Jakarta Itu Bukan Milik Muslim Saja

Ilustrasi

Oleh Prof Sumanto Al Qurtuby

Orang-orang arogan, bebal, rabun, dan pikun memang gentayangan dimana-mana sejak zaman batu sampai zaman Internet sekarang ini. Dari New York sampai Jakarta selalu ada orang2 model beginian. Gerakan memobilisasi massa sejumlah kelompok Islam untuk membendung laju Ahok ke bursa pencalonan gubernur hanya karena ia seorang Kristen yang dianggap tidak pantas memimpin Jakarta yang mayorias Muslim hanyalah secuil contoh dari mahluk2 arogan, bebal, rabun, dan pikun tadi.

Arogan karena merasa diri mayoritas sehingga bisa berbuat seenak perutnya sendiri terhadap kelompok minoritas. Bebal karena tidak mampu menganalisis sepak-terjang & aneka kemajuan yg diperoleh Ahok selama memimpin Jakarta. Rabun karena tidak bisa melihat betapa banyak para pemimpin agama, termasuk Muslim, yang menindas kelompoknya sendiri meskipun sesama agama dan seiman. Pikun karena gagal paham memahami sejarah dan fakta pluralitas Jakarta dan Indonesia.

Area yang sekarang bernama "Jakarta" sudah ada jauh sebelum kaum Muslim datang di kawasan ini. Umat Islam dan juga umat agama lain adalah tamu di Jakarta, bukan tuan rumah. Sejak zaman bahula, Jakarta bukan hanya dihuni oleh kaum Muslim tetapi juga umat agama lain. Indonesia bukanlah "negara Islam". Bukan pula negara yang didirikan atas dasar etnisitas. Indonesia adalah negara yang berdasar Konstitusi yang tidak ada larangan bagi siapapun, agama & etnik manapun, untuk ikut berkompetisi dalam bursa kepemimpinan.

Jangan bawa2 agama ke dalam urusan kepolitikan. "Mengagamakan politik" adalah sebuah "kekeliruan epistemologis" dan berpotensi membahayakan tatanan sosial-kemanusiaan. Kepemimpinan adalah soal "kualitas" bukan soal agama ini dan itu. Jika ada calon gubernur Muslim yang lebih berkualitas daripada Ahok, tunjukkan ke saya, saya pun dengan senang hati akan mendukungnya bukan karena Islamnya tapi karena kualitasnya...

Pengajar di King Fahd University Saudi Arabia

Sunday, February 28, 2016 - 15:00
Kategori Rubrik: