Jalan Malioboro: Jalan Raja Yang Semarak Dengan Untaian Bunga

Jalan Malioboro, adalah salah satu magnet utama bagi para wisatawan yang datang ke Jogjakarta.  Jalan ini jadi tempat belanja dan cuci mata yang mengasyikkan.  Salah satu pengalaman yang diburu para wisatawan, adalah berjalan kaki di bahu jalan sambil menawar aneka barang yang dijual oleh pedagang kaki.  Aneka cinderamata buatan lokal seperti batik, hiasan rotan, perak, kerajinan bambu, wayang kulit, blangkon, miniatur kendaraan tradisional, asesoris, hingga gantungan kunci semua bisa ditemukan dengan mudah.

Di jalan ini pula, para seniman sering mempertontonkan aksi dan karyanya.  Itulah pesona lebih lanjut yang bisa kita nikmati.

Lalu, adakah info unik mengenai jalan ini yang belum banyak diketahui publik? 

Ternyata, Jalan Malioboro ( bahasa Jawa:  Dalan Malioboro) punya cerita historis bernilai tinggi.  Situs Wikipedia menjelaskan, Malioboro adalah satu di antara tiga jalan di Jogkakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Secara keseluruhan terdiri dari Jalan Margo Utomo, Jalan Malioboro, dan Jalan Margo Mulyo. Jalan ini merupakan poros garis imajiner Kraton Jogjakarta.

Pada tanggal 20 Desember 2013, pukul 10.30 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X nama dua ruas jalan Malioboro dikembalikan ke nama aslinya, Jalan Pangeran Mangkubumi menjadi jalan Margo Utomo, dan Jalan Jenderal  Achmad Yani menjadi jalan Margo Mulyo.

Kapan jalan ini dibuat?  Dan mengapa pula dinamai Malioboro?

Jalan ini ternyata jalanan tua.  Ia telah ada sebelum Inggris pernah berkuasa di Tanah Jawa. 

Peter Brian Ramsey Carey , Emeritus Professor di Trinity College, Oxford, Inggris yang juga menjabat sebagai Adjunct Professor di Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia mengungkapkan aspek historis jalan ini

 “Jalan raya itu telah ditata dan digunakan untuk keperluan upacara tertentu sekitar lima puluh tahun sebelum Inggris berkuasa di Jawa,” demikian ungkapnya dalam tulisannya Jalan Maliabara ('Garland Bearing Street'): The Etymology and Historical Origins of a much Misunderstood Yogyakarta Street Name yang terbit dalam jurnal Archipel, Volume 27, 1984.  “Dan kemungkinan hal itu telah dikenal sebagai 'Jalan Maliabara' sejak awalnya.”

Sebagaimana kita ketahui, pembangunan Kota Jogjakarta sendiri terjadi sebagai imbas dari Perdamaian Giyanti yang ditandatangani pada 22 Rabiulakhir 1680 dalam kalender Jawa, atau 12 Februari 1755.  Perjanjian ini telah membagi kekuasaan Tanah Jawa menjadi Kasusunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta.

Maka, Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Sultan Hamengku Buwono I, kemudian membangun Kraton Kesultanan Ngayogyakarta.  Pembangunan bangunan inti kraton ini selesai pada 7 Oktober 1756, yang kemudian diperingati setiap tahunnya sebagai hari jadi Kota Yogyakarta.

Jalan Malioboro dibangun terkait dengan eksistensi kraton.  Jalan ini ditetapkan sebagai rajamarga yang berfungsi sebagai jalan raya seremonial yang membelah jantung kota, menautkan hubungan sakral nan filosofis antara Keraton dan Gunung Merapi.

Carey mencoba menengok tradisi dalam kota India dengan jalan raya utama yang membentang dari Timur ke Barat dan dari Utara ke Selatan. “Malioboro [Maliabara] membentang dari Selatan ke Utara,” ungkapnya, “dan kemungkinan sebagai rajamarga atau jalan sang raja.”

Sebagai jalan raya utama atau rajamarga, segala upacara penyambutan tamu agung sejak gubernur lenderal di zaman Hindia Belanda sampai presiden di zaman sekarang selalu melintasi jalan bersejarah tersebut.

Sebuah penanda kota di Jalan Malioboro yang akrab dijuluki warga sebagai "Ngejaman" lantaran terdapat jam listrik.

Lalu, darimanakah kata Malioboro terbentuk? Sebelum mengungkap itu, Carey menjelaskan pengaruh bahasa Sanskerta dalam penamaan di Kesultanan Ngayogyakarta.  Kata “Ngayogyakarta” rupanya berasal dari bahasa Sansekerta Ayodhya (bahasa Jawa: “Ngayodya).  Dari penjelasan Carey tersebut, sepertinya kita harus menghormati kearifan pendiri kota ini dengan tetap melafalkan "Yogya" meskipun nama kota ini kerap ditulis sebagai "Jogja".

Ayodhya, menurutnya, merupakan kota dari Sang Rama, seorang pahlawan India dalam wiracarita Ramayana.

Maka, seperti penamaan Ngayogyakarta,  Jalan “Maliabara”—atau yang biasa ditulis sebagai Malioboro—diduga Carey diadopsi juga dari bahasa Sansekerta “malyabhara”.

Istilah Sansekerta “malya” (untaian bunga), “malyakarma” (merawat untaian bunga), “malyabharin” (menyandang untaian bunga) menurut Carey dapat ditemukan dalam kisah Jawa kuno.
Ketiganya bisa dicari dalam kitab Ramayana abad ke-9, kitab Adiparwa dan Wirathaparwa abad ke-10, dan juga Parthawijaya abad ke-14. Sayangnya, ungkap Carey dalam jurnal tersebut, istilah tersebut tampaknya tidak ditemukan dalam naskah kontemporer yang berkait dengan pendirian Keraton Ngayogyakarta oleh Mangkubumi pada pertengahan abad ke-18.

Penjelasan Carey dalam jurnal tersebut secara arif menegaskan kembali bahwa Maliabara bukan berasal dari nama “Marlborough” yang mengacu kepada sosok orang Inggris, John Churchill, First Duke of Marlborough (1650-1722).

“Argumen yang pernah disampaikan beberapa pihak bahwa Keraton Yogyakarta mengganti nama jalan utama ibu kota mereka karena begitu terkesan dengan Inggris dan Letnan-Gubernur Thomas Stamford Raffles,” tulis Carey, “harus jelas ditolak sebagai alasan yang tidak masuk akal.”

Dari penjelasan Carey, bisa disimpulkan bahwa leluhur Kota Yogyakarta telah menetapkan nama “Maliabara” dengan merujuk bahasa Sansekerta “malyabhara”.  Merujuk pada itu, kita bisa mengartikan Jalan Malioboro sebagai secara estetik,  “seruas marga sang raja dengan semarak untaian bunga-bunga”.

Tags: 
Saturday, November 14, 2015 - 14:00
Kategori Rubrik: