Jagung

ilustrasi

Oleh : Kokok Herdhianto Dirgantoro

RI produksi jagung, kalau berdasarkan data, mencapai 23-27 juta ton. Tentu saja data ini susah dipercaya karena kebutuhan lokal sekitar 12jt ton. Surplus 15 juta ton seharusnya mengerek turun harga jagung pakan karena supply meningkat. Yg terjadi justru harga jagung pakan yg biasanya 3.700-4.000/kg melambung hingga Rp6.300/kg. Peternak nangis.

Namun bahasan saya bukan tentang kesedihan itu. Ada 3-5% produksi Jagung yg unik. Ada Jagung pulut (glutinuous corn) alias jagung ketan. Varietas yg saya kenal adalah Kumala. Ada juga Jagung warna putih sembur sebagian ungu yg mengandung anti oksidan. Varietasnya bernama Rasanya. Kemudian ada Jagung berwarna Ungu seluruhnya. Varietas yg tadi dikenalkan saya namanya Jantan. Kepanjangannya Jagung anti oksidan. Yg kuning adalah Jagung manis alias sweet corn. Tadi yang saya temui adalah varietas Bonanza.

Yg putih, sembur putih ungu dan ungu tidak terlalu manis tapi sgt pulen. Makan sedikit saja kenyang sekali. Yg kuning manis dan relatif lebih lunak. Oya, kalau direbus, yg jagung ungu, airnya boleh diminum utk anti oksidan.

Saya berkesempatan melihat langsung tanaman jagung manis dan varietas Jantan di kampung Rawalini, Desa Teluk Naga, Kec Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Yang jagung ungu ternyata sampai batang tanamannya ungu juga.

Saya memandang hamparan tanaman kangkung, bayam merah, sawi, melon golden, melon cantaloupe, kemangi, ubi kayu, ubi jalar dan tentunya jagung.

Lokasinya tak jauh dari bandara Soetta. Saya mengalami batin yg campur aduk. Melihat kebahagiaan petani sembari waswas dgn merangseknya pembangunan bandara sebagai sebuah konsekuensi pertumbuhan volume ekonomi dan masyarakat.

Saya kepikiran petani di sana. Sungguh yg saya temui anomali. 80% petani nasional berusia 52 tahun, di Rawalini 80% berusia 20-40 tahun. Samar2 saya dengar pendapatan kelompok tani setempat hasil jualan sayur dan buah mencapai Rp500 juta/minggu. Sayangnya saya tak sempat menggali informasi berapa jumlah petani dlm kelompok tani tsb, berapa yg punya hak pilih... halah lambemu Kok. Juga berapa total luas lahan.

Ketika pulang dari sana, saya melihat pesawat datang dan pergi tak jauh dari lokasi. Pikiran saya kembali dipenuhi keparnoan. Sampai kapan petani di sekitar akan bertahan hingga akhirnya menyerah pergi demi pelebaran bandara di masa depan.

Saya akan selalu bersama mereka. Dgn atau tidak dengan ontran2 politik.

Sumber : Status Facebook Kokok Hardhianto Dirgantoro

Sunday, January 27, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: