Jahatnya Si Pemelintir Informasi

Oleh: Birgaldo Sinaga 

Tere Liye. Nama yang tidak asing lagi bagi banyak orang. Tere Liye dikenal bukan sekedar penulis novel, tapi juga orang politik yang tulisannya diklaimnya kritikan yang tidak berpihak. Tapi sesungguhnya sangat berpihak. Berpihak pada kebencian. 

Jika orang awam membaca kritikannya, terkesan tidak berpihak. Menulis agar terlihat tidak berpihak sejatinya taktiknya agar tulisannya punya dasar keberpihakan kepada rakyat. Bukan pada kelompok atau golongan. Kamuflase. 

 

Kemarin di beranda saya muncul tulisannya. Tulisan tentang ratusan bus Trans Jakarta yang teronggok jadi besi tua. Nilainya spektakuler. Ratusan milyar. 

Begini Tere menulis:
Kejamnya Korupsi

Foto ini saya ambil dari CNBC Indonesia (Muhammad Sabki), foto ini adalah hamparan 450 lebih mobil Trans Jakarta yang menjadi besi tua. Dulu, mobil ini tentu kinclong semua. Sekarang jadi besi tua di lahan kosong.

Jadi begini ceritanya, tahun 2013 di DKI Jakarta, periode gubernur beberapa waktu lalu; mereka membuat tender pengadaan bus transjakarta. Nilainya sekitar 500 milyar. Pemenang diumumkan. Ehh, ternyata, tender itu bermasalah. Ada yang bersekongkol. Pengadilan digelar. Ada yang masuk penjara, ada yang tidak. Semua perjanjian dibatalkan oleh pengadilan. Masalahnya, DKI jakarta sudah bayar 110 milyar buat beli ini mobil sebagai DP, uang muka. Itu duit sudah dibayarkan, dan dibelikan bus2 ini. Ketika ketahuan ada permainan, semua batal, maka lenyap sudah semua. Uang sudah dibayar, bus jadi besi tua"

Kontan postingan Tere viral. Sampai hari ini sudah dishare hampir 34 ribu akun. Ada 9184 komentar. Dan diberi emot 43 ribu akun. 

Saya sampai geleng2 kepala sama Tere ini. Kok bisa dibenaknya muncul niat jahat memelintir peristiwa usang kasus tahun 2013 ini. Kasus yang membuat Ahok berang dan mencak-mencak karena anak buahnya bermain mata dengan pengusaha import bus China.

Tere menulis:
"Dulu, mobil ini tentu kinclong semua. Sekarang jadi besi tua di lahan kosong".

Hello Tere...bus-bus asal China itu waktu masuk ke Jakarta sudah karatan. Banyak ditemukan onderdil rongsok dan karatan saat diperiksa. Ahok marah. 

Tapi Dishub DKI ngotot menerimanya. Dipakailah alasan asas manfaat didasarkan dari aturan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah yang menyebutkan meskipun melanggar peraturan, bus yang lebih dari 50 hari bisa diterima karena adanya asas manfaat.

Ahok menolak lagi. Ia meradang. Ahok menolak permintaan Dinas Perhubungan untuk menerima bus-bus China yang sempat bermasalah dengan alasan asas manfaat.

"Sudah aku tolak. Aku bilang jangan gila kamu pakai asas manfaat. Mana ada terima bus China karena asas manfaat," ujar pria yang akrab disapa Ahok itu di Balaikota DKI Jakarta, Kamis (27/3/2014).

Ia mempertanyakan mengapa bus-bus China yang telah terbukti berkualitas buruk karena ditemukan rusak dan karatan, Dishub rela menerima dengan alasan asas manfaat karena Jakarta kekurangan bus. Sedangkan, terdapat 30 bus sumbangan dari swasta yang justru dipersulit dengan banyaknya peraturan.

"Yang asas manfaat untuk bus sumbangan nggak ada. Kenapa nggak asas manfaat itu diberlakukan juga di bus pemberian swasta? Jadi saya tolak. Biarin aja bus berkaratnya. Biar dia tuntut. Kalah, baru kita bayar," tegas Ahok.

Dari kronologis peristiwa tender bermasalah Bus Trans Jakarta ini Tere memelintir cerita seolah-olah korupsi bus trans Jakarta terjadi karena persekongkolan Ahok dengan pengusaha bus. 

Coba perhatikan narasi Tere : "Jadi begini ceritanya, tahun 2013 di DKI Jakarta, periode gubernur beberapa waktu lalu; mereka membuat tender pengadaan bus transjakarta. Nilainya sekitar 500 milyar. Pemenang diumumkan. Ehh, ternyata, tender itu bermasalah. Ada yang bersekongkol. Pengadilan digelar. Ada yang masuk penjara, ada yang tidak"

Mari kita bahas narasi Tere. 
Siapa mereka yang membuat tender? Gubernur periode lalu.
Tender itu bermasalah. Ada persekongkolan. Siapa? Gubernur periode lalu. 

Lalu pengadilan digelar. Ada yang masuk penjara, ada yang tidak. Siapa yang masuk penjara? Udar Pristono Kadishub DKI Jakarta. Siapa yang tidak masuk penjara? Gubernur periode lalu. Siapa gubernur periode lalu? Jokowi dan Ahok.
Mengapa? 

Nah lihatlah betapa jahatnya Tere Liye membingkai cerita terselubung agar pembaca tanpa sadar langsung menuding bahwa gubernur periode sebelumnya bersekongkol menggarong uang rakyat dengan proyek abal-abal. Karena ketahuan akhirnya ada yang masuk penjara. Sementara bosnya tidak masuk. 

Betapa jahatnya kamu Tere Liye. Jahat sekali kamu. Talenta menulismu kamu pakai untuk menipu pembacamu dengan permainan kalimat yang samar tapi membunuh. Persis seperti hembusan asap candu. Membuat pembaca tertipu pada realitas bodong yang kamu bangun. 

Tere mengapa kamu bisa sejahat ini? Mengapa kebencianmu pada Ahok begitu sempurna? Apa sih isi hatimu? Darah hitam kebenciankah? 

Saya mau beritahu kamu, kalau bukan Jokowi Ahok yang menolak bus karatan itu maka uang 550 milyar akan lenyap. Untunglah Ahok tahu lalu membatalkan pembayaran berikutnya. Hanya uang muka 110 milyar yang hilang. Tapi Pemprov DKI masih menuntut pengembalian uang muka itu sampai sekarang. Itulah penyebab mengapa bus karatan itu teronggok di sana. 

Cerita pemesanan bus itu kayak kamu mau cetak novel di percetakan. Kamu pesan mau cetak 50 ribu examplar. Lalu anak buahmu kirimkan spesifikasi novel kamu dengan jenis kertas, font huruf dan warna. Kamu dan pihak percetakan deal harga dengan spesifikasi yang kamu minta. 

Lalu, agar perjanjian bisnis itu sah, kamu diminta bayar DP 20 persen. Lalu kamu bayarlah uang muka itu. Novel pun dicetak. 

Lalu setelah selesai dicetak novel diantar ke rumah kamu. Kamu periksa novel itu. Ternyata novel itu tidak memenuhi spesifikasi yang kamu tetapkan. Jenis kertasnya beda. Tebal kertasnya beda. Kualitas tintanya beda. Pokoknya jelek. Spesifikasi tak masuk.

Kamu marah bukan? Marah pada siapa? Sama anak buahmu bukan? 

Selidik punya selidik anak buahmu bersekongkol dengan pihak percetakan untuk mengurangi standar spesifikasi yang telah kamu tetapkan. Dia korupsi. 

Lalu anak buahmu merayu kamu. Daripada mubazir terima saja. Bayar sisa 80 persen lagi. 

Trus kamu bilang apa? 

Terima? Tolak? 

Nah Ahok menolak permintaan anak buahnya itu. Tak ada ampun. Malahan anak buahnya itu dimasukkan ke penjara oleh Ahok. Ahok tak peduli dengan asas manfaat atau alasan busuk lainnya. Baginya kalau tidak sesuai spesifikasi yang telah ditetapkan harus ditolak. Tanpa negosiasi. Selamatlah warga Jakarta dari bus-bus busuk itu. Selamatlah uang 440 milyar dari penggarong itu. 

Gue miris liat kamu Tere. Kemampuanmu menulis kamu pakai untuk beginian. Adillah sejak dalam pikiran. Jangan gunakan otakmu untuk memanipulasi informasi agar orang ikutan membenci dan mengutuk orang yang kamu benci. 

Shame on you Tere. 

Salam perjuangan penuh cinta 

(Sumber: Facebook Birgaldo Sinaga)

Monday, July 29, 2019 - 20:15
Kategori Rubrik: