Jakarta Banjir Lagi, Tangkap Air Kau Kujitak, Muin Toa

Oleh: Rudi S Kamri

Hari ini Sabtu (18/1/2020) sebagian wilayah Jakarta banjir lagi. Kali ini Anies dan Muslim Muin tidak bisa menyalahkan air kiriman dari Bogor karena banjir yang terjadi diakibatkan curah hujan yang tinggi di wilayah Jakarta. Tentu saja banjir kali ini tidak terkait dengan mandegnya program normalisasi sungai Ciliwung atau sungai yang lain. Dan juga tidak terkait dengan program naturalisasi (baca: kolamisasi) program andalan Gubernur DKI Jakarta yang digagas oleh ahli tangkap air yang juga anggota Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) Muslim Muin.

Namun banjir di Jakarta kali ini tidak lepas dari ambruknya teori Muslim Muin tentang tangkap air. Dalam suatu acara talk show di Kompas TV beberapa hari lalu dimana saya juga menjadi salah satu narasumbernya, Muslim Muin ini bertele- tele menjelaskan bahwa air hujan itu seharusnya ditangkap dulu, kemudian dimanfaatkan seperlunya lalu sisanya dialirkan ke sungai. Lalu bagaimana prakteknya ? Air hujan dimanfaatkan untuk apa ? Please jangan ditanya hal ini pada Muslim Muin. Karena dia pasti akan menjawab muter-muter tidak jelas dan ujungnya kita gemes pingin nampol.

 

Teori pembuatan jutaan biopori yang digagas Muin untuk Jakarta sudah pasti tidak akan menuntaskan kasus banjir di Jakarta akibat curah hujan tinggi. Salah penyebabnya adalah Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta sudah sudah sangat minim dan kondisi pemukiman di Jakarta yang langka punya halaman luas untuk menyerap air. Disamping itu kapasitas tanah untuk menyerap air juga punya limitasi. Sehingga mau tidak mau air akan tetap menggenang kemana-mana.

Menurut saya, satu-satunya jalan yang harus dilakukan oleh Pemda DKI Jakarta adalah memperbaiki sistem drainase di seluruh penjuru kota Jakarta. Hal ini yang tidak dilakukan oleh Gubernur Jakarta dan jajarannya. Dulu jaman Ahok ada petugas Pemelihara Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) baik yang berbaju oranye maupun berbaju biru yang siaga setiap saat tujuh hari dalam seminggu. Tugas mereka membersihkan saluran air dari sampah dan membersihkan sungai- sungai Jakarta dari sumbatan sampah. Tapi cilakanya saat ini peran tenaga PPSU sudah disusutkan oleh Anies Baswedan. 

Penghapusan atau pengurangan secara drastis PPSU adalah blunder terbesar Anies dalam mengantisipasi banjir besar di Jakarta. Dia lebih memilih mendengar teori acak kadut dari seorang Muslim Muin yang selalu menggunakan bahasa langit. Tapi saat ditanya dengan bahasa bumi dia glagepan 'auueo' kayak remaja yang sedang asyik nonton film bokep kepergok bapaknya. 

Keberadaan Anies dan Muslim Muin adalah bencana terbesar bagi penduduk Jakarta. Kolaborasi keduanya membuat Jakarta menjadi kolam raksasa. Bencana banjir ini semakin merajalela kalau Anies dan Muin tetap kekeuh kumekeh tidak mau mendukung dengan sepenuh hati program normalisasi sungai yang akan dijalankan oleh Pemerintah Pusat cq Kementerian PUPR.

Ujungnya sahabat saya sang advokat pembela rakyat Azas Tagor Nainggolan akan semakin sibuk menggugat class action kepada Gubernur DKI Jakarta.

Hmmm.....semua gara-gara si Muin Toa.

 

(Sumber: Facebook Rudi S Kamri)

Saturday, January 18, 2020 - 15:45
Kategori Rubrik: