Jakarta Udah Seperti Kota Keren di Dunia

Oleh : Renny Fernandez

5 tahun lalu saya ke London. Saya memperhatikan kota ini begitu indah. Maklum, pertama kali ke Eropa, ya ke sini. Jadi saya ngga punya perbandingan sebelumnya. Saya bahagia banget bisa ada di London.

Ketika pergi ke tempat-tempat penjual souvenir, banyak sekali pernak-pernik bentuk bus-bus tingkat. Bus tingkat warna merah ini dijadikan semacam icon kota London. Pasti temen-teman juga tau kan?

Pulang dari beli souvenir, saya berniat mencoba naik bus tingkat warna merah tadi. Saya nikmati perjalanan saya keliling kota London menggunakan bus tingkat, sambil dalam hati tersirat: kapan ya Jakarta punya bis tingkat seperti ini?

Tapi saya langsung meralat harapan saya sendiri, gila apa? Ya, ngga mungkin lah. Mau sampe LEBARAN KUDA juga Jakarta ngga bakalan punya. Ga usah ngarep ‘Ren!

Sama juga ketika saya jalan-jalan ke Korea Selatan. Duduk di pinggir sungai di tengah kota, saya lupa nama sungainya. Pokoknya saat itu, perasaan saya senang banget: lihat air sungai yang jernih, di pingiran sungainya ada pedistrian, tempat jalan untuk orang-orang menikmati sungai yang tertata rapi dan bersih. Lalu kembali tersirat membayangkan kondisi sungai di Jakarta, langsung drop shay… Dalam hati ngomong sendiri, nggak akan ketolonglah sungai di Jakarta, ga bakal kaya gini (menatap nanar sungai di Korsel). Maklum, sungai-sungai di Jakarta kita tahukan, kondisinya penuh sampah, air warna hitam dan bau. Euuw….

Saya mau cerita lagi ketika saya ke Malaysia 4 thn lalu, menikmati naik MRT-nya. Sambil menikmati nyamannya duduk di MRT, sambil ngayal saya bertanya, kapan ya Allah Jakarta punya beginian? Sedih banget. Masak sama negara tetangga aja kalah banget fasilitasnya? Tapi sekali lagi, saya menyadarkan diri saya dan bilang pada diri sendiri, ngga usah mimpi lah Ren, cape-capein pikiran aja.

Pengalaman yang lain lagi. Ketika 10 tahun lalu ke Singapura untuk pertama kali mengunjungi teman yang tinggal di kawasan perumahan susun alias rusun. Temanku tinggal di rusun yang tidak besar tapi nyaman. Saya bertanya, ini apartemen? Mereka jawab: bukan, ini rusun yang disediakan pemerintah kami untuk warga yang ngga mampu tinggal di apartemen, selain hemat lahan, warga yg kurang begitu mampu untuk beli apartemen sendiri difasilitasi untuk tinggal di sini dengan bayar sewa yang sangat murah. 87 persen warga Singapura tinggal di rusun-rusun pemerintah. Mau mikir lagi? Kapan Jakarta begini? Kagak kepikiran saking hopelessnya.

Atau pengalaman 2 tahun lalu ke Belanda. Ada kerabat di sana, semoga baca tulisan ini, yang saat saya di sana sedang mengantar anaknya yang sakit demam ke dokter. Lalu saya tanya, mahal ngga kak biaya dokter di sini? Kakak saya jawab, engga Ren, di Belanda semua biaya pengobatan dan rumah sakit gratis ditanggung pemerintah. Ya Allah, kok bisa ya? Sementara di Jakarta, sakit aja ngga mau dirasa-rasa karena takut berobat mahal. Sampe ada sebuah kalimat yg populer: orang miskin ga boleh sakit, Mahal!

Dalam hati, saking hopelessnya bilang: MAU SAMPE LEBARAN KUDA (lagi) ngga bakal deh kejadian di Jakarta.

Tapi 5 tahun belakangan ini terjadi fenomena keajaiban di Jakarta dan Indonesia secara umum.

Kemarin, tiba-tiba saya melihat bus tingkat warna merah melintas di Jalan Thamrin. Lalu saya juga lihat sungai-sungai Jakarta mulai bersih dan bening. Saya juga find out rusun-rusun sudah banyak dibangun di Jakarta. Sudah ada 14 rusun. Saya juga sudah mendatangi langsung ke 4 lokasi untuk sekedar memenuhi kekepoan ada apa aja di sana: apakah rusunnya sama seperti rusun tempat teman saya di Singapura tinggal?

Dari kekepoan itu, saya pun tahu kalau warga bayar rusun 2 kamar dengan harga sangat murah, 180 ribu s/d 281 ribu perbulan. Ada fasilitas ruang terbuka, ada fasilitas bermain untuk anak-anak, perpustakaan dgn fasilitas AC, ada mesjid, ada puskesmas dgn biaya pengobatan gratis, ada bus sekolah tiap pagi mangkal depan rusun dan jemput anak-anak rusun tiap pulang sekolah. Penghuni rusun juga naik busway kemanapun gratis dengan hanya nunjukin KTP Rusun.

Belum lagi cerita-cerita tentang teman-teman dan saudara-saudara yang sekarang bisa berobat menggunakan BPJS. Bahkan om saya pasang ring di jantung 2 biji gratis ditanggung BPJS.

Hanya dalam waktu hampir 5 tahun, iya cuma 5 tahun, tidak sampai Lebaran Kuda, hal-hal yg tadinya saya anggap cuma harapan semu, khayalan di siang bolong, akhirnya bisa terjadi di Jakarta.

Kenapa ini??!! Kok bisa?!

Padahal kan sekarang, katanya yang menolak Ahok jadi gubernur, Jakarta dipimpin oleh gubernurnya Cina, kafir, fasis, kasar, yang tidak berpihak ke rakyat kecil, koruptor, diktaktor, kotor, dan tor tor lainnya! Bahkan sekarang malah dibilang penista agama. Sedihnya..

Tapi yang jelas saya bersyukur karena sekarang bisa menikmati Jakarta yang keren luar biasa, seperti kota-kota yang pernah saya kunjungi. Harapan-harapan saya ketika berkunjung ke kota-kota yang saya anggap keren terpenuhi di bawah kepemimpinan Ahok. Ini juga berdasar data survey sekitar 75℅ warga Jakarta mengakui prestasi Ahok ini.

Anyway, terimakasih sudah membaca kegalauan saya saat ini. Saya galau karena kita udah mengakui kerja nyata Ahok tapi masih ada yang ragu memilihnya karena isu SARA. Semoga kita sebagai warga Jakarta tidak lagi kehilangan harapan.**

Sumber : Jakartaasoy

Thursday, March 9, 2017 - 09:30
Kategori Rubrik: