus besar.

(Sumber: Kompasiana)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *