Jakarta Jangan dikuasai Islam Radikal

REDAKSIINDONESIA-Di Masa Pilkada Jakarta ini, muncul kekhawatiran berkuasanya Islam radikal di Jakarta, karena pasangan calon nomor 3 didukung oleh kelompok-kelompok intoleran, seperti Front Pembela Islam, Forum Umat Islam, Hizbut Tahrir Indonesia, Majelis Mujahidin Indonesia, dan Gerakan Pengawal Nasional Fatwa Majelis Ulama Indonesia. Ditambah lagi dengan adanya aksi massa yang terus menerus dimobilisasi oleh kelompok-kelompok ini.

Belajar dari pengalaman negara-negara yang dikuasai Islam Radikal, seperti Taliban di Afghanistan, Boko Haram di Negeria, dan ISIS di Irak dan Suriah, yang menjadi korban pada umumnya adalah kaum perempuan. Maka dari itu, arus besar Islam radikal di Jakarta ini harus diantisipasi karena berpotensi melakukan diskriminasi terhadap kaum perempuan.

Pernyataan di atas disampaikan dalam konferensi pers yang menghadirkan Prof. Dr. Musdah Mulia, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta & ketua umum Indonesia Conference Religious and Peace (ICRP), dan Dr. Syafiq Hasyim, Pengurus besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta siang ini Jumat 31 Maret 2017.

Menurut Musdah, pada hari ini Jakarta sudah sangat baik karena memberikan ruang yang sama terhadap kaum perempuan untuk ikut berpartisipasi dalam membangun Jakarta.

Dalam pernyataan pers yang dibacakan oleh Syafiq ditegaskan bahwa belajar dari negara-negara yang dikuasai oleh Islam Radikal pada umumnya yang menjadi korban adalah warga miskin. Jika orang miskin yang mencuri, maka tangannya dipotong. Tapi jika yang mencuri orang kaya, hukum cenderung tumpul. Korupsi, kolusi, dan nepotisme menjadi salah satu pemandangan yang mencolok dari negara yang dikuasai oleh Islam Radikal.

Baik Musdah maupun Syafiq sepakat, Jakarta saat ini sudah sangat kondusif, karena Islam yang sudah berlaku di Jakarta adalah Islam rahmatan lil ‘alamin. Di mana Islam sangat menjunjung tinggi harkat & martabat perempuan dan memberikan keberpihakan terhadap warga miskin yang lemah dan tertindas (al-mustadh’afun).

“Kita harus mendorong Islam yang ramah seperti NU dan Muhammadiyah menjadi model di Jakarta, bukan Islam Radikal yang diskriminatif terhadap perempuan dan warga miskin,” tegas Musdah. **

Sumber: jakartaasoy

Saturday, April 1, 2017 - 15:00
Kategori Rubrik: